Subscribe Us

6/recent/slider

Entri yang Diunggulkan

Luka Bercerita

Kau tahu apa tentang kesedihan? Kesedihan adalah hujan di saat kemarau; langit menetes ketika bumi tak lagi berharap, dan tak seorang pun me...

Senin, 04 Desember 2023

 Tuhan, di sini aku

Karya: elnahdi


Tuhan, di sini aku terlahir

dalam bisingnya makhlukMu


Tuhan, di sini aku bernafas

dalam pekatnya asap hitam peledak


Tuhan, di sini aku mendengar

jerit tangis manusia yang tak berdosa tiap detiknya


Tuhan, di sini aku bertahan

demi al AqsaMu yang mulia


Tuhan, di sini aku berharap

semoga engkau segerakan janji kemenanganMu kepada kami

Semoga segera usai genosida tanpa rasa iba

Semoga saja

Aamiin

 TASAWUF AMALI : AMALIAH MUJAHADAH DI PONDOK PESANTREN AL-HASYIMI DESA SALAKBROJO

Oleh : M. Lutfan Zaky, Lia azania


Salah satu hal yang harus ditempuh oleh seorang sufi sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah yaitu mujahadah. Mujahadah (berjuang melawan hawa nafsu) adalah menyepihnya, membawanya keluar dari keinginan-keinginan yang tercela dan mengharuskannya untuk melaksanakan syari’at Allah, baik perintah maupun larangan. Menurut Al-Shadiqi, bahwa mujahadah itu ialah kemampuan diri untuk menekan dorongan hawa nafsu yang selalu ingin berbuat hal-hal yang buruk, lalu mampu memaksanya untuk berbuat hal-hal yang baik. (Fahrudin, 2016)

Kata mujahadah berasal dari kata jihad, yang artinya “berusaha dengan sungguh-sungguh dengan mengerahkan segala kekuatan pada jalan yang diyakini baik dan benar”. Dalam pengertian kaum sufi, mujahadah yaitu “upaya spiritual melawan hawa nafsu dan berbagai kecenderungan jiwa rendah”. Mujahadah adalah perang terus menerus melawan hawa nafsu, dan perang ini dianggap sebagai perang besar (al-jihad al-akbar), dan perang ini menggunakan senjata samawi berupa dzikir kepada Allah. Sedangkan menurut Al Qusyairi, mujahadah adalah suatu upaya untuk membebaskan diri dari kekangan hawa nafsunya yang menjadi sifat manusiawi, dan berusaha mengendalikan diri serta tidak memperturutkan kehendaknya dalam kebanyakan waktu. Al-Ghazali mendefinisikan mujahadah sebagai pengerahan kesungguhan dalam menyingkirkan nafsu dan syahwat atau menghapuskannya sama sekali. Menurut Ali Ar-Rudzbari, bahwa prinsip mujahadah pada dasarnya adalah mencegah jiwa dari kebiasaan-kebiasaannya dan memaksanya menentang hawa nafsunya sepanjang waktu. (Fahrudin, 16)

Pondok pesantren Al-Hasyimi dibawah asuhan Kiai Nur Chamim Udrus, yang terletak di desa Salakbrojo mempunyai amalan mujahadah tersendiri yaitu Nihadlul Mustaghfirin.

Setiap pesantren biasanya memiliki amaliah mujahadah yang berbeda-beda namun tetap terhubung sanadnya sampai Rasulullah. Di salah satu Pesantren didesa salakbrojo ada mujahadah mengamalkan Nihadul Mustaghfirin yang mana kiai dari pondok tersebut merupakan santri dari Tegalrejo. Al maghfurlah  KH. Achmad Muhammad yang sering di panggil Gus Muh Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah adalah salah satu ulama' yang paling dekat dengan kaum abangan, beliau sering sekali berkumpul berbaur dengan masyarakat yang masih gelap gulita. belum kenal dan bahkan tidak tahu kebenaran yaitu agama Islam, dalam misinya beliau ibarat Obor (Jawa) yang menerangi dalam kegelapan.

Dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, selain melalui dunia pesantren beliau juga mendatangi setiap daerah ke pelosok dan lain sebagainya bukan hanya ta'lim wa ta'alim. Melalui mujahadah Nihadlul Mustaghfirin beliau aktif dalam perjuangan memajukan agama, bangsa dan negara, bukan hanya itu demi I'la I Kalimatillah 'Ala Thoriqotil Ba'dli Auliya'i Tis'ah. Ulama yang juga gemar dengan adat Jawa ini melalui PBA (Pawiyatan Budaya Adat) tiap bulan sya'ban beliau mengumpulkan beberapa kesenian. Beliau pun mengajak kepada semua untuk ikut berbaur mencari pahala yang lebih baik dari dunia seisinya yaitu kenikmatan keabadian yang nyata surga tempatnya.

Dalam kesehariannya beliau suka merendah tak mau di puja apalagi di muliakan. Dari beberapa cerita beliau tidak mau di panggil almukarom atau kiai, lebih suka di panggil gus atau mas, dari situlah beliau dekat dengan siapa saja tanpa membeda bedakan dan tidak pernah mencela seseorang, Karna pada hakikatnya tidak dibenarkan mencela seorang pun dari makhluk Allah. Pelaku kesesatan, pelaku maksiat maupun orang kafir. Selama mereka masih hidup pada hakikatnya masih mempunyai peluang yang sama peluang untuk berubah.

Wama arsalnaaka illa rohmatan lil aalamin,

Nabi Muhammad SAW diutus untuk mengayomi seluruh umat manusia semuanya, dan tak peduli etnis, suku dan apa agamanya. Bukan orang atau pelaku yang salah paham atau pelaku kesesatan kesalahpahaman tapi kesesatan yang harus di luruskan. Bukan pelaku maksiat (orangnya) tapi perbuatan maksiat yang harus di cela . Celalah kekafiran namun jangan mencela orang kafir. Pesan beliau (Gus muh) jadilah orang yang bermanfaat, khoirunnas anfauhum linnas, dapat mengayomi masyarakat tanpa terkecuali.

Amalan mujahadah Nihadzul Mustaghfirin yang ada di Pondok Pesantren Al-Hasyimi  dilakukan setiap malam jum’at. Tapi semisal mau dilakukan setiap malam juga lebih baik karena kalau alumni Pondok Pesantren Tegalrejo sendiri melakukannya setiap malam. Mujahadah sendiri bersifat kondisional tidak harus baiat, kalau ada orang yang belum pernah mengikuti mujahadah lalu mengikutinya untuk pertama kali itu sudah termasuk diijazahi atau baiat.

Selanjutnya Kiai Nur Chamim Udrus mengajak santri-santrinya untuk bermujahadah di mushola Al-Istiqomah di desa Salakbrojo, untuk menarik masyarakat sekitar supaya mengikuti mujahadah tersebut. Dan kegiatan mujahadah di mushola Al-Istiqomah dilaksanakan satu bulan sekali setiap malam jum’at kliwon.

Tujuan diadakannya amalan tersebut ialah:

Menumbuhkan spiritualitas masyarakat sekitar

Mendirikan rutinitas keagamaan setiap bulannya

Menciptakan kehidupan bermasyarakat yang damai, tenang, teratur serta terarah.

 "Kehidupan tak lepas dari masalah. Namun ketika masalah datang, biasanya hati jadi tak tenang. Dengan dzikir kepada Allah akan menenangkan hati". Hal ini agar tercipta ketentraman diri yang tentunya akan berpengaruh pada ketentraman lingkungan.


Referensi

Fahrudin (2016). Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta’lim. 65-69.

Riswanto Cahyo,  M. (2020). Pendidikan Akhlak Tasawuf (Studi kasus di Pondok Pesantren Suryabuana Dusun Balak, Desa Losari Kabupaten Magelang 2019). 61-12.

