Subscribe Us

6/recent/slider

Entri yang Diunggulkan

Luka Bercerita

Kau tahu apa tentang kesedihan? Kesedihan adalah hujan di saat kemarau; langit menetes ketika bumi tak lagi berharap, dan tak seorang pun me...

Selasa, 10 Desember 2024

Titisan Cinta di Pagi yang Merayu

 Titisan Cinta di Pagi yang Merayu

Karya: Sugmalia Larasati


Di pagi yang memeluk sinar mentari,

Titisan cinta merayu dalam gemerlap fajar.

Embun-embun asmara merintik halus,

Mengukir kisah di dedaunan yang rapuh.


Pada belahan dunia yang masih terlelap,

Cinta tumbuh bak bunga di taman hati.

Bisikan angin membawa pesona sayap,

Menari-nari di antara daun yang gugur.


Langit membentangkan kanvasnya yang biru,

Sebagai latar belakang puisi cinta yang terukir.

Pagi merayu dengan pelukan hangat,

Seperti dekap matahari pada sang bumi.


Titisan cinta membasahi setiap helai daun,

Menyapa bunga-bunga yang berkisah diam.

Suara burung bernyanyi sebagai saksi,

Rahasia asmara yang tercipta di pagi ini.


Dalam sentuhan embun, terungkaplah rasa,

Sebuah peluk erat dari kelembutan pagi.

Puitis langit memancarkan sinarnya,

Menjadi saksi bisu titisan cinta yang merayu.


Cahaya matahari menyusup di antara pepohonan,

Menyinari jejak langkah kasih yang terhampar.

Bunga melengkung, merasakan belaian sang waktu,

Seolah mendengar lagu asmara yang tak berujung.


Titisan cinta terjalin dalam seraut wajah,

Senyum yang merekah, canda yang mengalun.

Pagi merayu dengan segala keindahan,

Menjadi saksi bisu perjalanan cinta yang tercipta.


Di pelukan pagi yang sarat makna,

Titisan cinta tumbuh bak kembang yang mekar.

Merayu dalam pelukan tak terlihat,

Namun dirasakan dalam getaran hati.


Oh, pagi yang merayu dengan cinta yang titis,

Titisan embun jadi saksi bisu keabadian.

Kisah di pagi ini menjadi puisi panjang,

Yang mengalir indah dalam alunan waktu.


0 comentários:

Posting Komentar