Al-Hasyimi, Santri (2023, 10 Juni). Amalan Mujahadah [Wawancara].



 SANG PANGERAN

Karya : Elnahdi


Debu berpesta diudara

Diiringi derap kaki kuda

Dibarengi pekik takbir pasukannya

Tuk menyambut dua janji Allah

Syahid dan menghuni surgaNya

Atau kemenangan tuk tanah air di pertempuran


Lelaki mulia itu memandang tajam musuh Allah

Sebilah pedang terayun ditangannya

Tuk memenggal kepala nan penuh angkara

Guna memerangi kedholiman nan sarat kekejaman


Tubuhnya meliuk diatas kuda

Tangannya gesit diantara denting pedang

Mulutnya bersenandung Kalamullah

Wahai gagah sekali dia


Kala gelap merayap

Melangit harap kepadaNya

Kiranya hentikan saja semua ini

Sakit kala melihat rakyat sekarat

Perih ditengah anak-anak yang merintih

Sebab dicengkeram Borjuis bak iblis


Dirinya rapuh kala bersimpuh

Mencoba kuat kala bergulat

Menerjang Walanda yang berlagak dewa

Ya Dialah Sang Pangeran itu

Sang Pangeran penggemar taktik gerilya

Sang Pangeran pecinta kezuhudan

Dialah Diponegoro Sang Pangeran Tanah Jowo

Rabu, 22 November 2023

Orang Kecil

 Oleh : Nimas Nadia Wafiq Muthia

Berangkat dari orang-orang kecil,

yang diberi amanah besar.

Ia tidak pernah meminta, bahkan jika memungkinkan, ia menolak, berontak.

Namun apa daya, orang kecil bisa apa.


Langkah awalnya adalah keraguan, 

bahkan mungkin ketidakpercayaan.

Berjalan dengan langkah gontai,

penuh tatapan meremehkan.


Tanggungjawabnya mengakar,

keingintahuannya besar,

namun ia bingung, kepada siapa harus bersandar.


Saat bertanya, malah dijawab seakan, "seperti itu saja tidak bisa".

Saat melangkah, salah sedikit saja, fatal sekali akibatnya.


Semoga tidak ada kata lelah,

untuk orang-orang yang berjuang dari bawah.

Semoga tidak ada kata menyerah,

untuk orang-orang yang berjuang dari titik terendah.

Walau ia tak pernah ingin, namun ia yakin, tak ada yang sia-sia dari suatu perjuangan mulia.

Selasa, 07 November 2023

AKU INGIN BERTERUS TERANG

Oleh ; Azimatus Sya’bana

Aku ingin berterus terang

Pada bola matamu yang selalu guncangkan inti jiwaku

Aku ingin berterus terang

Pada setiap tatapmu yang getarkan napasku


Aku ingin berterus terang

Pada parasmu yang anggun dan buatku terpaku

Aku ingin berterus terang

Pada setiap ukuran pakaianmu


Aku ingin berterus terang

Pada setiap menu yang kau santap setiap hari

Aku ingin berterus terang

Pada rute pulang yang kau lalui setiap hari


Aku ingin berterus terang

Tentang dia yang buatku pasrah menyerah kalah

Aku ingin berterus terang

Aku ingin kau milikku, masih bisakah?

Senin, 06 November 2023

Awal Bulan yang Disertai Mendung


Oleh; M. Roghdi Khasbiya 

Kalaupun gelas kaca itu bening, dia akan berubah warna sesuai dengan apa yang kita tuangkan.’

Kopi yang sudah mendingin di hadapanku itu seketika habis, bukan disesapnya melainkan lebih ke diteguknya. Dia sahabatku, datang menghampiri dengan nafas terengah-engah dan tampak kehausan. Tapi alih-alih ia mencari air putih tambahan, justru ia langsung menodongku dengan sebuah pertanyaan, yang pikirku itulah alasan kenapa ia buru-buru.

“Menurutmu, apakah cukup bisa dikatakan benar Sayyidina Umar itu masuk Islam hanya karena mendengar bacaan Al-Qur’an?”

Jangan kaget, dia memang selalu menodongku dengan pertanyaan yang tanpa awalan, dan sering membuatku heran ‘ada ya orang seperti dia?’ batinku. 

“Maksudnya bagaimana?”

“Tidak adakah faktor lainnya yang mendukung; kenapa Beliau masuk Islam ketika membaca tulisan surat Thoha. Memangnya jauh sebelum itu apakah Umar belum pernah mendengar Al-Qur’an sekalipun?”

Aku hanya bisa bingung. ‘Iya juga ya...’ Anggukanku membuatnya tersenyum. Dari gelagatnya ia siap memberikan penjelasan. Membenahi posisi duduknya, untuk memulai pembicaraan serius.

“Jadi dibalik peristiwa Islamnya Umar bin Khattab itu ada sebuah hikmah tentang kekosongan hati.”

Berangkat dengan kemarahan yang memuncak dan ingin membunuh Nabi, takdir justru membawa Umar untuk menemui keponakannya, Fatimah, yang keislamannya telah sampai ke telinga Umar. 

Kemarahannya lalu justru membuat luka untuk Fatimah. Tamparan yang keras itu membuat pipi Fatimah memerah, bahkan dalam beberapa riwayat dijelaskan sampai berdarah. Dari situ, timbullah rasa iba seorang Umar yang terkenal dengan kegarangannya. 

Sadar akan apa yang baru saja ia lakukan terhadap keponakannya, hati Umar tersentuh. Kemarahan berubah iba dan belas kasih. Kelembutan menyelimuti jiwa dan hatinya. Saat hati sedang melembut bahkan kosong itulah, secarik mushaf diambilnya dan di situ surat Thoha masuk. 

‘Thoohaa. Maa anzalnaa ‘alaikal Qur’ana litasyqoo...’


Maka kini kau tahu; betapa penting antara mana yang akan masuk ke hatimu di kala kosong. Apakah kebaikan atau keburukan?

Pun, kadang kau perlu mengosongkan hatimu karena kita tidak bisa menghitung kegelapan, tapi kita bisa menghitung berapa intensitas cahaya yang ada. Tuhan akan selalu ada untukmu. Dan, jangan kehilangan Dia. 

Mungkin akhir-akhir ini sedang marak berita bahwa banyak manusia yang memilih mengakhiri hidupnya karena tidak kuat menjalani. Perlu kita sadari salah satu penyebabnya adalah ketika hatinya kosong, justru keburukanlah yang masuk dan mendominasi. Tidak ada kebaikan semisal teman cerita, ajakan agar ia tak merasa sendiri, atau bahkan paling sederhana adalah sapaan “Kau baik-baik saja?”

Sesulit dan serumit apa pun, percayalah akan ada secercah cahaya diujung gua. Meski kau pernah berkali-kali runtuh, yakinlah masih panjang hari-hari indah yang bisa kau jalani.

Mengganti malam menjadi siang, setiap harinya; bumi berputar pada porosnya, paling dekat Dia yang membolak-balikan hati saja mampu. Apalagi hanya mengubah isi surat darinya yang berisikan;

‘Jelas kau bukan takdirku, kau akan mendapatkan jauh yang lebih baik dariku.

Entah di hari bahagiamu nanti, kau akan turut mengundangku atau malah melupakanku bahwa aku pernah menjadi peran di hidupmu.

Tak apa itu adalah sebuah konsekuensiku- karna pernah mengenalmu.’

Ditutup dengan do’a...

Aku yang mendo’akanmu agar selalu di kelilingi kebaikan.

Dan aku yang memohon do’a kepadamu agar aku pun selalu disertai kebaikan. Entah itu berupa benda, peristiwa, cerita, atau.. 

‘Berupa kamu..’


Wallahu a’lam

Jumat, 27 Oktober 2023

Konsep tersembunyi


Oleh; M.roghdi Khasbiya

Desember

“Bermula dari sekian banyak cerita yang terlewatkan, atau keadaan yang sepertinya lebih condong tak memihak kepadamu, patutlah kau mengevaluasi juga perihal konsep yang tersembunyi.”

Setuju atau tidak, nyatanya dunia tak hanya berisi tentang kesenanganmu. Aku garis bawahi untuk kata “kesenangan”, lain—karena jauh berbeda maknanya dengan—“kebahagiaan”.

Ada orang yang kelihatannya masih menonton televisi tapi ketika ia mengedipkan matanya setelah lima menit terbuka, ia baru sadar kalau yang ditontonnya adalah iklan. Menunggu ada  orang lain yang mengingatkan “Iklan kok ditonton, ganti!” pikirannya baru kembali normal dari semua masalah yang membuat isi otaknya carut marut. Ia rindu bagaimana tenteramnya tak punya hutang meski setiap harinya hiburannya hanya bersumber dari radio yang telah usang.

Ada orang yang mengaku senang bisa diterima universitas yang ia inginkan, tapi setelah ia meluangkan waktu memperhatikan dirinya di depan cermin hatinya berbicara “Kapan aku bisa lagi tersenyum ke orang lain, capek sok-sokan senyum di depan kaca terus, menyemangati diri biar semangat nugas. Dan lagi-lagi tugas.” Ia rindu waktu gap year satu tahunnya dimana ia punya banyak kesempatan buat bertemu orang-orang, terlebih duduk menyila di sepertiga malam berbincang dengan Tuhan menyemogakan apa yang kini tersemogakan. Sekarang jarang-jarang.

Ada orang yang mengaku senang bisa mengenal dia, dekat, lalu membatasi kadar oksigen yang bisa ia dapatkan gratis dengan perkatannya sendiri “Aku tidak bisa hidup tanpamu.” Seolah ia akan benar-benar bahagia, padahal perdetiknya; di dekat dia adalah luka. Ia rindu di mana jauh ataupun berada di samping dia, tak mempengaruhi tawa ataupun tangisnya. 

Dan, manusia—yang tempatnya salah, memang wajar—selalu memburu kesenangan. Tak sedikit pula yang kalau tak sesuai keinginannya buru-buru ia menyalahkan Tuhannya yang—padahal mempunyai ke-maha-an dalam setiap 99 namanya—selalu memberi yang terbaik perihal kebahagiaan.

Bukankah dalam keadaan kau ditinggalkan, kau bisa menghitung dan mensyukuri siapa saja yang masih tinggal bersamamu?

Bukankah dalam keadaan kau tak punya harta, kau bisa meminta dan menjadi lebih dekat kepada-Nya?

Bukankah dalam keadaan insecuremu tentang paras, kau seharusnya sadar ciptaan siapa aku ini? Pantaskah bentuk ciptaan-Nya direndahkan?

Bukankah dalam keadaan kau tak punya gelar atau kedudukan apa-apa, kau ini masih mempunyai posisi sebagai manusia. Di mana manusia juga makhluk Tuhannya. Sedang itu, pernahkah Tuhan salah menciptakan dan dalam mengatur?

Maka sebenarnya kau tahu, duka dan bahagiamu merujuk kepada siapa?

“Rabbana maa Kholaqta Haadza Bathila.”

Dan tugasmu adalah menemukan yang tersembunyi dari apa yang selama ini kau dapati. Apa saja yang sudah, dan mana saja yang belum.

Minggu, 19 Maret 2023

Luka karna rasa

 Luka karna Asa

Oleh: Vitriya

Kau datang 

Bagai laut yang menerima hujan.

Bagai tanah

Yang menerima pepohonan .

Kau adalah harap,

Malaikat, bahkan tujuan hidup.

Tapi pikirku salah ,

Kau manusia yang tak berhati.

Yang pertama membuat luka.

Kau datang memberi harap,

Lalu menghilang setelah aku mengharap.

Kini hanya satu harapku,

Hilangnya luka karna asa.

Minggu, 12 Maret 2023

Pagelaran Wayang Kulit sebagai Media Pendidikan Karakter Bagi Generasi Muslim

 Pagelaran Wayang Kulit sebagai Media Pendidikan Karakter Bagi Generasi Muslim

Oleh : Nadira Sya’baniyah

Istilah "wayang" berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti menuju kepada roh, Dewa atau Tuhan. Istilah wayang ini juga didefinisikan oleh para ahli, salah satunya menurut R.T. Josowidagdo yang mengartikan wayang sebagai ayang-ayang (bayangan) yang bisa dilihat di sebuah kelir (bentangan kain putih yang disoroti cahaya). Menurut sejarah, pagelaran wayang kulit merupakan bagian dari sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa terdahulu sebelum adanya agama Hindu-Buddha. Maka dari itu, wayang bukan hanya untuk hiburan semata. Lebih daripada itu, wayang sangat erat kaitannya dengan upacara penyembahan roh nenek moyang karena wayang dilambangkan sebagai perwujudan atau bayangan dari roh nenek moyang. Saat setelah masuknya Islam ke tanah Jawa, wayang disesuaikan dengan ajaran Islam sehingga konsep wayang sebagai perwujudan dari roh dihilangkan, karena menurut ajaran Islam hal tersebut termasuk bentuk kesyirikan.


Wayang merupakan kesenian asli bangsa Indonesia yang telah ada sekitar 10 abad yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya prasasti peninggalan Raja Balitung (899-911 M). Prasasti tersebut berisikan kisah pewayangan yaitu cerita Bima Kumara, dan dalam prasasti tersebut juga disebutkan seorang dalang dan upah yang diterimanya pada zaman itu. Kesenian wayang kulit ini memang luar biasa, karena eksistensinya tidak termakan oleh zaman. Banyak orang yang suka dengan kesenian yang menyugahkan rangkaian cerita bayangan dari boneka dengan bentuk pipih yang terbuat dari kulit hewan, kemudian diberi warna serta diberi tangkat untuk menggerakkannya. Pagelaran wayang ini biasanya berisi kisah-kisah yang diambil dari cerita klasik seperti kisah Ramayana dan Mahabharata, atau dari cerita gubahan yang dimainkan oleh seorang dalang dengan diiringi musik gamelan.

Dalam setiap pagelaran wayang akan selalu ada nilai-nilai kebaikan yang dapat diambil dan diteladani, karena pada dasarnya cerita yang terkandung dalam pagelaran wayang merupakan gambaran peliknya kehidupan manusia, sehingga didalamnya juga banyak disampaikan petuah atau nasihat agar manusia dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Tokoh-tokoh dalam pewayangan menggambarkan watak atau karakter manusia secara umum. Ada tokoh yang mempunyai watak baik, namun ada juga tokoh yang mempunyai watak buruk. Setiap akhir dari lakon yang diceritakan dalam pagelaran wayang selalu dimenangkan oleh kebaikan, dan kejahatan dapat dikalahkan. Hal tersebut menjadi pengingat manusia bahwa sehebat apapun kejahatan dilakukan pasti akan kalah juga dengan kebaikan.


Tokoh-tokoh dalam pewayangan sangat banyak dengan membawakan karakter yang beragam pula. Keunikan dari pagelaran wayang ini dibanding dengan pagelaran seni lainnya adalah apabila tokoh-tokoh dalam drama lain biasanya dibedakan menjadi dua yakni tokoh yang sepenuhnya baik (protagonis) dan tokoh yang sepenuhnya jahat (antagonis), maka dalam pewayangan tidak ada tokoh yang dianggap sepenuhnya baik ataupun dianggap sepenuhnya jahat. Hal ini sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan yang pastinya tak luput dari dosa dan kesalahan. Sebagai contoh dalam cerita Mahabharata, tokoh Pandawa yang terdiri dari lima orang ksatria yang dianggap teladan, sejatinya tidaklah sempurna. Yudhistira sebagai tokoh tertua Pandawa pernah berjudi disamping ia selalu memegang kejujuran dan keadilan. Begitu juga tokoh Bima yang digambarkan memiliki kebiasaan kurang baik, yaitu berbicara dengan bahasa ngoko (kasar) dengan siapapun di samping ia adalah seorang ksatria yang gagah berani dalam menegakkan kebenaran.


Dalam kisah Mahabharata tidak pernah ketinggalan pula punakawan yang terdiri dari 4 tokoh yaitu Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Walisongo menciptakan tokoh punakawan tersebut sebagai gambaran karakter seorang muslim yang harus teguh dan kuat baik fisik maupun pendiriannya, ramah dan mampu bersosialisasi dengan baik, selalu menerapkan prinsip cinta dan ikhlas dalam kesehariannya, serta takwa kepada Allah tuhan seluruh alam. Dalam kisah Mahabharata juga terdapat banyak lakon, salah satu yang terkenal adalah lakon Dewa Ruci, dimana didalamnya menceritakan kegigihan Bima dalam menuntut ilmu kepada gurunya yaitu Resi Drona. Lakon tersebut mempunyai nilai edukatif yang tinggi khususnya bagi para generasi muda yang sedang berjuang menuntut ilmu. Lakon Dewa Ruci mengajarkan bahwa seorang murid harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, jangan mudah putus asa ketika menemukan kesulitan dalam menjalankannya. Menuntut ilmu juga harus dibarengi dengan ketekunan dan kesabaran, sehingga nantinya apa yang di cita-citakan dapat tercapai.


Adapun tokoh-tokoh dalam pewayangan yang menarik untuk kita kulik lagi, misalnya tokoh Abiyasa. Tokoh Mahabharata yang satu ini melambangkan nilai religius, karena ia rela meninggalkan takhta kerajaannya dan lebih memilih menjadi seorang Resi. Hal tersebut dalam pandangan Islam ada kaitannya dengan tasawuf yaitu sifat zuhud, dimana seorang yang ingin mensucikan jiwanya dan ingin lebih dekat dengan Allah cenderung lebih mementingkan hal-hal yang menyangkut kehidupan akhirat daripada hal-hal yang bersifat keduniawian semata. Lain halnya dengan tokoh Kurawa yang terdiri dari 100 orang bersaudara. Tokoh Kurawa melambangkan keserakahan manusia untuk memenuhi segala keinginannya yang bersifat duniawi. Diceritakan dalam kisah Mahabharata, Kurawa selalu memusuhi Pandawa sepupunya. Mereka bertekad ingin menyingkirkan para Pandawa, dan menguasai kerajaan Astina dengan berbagai cara, walaupun cara yang ditempuhnya penuh dengan kecurangan. Pelajaran yang dapat kita ambil dari tokoh Kurawa ini adalah jangan terlalu berambisi dalam mengejar kehidupan duniawi, karena besar kemungkinan kita akan terjerumus kedalam sifat tamak atau serakah, sehingga nantinya kita bisa saja menempuh cara yang salah untuk memenuhi keinginan kita.


Adanya wayang ini dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan karakter terutama bagi para generasi muda saat ini. Dalam setiap pagelaran wayang kulit, akan selalu ada nilai-nilai teladan yang dapat kita ambil. Nilai teladan yang pertama adalah nilai keislaman. Sudah kita ketahui dari penjelasan sebelumnya, wayang yang dahulu digunakan untuk upacara- upacara pemujaan roh nenek moyang, beralih fungsi menjadi media penyebaran agama Islam di masa Walisongo, terutama oleh Sunan Kalijaga. Beliaulah yang menciptakan lakon Jamus Kalimasada, kata “kalimasada” artinya kalimat syahadat. Setiap kali mendalang, Sunan Kalijaga selalu memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam lakon yang dimainkan. Nilai yang kedua adalah nilai filosofis. Adegan-adegan dalam pagelaran wayang ini berkaitan satu sama lain. Tiap-tiap adegannya itu melambangkan fase-fase kehidupan manusia, dari mulai manusia lahir sampai kembalinya manusia kepada Tuhan yang menciptakannya. Nilai-nilai yang lain seperti nilai etika, nilai sosial, dan nilai nasionalisme dapat kita ambil dari cerita Ramayana, Mahabharata atau cerita-cerita gubahan lainnya.


Melihat dari kehidupan saat ini, di mana nilai-nilai teladan seperti nilai etika, nilai budaya, nilai nasionalisme, nilai kejujuran, dan nilai keadilan sudah mulai luntur. Maraknya kasus korupsi, kasus pencurian dan kasus pelecehan seksual menjadi bukti lunturnya nilai-nilai teladan tersebut. Keadaan semacam ini menunjukkan pentingnya menerapkan pendidikan karakter pada generasi muda. Pendidikan karakter bisa dilakukan melalui media pagelaran wayang kulit karena baik dari lakon, tokoh, maupun bentuk dari tokoh wayang itu sendiri semuanya mempunyai nilai-nilai yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pendidikan karakter bagi generasi muda tidak hanya bisa diambil dari pendidikan formal di sekolah saja, melainkan bisa juga melalui media seni pagelaran wayang kulit.


Daftar Pustaka


Koentjaraningrat. (1992). Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.

Purwanto, Sigit. (2018). Pendidikan Nilai dalam Pagelaran Wayang Kulit dalam Ta’allum: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 6 No.1 (Hlm.1-30). Salatiga: IAIN Salatiga.


Sabtu, 11 Maret 2023

DAKWAH SUNAN KALIJAGA DI TANAH JAWA

 DAKWAH SUNAN KALIJAGA DI TANAH JAWA

Oleh : Nadira Sya’baniyah 

Editor : Aisyah Nurul Aini

Apabila dibandingkan dengan para sunan yang lain, Sunan Kalijaga lah Wali yang paling tersohor di Jawa bahkan hingga kini, karena nama beliau begitu melekat di hati masyarakat Jawa. Hal ini tentu saja karena peran beliau dalam menegakkan agama Islam di Pulau Jawa, khususnya di daerah Jawa bagian tengah. Metode dakwahnya sangat kreatif dan berbeda dengan sunan-sunan yang lain karena mampu memadukan ajaran Islam dengan kultur atau budaya lokal yang ada di Jawa pada saat itu. Sunan Kalijaga berhasil memasukkan ajaran-ajaran Islam kedalam tradisi Jawa, sehingga dengan demikian masyarakat Jawa yang notebennya sangat terpengaruh ajaran Hindu-Buddha bisa dengan mudah menerima Islam.

Beliau sebagai salah satu tokoh sejarah yang sangat berpengaruh dalam dakwah Islam di tanah Jawa sangat menarik untuk dikaji. Maka dari itu, dalam artikel ini penulis akan menjalaskan bagaimana kisah perjalanan Sunan Kalijaga dalam berdakwah di tanah Jawa yang mana artikel ini bersumber dari beberapa literatur, baik buku maupun jurnal.


Biografi Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir di Tuban, Jawa Timur pada tahun 1450 M. Nama asli beliau adalah Raden Said. Sunan Kalijaga juga mempunyai beberapa gelar diantaranya yaitu Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban dan Raden Abdurrahman. Beliau merupakan putra dari Adipati Tuban yakni Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur.

Sebenarnya ada beberapa versi mengenai sosok dari Sunan Kalijaga, baik tentang gelar Kalijaga yang disematkan padanya maupun mengenai asal usulnya. Adapun mengenai gelar atau nama Sunan Kalijaga menurut versi masyarakat Cirebon ialah berasal dari nama Desa Kalijaga didaerah Cirebon. Konon, beliau ini pernah menetap di desa tersebut dan sering berendam di sungai. Dalam istilah Jawa disebut dengan jaga kali. Maka, dengan demikian masyarakatpun memberinya gelar Sunan Kalijaga.

Sedangkan terkait dengan asal usulnya ada dua versi. Versi pertama mengatakan bahwa Sunan Kalijaga berasal dari keturunan Jawa asli. Dan versi kedua menyebutkan bahwa beliau berasal dari keturunan Arab. Namun demikian, tampaknya versi kedualah yang lebih mendekati kebenaran apabila ditinjau dari silsilahnya. Van Den Berg mengatakan bahwa Sunan Kalijaga merupakan keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah saw.

Pendapat pertama menyatakan bahwa Sunan Kalijaga merupakan orang asli Jawa keturunan Adipati Wengker (Ponorogo) yang juga ayah dari Aria Wiraraja, Pendapat ini didasarkan pada catatan historis Babad Tuban dan berdasarkan data dari keluarga besar keturunan Sunan Kalijaga.

Di dalam babad tersebut diceritakan, Aria Teja alias Abdul Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, yaitu Aria Dikara, dan mengawini putrinya. Dari perkawinan tersebut Aria Teja kemudian memiliki putra bernama Aria Wilatikta. Catatan Babad Tuban ini diperkuat juga dengan catatan masyhur dari penulis dan bendahara Portugis yakni Tome Pires (1468 - 1540). Menurut catatan Tome Pires, penguasa Tuban pada tahun 1400 M adalah cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban yakni Aria Wilakita, dan Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said merupakan putra Aria Wilatikta.

Adapun pendapat yang kedua yang menyatakan Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab. Pendapat kedua ini disandarkan pada keterangan penasehat khusus Pemerintah Kolonial Belanda, Van Den Berg (1845 – 1927). Seperti yang sudah disinggung diatas, Van Den Berg menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai ke Rasulullah ﷺ. Sejarawan lain seperti De Graaf juga menilai bahwa Aria Teja I (Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, sepupu Rasulullah ﷺ.

Berikut asal-usul Sunan Kalijaga menurut beberapa versi :

Asal-usul Sunan Kalijaga dari Versi Jawa :

Adipati Ponorogo

Arya Wiraraja atau Banyak Wide.

Arya Adikara atau Arya Ranggalawe.

Arya Teja I (Bupati Tuban).

Arya Teja II.

Arya Teja III.

Raden Sahur atau Tumenggung Wilatikta, (beristeri Dewi Nawang Arum)

Sunan Kalijaga.


Asal-usul Sunan Kalijaga dari Versi Arab :

Sayyidina Abbas (paman Rasulullah Muhammad SAW),

Sayyidina ibnu Abbas

Syekh Abdul Wahid Qornain.

Syekh Wahid Rumi.

Syekh Mudzakir Rumi

Syekh Khoromis

Syekh Abdullah

Syekh Abdur Rahman atau Arya Teja I.

Ronggo Tedjo Laku atau Syekh Zali atau Arya Teja II.

Aryo Tedjo atau Arya Teja III.

Raden Sahur.

Raden Syahid (Said) atau Sunan Kalijaga. 


Asal-usul Sunan Kalijaga Versi China :

Adipati Ponorogo

Arya Wiraraja atau Banyak Wide

Arya Adikara atau Ranggalawe.

Arya Teja I (Bupati Tuban).

Arya Teja II.

Arya Teja III.

Nawang Arum, bersuami Raden Sahur (Tumenggung Wilatikta),

Sunan Kalijaga.


Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq dan dikaruniai tiga putra, yaitu Raden Umar Said alias Sunan Muria, Dewi Ruqayyah, dan Dewi Sofiyah. Sementara itu dalam buku yang berjudul 'Pustaka Darah Agung' disebutkan bahwa Sunan Kalijaga pernah berguru kepada Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) di Cirebon, kemudian Sunan Kalijaga menikah dengan Putri dari Sunan Gunung Jati yaitu Dewi Sarokah dan mempunyai 5 orang anak yaitu:

Kanjeng Ratu Pembayun (Istri Sultan Trenggono).

Nyai Ageng Penenggak, yang nantinya menikah dengan Kyai Ageng Pakar.

Sunan Hadi, yang menjadi Panembahan Kali menggantikan Sunan Kalijaga sebagai Kepala Perdikan Kadilangu. 

Raden Abdurrahman

Nyai Ageng Ngerang

Sejak saat masih muda, Sunan Kalijaga telah menampakkan berbagai kelebihan yang ada dalam dirinya. Beliau merupakan seorang yang cerdas, terampil, pemberani, berjiwa besar, dan memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap sesama manusia. Beliau juga tidak hanya ahli dalam bidang agama, namun juga ahli dalam bidang pemerintahan dan kemiliteran. Khususnya di bidang angkatan laut, karena Sunan Kalijaga mahir dalam pembuatan kapal laut yang dibuat dari kayu jati.

Sunan Kalijaga awalnya merupakan seorang yang nakal dan berandalan. Namun, ia kemudian bertobat setelah bertemu dengan Sunan Bonang. Mengenai masa remaja Sunan Kalijaga, ada dua versi cerita yaitu:

Versi pertama mengisahkan bahwa Raden Said atau Sunan Kalijaga merupakan seorang yang gemar mencuri dan merampok. Tetapi, hasil curiannya tidak serta-merta ia gunakan sendiri, melainkan ia bagi-bagikan kepada rakyat jelata. Konon, Raden Said ini sudah disuruh mempelajari agama Islam ketika usianya masih kecil. Namun, karena ia melihat kondisi lingkungan di sekitarnya yang kontras dengan ajaran agama, maka jiwanya memberontak. Ia melihat rakyat jelata yang hidupnya sengsara, sementara para bangsawan Tuban hidup dalam kemegahan dan berfoya-foya. Rakyat diperas dan diwajibkan untuk membayar upeti dengan nilai yang tinggi. Oleh karena itu, Raden Said terpanggil hatinya untuk mencuri harta Kadipaten dan kemudian dibagikan kepada rakyat yang miskin.

Dalam versi yang kedua diceritakan bahwa Raden Said atau Sunan Kalijaga adalah benar-benar seorang perampok dan pembunuh yang jahat. Menurut versi ini Raden Said merupakan seorang yang nakal sedari kecil, lalu tumbuh menjadi penjahat yang sadis. Ia suka merampok dan membunuh, dan juga suka berjudi. Selain itu, digambarkan bahwa sosok Raden Said adalah seorang yang sangat sakti mandraguna. Karena kesaktiannya itulah beliau mendapat julukan Lokajaya.

Nah itulah dua versi mengenai masa remaja atau masa muda dari Sunan Kalijaga. Kita tidak bisa mengklaim versi mana yang benar. Mengenai hal ini, yang jelas Sunan Kalijaga memang merupakan mantan perampok. Karena itulah ia tenar dengan nama berandal Lokayaja.

Singkat cerita, akhirnya Sunan Kalijaga bertemu dengan Sunan Bonang. Pada saat itu, Lokajaya alias Sunan Kalijaga hendak merampok Sunan Bonang dengan cara menghadang kemudian mengancam Sunan Bonang agar memilih menyerahkan harta atau nyawanya. Dengan hati tenang dan sabar, Sunan Bonang memanggil Lokajaya dengan sebutan jebeng agar luluh hatinya. Ia berkata kepada Lokajaya :

"Sareh... sareh dhisik, Jebeng. Kowe mbutuhake pendok iki apa? Oo Gampang, gampang! Mengko dak wenchake. Nanging sadurunge, aku arep takon dhisik. Sapa jenengmu Jebeng? Jebeng Syahid, geneyo kowe teko banjur duweni tindak sung nasar kaya mengkene iki? Elinga Jebeng, karo wong tuwamu kang alim lan sugeh ngelmu, berbudi bawa leksana, gelem tetulung marang sapada-padane. Geneya kowe ora gelem nuruni tindake wong tuwamu. Apa sebabe?"

Dari kisah ini kita tahu bahwa Sunan Bonang menyampaikan nasehatnya dengan kalimat yang lemah lembut supaya Lokajaya bersikap halus dan luluh hatinya. Apa yang diinginkan oleh Lokajaya itu mudah saja diberikan oleh Sunan Bonang. Namun sebelumnya, Sunan Bonang ingin bertanya terlebih dahulu mengenai Siapa nama dari Lokajaya. Namanya ialah Syahid. Padahal Syahid itu adalah nama yang bagus, tapi telah terlanjur mempunyai tindak-tanduk yang tidak baik. Sunan Bonang memberikan nasehat supaya Lokajaya selalu ingat bahwa orang tuanya merupakan seorang yang baik, berilmu dan berbudi pekerti yang luhur serta senang menolong kepada sesamanya. Lalu kenapa lokajaya tidak mewarisi perilaku baik dari orang tuanya. Suasana sempat hening sejenak, karena memberikan kesempatan kepada Lokajaya untuk meresapi kata-kata nasihat yang lemah lembut tersebut. Kemudian Sunan Bonang berkata lagi : "Kepriye Jebeng? Kowe isih mbutuhake donya brana? Yen sing kok goleki kuwi, gampang banget Jebeng, gampang. Coba kae jupuken kabeh!" (Bagaimana Syahid, Apakah masih tetap membutuhkan dunia yang fana ini. Jika masih ingin mencarinya, sangatlah mudah. Silakan ambil saja semuanya!).

Seperti itulah metode dakwah yang dilakukan Sunan Bonang kepada sang Berandal Lokajaya yang akhirnya menjadi muridnya.

Setelah Sunan Kalijaga bertaubat dari perbuatannya yang dulu. Kemudian berguru juga kepada Sunan Ampel. Ia juga pernah diperintahkan supaya menuju ke wilayah Cirebon untuk berguru kepada Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Kemudian ia diperintahkan agar berkhalwat atau bertapa di tepi sungai. Setelah itu beliau kembali ke Demak, dan oleh dewan Walisongo diberi gelar Kalijaga. Tempat beliau bertapa saat itu masih membekas dalam bentuk petilasan yang masih ada sampai saat ini dan berada di sebuah desa bernama Desa Kalijaga.

Sunan Kalijaga telah tercelup ke dalam ilmu pengetahuan Islam dari para gurunya, sehingga menjadikan beliau seorang yang terhormat dan berwibawa. Setelah berguru kepada Sunan Bonang, Sunan Ampel, dan Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga banyak menguasai beragam ilmu pengetahuan seperti tauhid, ilmu syari'at, ilmu kanuragan, ilmu kesehatan, ilmu kesenian, dan ilmu-ilmu lainnya. Oleh sebab itu, beliau terkenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang tauhid, mahir dalam bidang syari'at dan menguasai ilmu mengenai dakwah Islam. Bahkan, Sunan Kalijaga juga ahli dalam bidang sastra, sehingga beliau terkenal sebagai pujangga yang banyak melahirkan syair-syair indah dalam bahasa Jawa.

Dikalangan masyarakat Jawa, Sunan Kalijaga merupakan salah satu dewan dari Wali Songo yang paling tersohor dan paling dekat dengan rakyat. Beliau merupakan ulama' besar dan seorang wali yang mempunyai Kharisma tersendiri diantara para wali lainnya, dan beliaulah yang paling terkenal diantara masyarakat, baik masyarakat atas maupun bawah. Keistimewaan Sunan Kalijaga di hati masyarakat Jawa ialah karena Sunan Kalijaga berkeliling dalam mendakwahkan Islam, dari satu tempat ke tempat yang lain. Sehingga ia dikenal sebagai Syekh Malaya, yakni mubaligh yang mendakwahkan agama Islam sembari mengembara.

Sunan Kalijaga menjalani hidup dalam masa yang panjang hingga melintasi tiga kekuasaan, yakni sejak awal Kerajaan Majapahit, Kerajaan Demak, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, sampai pada masa Kerajaan Pajang. Hampir seluruh hidupnya beliau kerahkan untuk mendakwahkan Islam di bumi Jawa.

Sunan Kalijaga diperkirakan wafat pada tahun 1580 M. Maka dari itu, hidup beliau diperkirakan lebih dari 100 tahun yakni dari awal pertengahan abad ke-15 hingga akhir abad ke-16 M. Sunan Kalijaga kemudian dimakamkan di Kadilangu, daerah yang masih merupakan bagian dari daerah pusat Kerajaan Demak. Lokasinya sekitar 1,5 km sebelah tenggara Masjid Agung Demak.

Metode dan Media Dakwah Sunan Kalijaga

Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga tidak mengubah apa yang sudah melekat dan menjadi tradisi di Jawa, melainkan melanjutkan tradisi berdakwah dari sang guru yang sangat toleran. Sehingga Sunan Kalijaga dikenal sebagai penyebar agama Islam yang menggunakan media seni dalam berdakwah. Namun, Sunan kalijaga tetap tidak meninggalkan nilai-nilai keperayaan lama masyarakat Jawa, terlebih yang sudah menjadi tradisi atau kebiasaan hidup sehari-hari. Melainkan beliau menyisipkan nilai-nilai baru kedalam agama, kepercayaan, tata cara, dan tradisi yang sudah ada sebelumnya yang disesuaikan dengan ajaran Islam. 

Nilai-nilai lama dibungkus selapis demi selapis,dan digeser sedikit demi sedikit dengan cara yang halus. Sehingga, dengan dakwah yang demikian, maka Nusantara, khususnya Pulau Jawa dapat diislamkan dengan mudah. Media tradisional (yang sekaligus merupakan hasil karyanya) yang digunakan Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam yaitu wayang kulit, tembang, gerebeg, upacara sekaten dan tradisi suronan.

Pertunjukan Wayang Kulit

Media yang sesuai digunakan untuk mendakwahkan Islam adalah wayang, karena wayang merupakan salah satu jenis kesenian tradisional yang saat itu sangat digemari masyarakat Jawa. Wayang sebelum disisipkan ajaran-ajaran Islam masih serba mistik dan penuh dengan kemusyrikan, sehingga perlu dirubah agar sesuai dengan ajaran Islam. Supaya nantinya ajaran-ajaran Islam dapat tersiar dan tertanam didalam hati masyarakat.

 Sunan Kalijaga terkenal sebagai pelopor seni wayang yang juga menjadi media dakwah. Beliau merupakan seorang dalang yang ahli memainkan wayang kulit. Oleh sebab itulah, Sunan Kalijaga dikenal sebagai Wali Sanga penyebar agama Islam yang mengislamkan masyarakat Jawa dengan media pertunjukan wayang. Siapapun yang ingin menonton pertunjukan wayang kulit yang didalangi Sunan Kalijaga, maka harus membayarnya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan cara ini, berbondong-bondonglah masyarakat Jawa memeluk agama Islam.

Wayang kulit selain menjadi media dakwah juga menjadi media pendidikan, karena menampilkan tokoh-tokoh pewayangan yang mempunyai filosofinya masing-masing dan setiap tokoh atau lakonnya menggambarkan watak manusia yang beragam. Dalam kisah atau ceritanya pasti disisipi nilai-nilai tentang tasawuf dan akhlakul karimah. Karena Sunan Kalijaga sangat paham, audiens yang dihadapi merupakan para pemeluk agama Hindu atau Buddha yang keseluruhan ajarannya terpusat pada ajaran kebatinan.

Tembang 

Selain menggunakan media Wayang, Sunan Kalijaga dalam dakwahnya juga menggunakan media tembang. Dimana tembang ini dipakai untuk menggambarkan atau memuji Allah menggantikan puji-pujian yang biasa dilantunkan pemeluk agama Hindu-Buddha untuk memuji Dewa mereka. Selain itu, tembang juga digunakan sebagai media perlindungan. Seperti halnya Kidung Kawedar yang memiliki beberapa nama lain, yaitu Kidung Sarira Ayu (nama ini diambil dari bait ketiga), atau Kidung Rumekso Ing Wengi (sesuai dengan bunyi bait di awal kidung sebagaimana kita yang lazim menyebut surah al-Ikhlash dengan surah Qulhu, atau surah al-Insyirah dengan sebutan surah Alam Nasyrah). Kidung ini dianggap memiliki kesaktian dan bisa menjadi perlindungan bagi yang menyanyikannya. Namun, sebenarnya keampuhan atau kesaktian itu akan terwujud jika yang menyanyikan kidung itu menjalani laku atau tirakat tertentu, seperti berpuasa “mutih” (makan nasi putih tanpa garam), berpuasa selama 40 hari, dan kidung itu di senandungkan pada malam hari tatkala sunyi sepi, dan mengurangi tidur. Tembang lainnya yaitu tembang lir-ilir dan suluk singgah-singgah yang mempunyai filosofi dan makna luar biasa yang terkandung didalamnya.

Gerebeg

Garebeg adalah sebuah acara keagamaan yang diadakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Upacara keagamaan ini awalnya merupakan perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu yang mengadakan upacara keagamaan untuk memperingati Dewa Brahma. Kemudian oleh Kanjeng Sunan Kalijga, hal ini diganti dengan nilai dakwah menjadi peringatan atas kelahiran Nabi Muhammmad saw. Adapun mantra-mantra yang ada diganti juga dengan pembacaan doa, dan diiringi dengan dua kalimat syahadat.

Upacara Sekaten

kata sekaten berasal dari bahasa Arab syahadatain yaitu dua kalimat syahadat, suatu kalimat yang menjadi syarat seseorang untuk masuk Islam. Upacara Sekaten yang diadakan setiap tahun, memiliki tujuan untuk  mengajak masyarakat Jawa agar memeluk agama Islam. Di dalam bahasa Jawa kata sekaten berasal dari kata sekati yang artinya seimbang dalam menimbang hal baik atau buruk. Adapun menurut bahasa arab dapat diartikan sebagai berikut Sakatain (menghilangkan dua perkara, yaitu sifat lacut dan menyeleweng), atau Sakhotain (menanamkan dua perkara, yaitu ngurungkubi budi suci dan menghambakan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa). Syahadatain (menyakini keberadaan dua perkara, yaitu syahadat tauhid (yakin akan keesaan Allah) dan syahadat rasul (yakin Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah).

Tradisi Suronan

Kata suronan berasal dari bahasa Arab asy-Syura, yang berarti hari ke-10 bulan Muharram. Dimana hari pertama bulan Muharram merupakan perayaan memperingati tahun baru Islam. Perhitungan ini dimulai ketika Nabi Muhammad dan para sahabat hijrah dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M. Peristiwa ini menjadi awal penetapan dalam perhitungan tahun Islam dan dianggap sebagai kebangkitan sejarah Islam. Tradisi Suronan merupakan upacara untuk menyambut tahun baru Jawa yang dilaksanakan menjelang tanggal 1 suro. Dalam tradisi Jawa, tradisi suronan dianggap sangat penting karena merupakan saat yang paling tepat untuk mengadakan intropeksi diri terhadap apa yang telah dilakukan selama setahun penuh. Intropeksi diri dilakukan dengan menjalankan tirakat seperti tidak tidur semalam, puasa ataupun, tidak bicara (tapa bisu).


Adapun cara atau metode yang dipakai oleh Sunan Kalijaga dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat di tanah Jawa adalah sebagai berikut:

Pertama, Sunan Kalijaga memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat dengan cara menyampaikan sedikit demi sedikit, supaya masyarakat yang waktu itu masih berpegang teguh pada keyakinan Hindu-Buddha tidak kaget atau tidak menolak. Selain itu, dalam berdakwah Sunan Kalijaga juga menghindari cara-cara yang bisa menyinggung perasaan masyarakat.

Kedua, Sunan Kalijaga memadukan ajaran-ajaran agama Islam dengan kepercayaan agama Hindu-Buddha. Sehingga, masyarakatpun tidak merasa  bahwa dirinya telah mengubah kepercayaan lamanya. Ketiga, cara atau metode lain yang dipakai Sunan Kalijaga dalam upaya mengislamkan masyarakat Jawa adalah dengan merubah secara halus beragam adat-istiadat atau kebudayaan Hindu-Buddha dan kepercayaan nenek moyang dengan tetap melaksanakan upacara-upacara tradisional, namun didalam upacara tersebut disisipi ajaran Islam.

Metode dakwah yang digunakan Sunan Kalijaga diatas sangat efektif. Hal ini dibuktikan dengan menggunakan metode kesenian dan akulturasi budaya, Sunan Kalijaga berhasil mengislamkan sebagian besar Adipati di Jawa, diantaranya yaitu Adipati Pandanaran, Adipati Kartasura, Adipati Kebumen, Adipati Banyumas, dan Adipati Pajang. Bahkan, raja pertama Kerajaan Pajang, yaitu Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, tak lain merupakan murid kesayangan Sunan Kalijaga.

Peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga

Kanjeng Sunan Kalijaga mewarisi banyak peninggalan, diantaranya yaitu :

Masjid Sunan Kalijaga

Masjid Sunan Kalijaga merupakan salah satu peninggalan Sunan Kalijaga yang masih ada hingga saat ini. Masjid Sunan Kalijaga terletak di Cirebon, tepatnya di desa Kalijaga. Lokasinya bersebelahan dengan petilasan pertapaan Sunan Kalijaga. Masjid ini, khususnya oleh masyarakat Cirebon, dikenal dengan nama Masjid Sunan Kalijaga.

Masjid Kadilangu

Masjid Kadilangu merupakan masjid berikutnya yang menjadi peninggalan Sunan Kalijaga. Disebutkan disebuah prasasti yang ada di pintu masjid sebelah dalam yang bertuliskan "menika tiki mongso ngadekipun asjid ngadilangu hing dino ahad wage tanggal 16 sasi dzulhijjah tahun tarikh jawi 1456", (ini waktu berdirinya masjid Kadilangu pada hari Ahad wage tanggal 16 bulan Dzulhijjah tahun tarikh Jawa 1456). Tulisan aslinya bertuliskan menggunakan huruf Arab.

Rompi Ontokusumo

Berdasarkan banyak riwayat, dapat diketahui bahwa rompi ontokusumo ini merupakan hadiah yang diberikan langsung oleh Rasulullah Saw. Diceritakan dalam sebuah kisah, Rompi Ontokusum didapatkan oleh Sunan Kalijaga setelah beliau selesai mengkhatamkan al-Qur'an. Pada saat itu, bertepatan dengan malam Jum'at Legi, Sunan Kalijaga bersama delapan sunan lainnya yang sedang berkumpul di Masjid Agung Demak, kemudian, secara tiba-tiba datanglah sepucuk surat yang berisikan pesan bahwa Sunan Kalijaga akan mendapatkan hadiah berupa kulit kambing. Kulit kambing tersebut nantinya harus dibuat menjadi rompi. Maka, diberilah nama rompi itu dengan nama Rompi Ontokusumo.

Keris Kyai Carubuk

Selain rompi ontokusumo, peninggalan Sunan Kalijaga yang berupa pusaka lainnya yaitu keris kyai carubuk. Keris ini dibuat oleh Empu Supa. Menurut kisah, ketika diminta membuat keris ini, Empu Supa terkejut karena Sunan Kalijaga hanya memberikan besi yang hanya sebesar sebuah biji asam. Tetapi dengan ukuran segitu, besi tersebut ternyata ketika sudah mejadi sebuah keris memiliki berat yang luar biasa. Sehingga, Empu Supa pun terheran-heran karena berat besi dengan berat jadinya tidak sepadan.



Api Alam

Peninggalan pusaka Sunan Kalijaga selanjutnya disebut api alam. Api ini merupakan api abadi yang sampai saat ini masih terus menyala. Api ini terletak di daerah Mrapen, Jawa Tengah. Api alam ditemukan pertama kali oleh Sunan Kalijaga. Ketika Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya ke tanah saat perjalanan dakwahnya, secara tiba-tiba berhembus gas yang kemudian menjadi api dengan ukuran diameter 1,5 meter. Api ini dimanfaatkan oleh Empu Supa untuk membuat keris sebelum akhirnya ditimbun dengan menggunakan batu kapur supaya tidak membahayakan orang lain.

Sendang atau Sumur

Sendang atau sumur ini juga terletak di daerah Mrapen, Jawa Tengah. Air dari sumur peninggalan Sunan Kalijaga ini pada awalnya sangat jernih. Namun, saat ini telah berubah warna menjadi keruh. Air sumur ini mendidih setelah Empu Supa menyepuhkan keris yang dibuatnya (keris kyai carubuk) ke dalam sumur tersebut.

Batu Bobot

Peninggalan pusaka dari Sunan Kalijaga  lainnya yaitu batu bobot. Batu bobot merupakan batu berat yang sengaja ditinggalkan Sunan Kalijaga dalam perjalanan dakwahnya di Mrapen. Letaknya di dekat Api Alam.


Teladan Sunan Kalijaga Bagi Generasi Muda 

Metode dakwah yang dilakukan Kanjeng Sunan Kalijaga sangat menarik, wayang dan gamelan menjadi sarana untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa. Melalui tembang atau kidung berbahasa Jawa, Sunan Kalijaga merangkul masyarakat untuk lebih mendalami dan menghayati ajaran agama Islam, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Contohnya tembang ilir-ilir, kidung rumekso ing wengi sangat popular dikalangan masyarakat Jawa, bahkan hingga saat ini.

Sunan Kalijaga dikenal dekat dengan para bangsawan keraton. Namun tak hanya itu, juga dekat dengan masyarakat umum lebih-lebih lagi masyarakat kelas bawah. Para pangeran dan raja dari berbagai kerajaan, mulai dari Kerajaan Demak, Jipang Panolan, Pajang dan Mataram Islam mengenal Sunan Kalijaga sebagai seorang yang bijak.

Sunan Kalijaga gemar sekali membantu masyarakat dalam menghadapi segala problematika kehidupan. Beliau selalu memberikan solusi atas berbagai persoalan. Maka dari itu, kemudian Sunan Kalijaga dikenal sebagai gurunya orang Jawa.

Sunan Kalijaga sangat peduli dengan tradisi. Berbagai  macam tradisi yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Islam, kemudian dirubah sedikit demi sedikit dengan cara menyisipkan nilai-nilai Islami kedalam tradisi tersebut. Sebagai comtoh, media wayang, yang semula menampilkan gambar manusia secara utuh, diubah menjadi sekadar gambar mati atau dari samping sehingga tidak lagi menyerupai manusia.

Melalui wayang inilah, Sunan Kalijaga menanamkan nilai ketauhidan, ajaran syari’at, serta nilai akhlak yang berlandaskan ajaran Islam. Dari ajaran Sunan Kalijaga ini, Islam Nusantara dan moderat tumbuh di Jawa.

Banyak sekali teladan yang bisa kita ambil dari sosok Kanjeng Sunan Kalijaga ini. Kita sebagai generasi muda, terlebih lagi orang Jawa, haruslah bangga dan lebih mencintai serta menghargai adat, tradisi, dan kebudayaan kita yang luhur dan penuh dengan filosofi yang mendalam. Dari Sunan Kalijaga, kita juga bisa mengambil teladan bahwa dalam mengemban misi dakwah kita harus santun, damai dan tetap menjunjung tinggi toleransi, karena sejatinya Islam merupakan rahmatan lil ‘alamiin. Sehingga tak cocok dan salah apabila Islam didakwahkan dengan cara kekerasan. Maka apabila sikap Sunan Kalijaga diterapkan di era sekarang, akan tercipta moderasi dalam beragama di Indonesia.


Daftar Pustaka

Abdullah, Rachmad. 2015. Walisongo ‘Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa (1404-1482 M). Solo: Al-Wafi.

Abu Amar, Imron. 1992. Sunan Kalijaga Kadilangu Demak. Kudus: Menara Kudus.

Aizid, Rizem. 2016. Sejarah Islam Nusantara.Yogyakarta: DIVA Press.

https://jateng.inews.id/berita/sunan-kalijaga.

https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Sunan_Kalijaga.

M. Syuhada, Maulana. 2013. Maryam Menggat: Menguak Propaganda Save Maryam. Yogyakarta: Bunyan.

Novitasari, Melinda. 2018. Skripsi: “Metode Dakwah Dengan Pendekatan Kultural Sunan Kalijaga”. Lampung: UIN Raden IntanLampung.

Saksono Sandi Berlian, Widji. 1995. Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo. Bandung: Mizan.

.

Senin, 06 Maret 2023

AKADEMIS KAMPUS DALAM MEWUJUDKAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM KESETARAAN GENDER

 AKADEMIS KAMPUS DALAM MEWUJUDKAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM KESETARAAN GENDER 

Oleh : Sugmalia Larasati 

Di Indonesia masih terdapat beberapa masyarakat yang menganggap bahwa perempuan itu tidak  berguna. Hal tersebut dikarenakan banyaknya kesalah pahaman peran yang ada didalam tatanan masyarakat menjadikan perempuan termarginalkan bahkan perempuan diberi sedikit kesempatan untuk berada diranah publik. Perempuan dianggap sebagai orang yang tidak bisa berpolitik serta lemah dalam hal apapun. Maka dari itu, saya mengambil judul ini ingin mewujudkan kampus yang responsif gender sehingga mahasiswa bisa mengamalkan dan menghapus diskriminasi dalam masyarakat.

Masyarakat menganggap bahwa gender itu adalah kodrat dari Tuhan  yang tidak bisa dirubah, padahal arti dari kesetaraan gender sendiri sudah jelas yaitu, kondisi masyarakat terhadap laki-laki atau  perempuan secara adil dan setara. Kemudian adil disini bukanlah diliihat dari kesamaan pembagian melainkan seimbang atau setara dalam peran  baik laki-laki ataupun perempuan. Padahal di dalam negara kita Hak perempuan itu sudah tercatat dalam sebuah konstitusi pasal 27 ayat 1 tentang kesetaraan antara warga negara tanpa memadang perbedaan gender. Hall ini tentu menjadi pondasi bagi setiap orang untuk melanjutkan perjuangan  RA Kartini dalam mewujudkan keadilan bagi perempuan di Indonesia . Yang mana Kartini berharap bahwa perempuan tidak menjadi kelas dua atau berada di bawah laki-laki, karena keinginan RA Kartini yaitu mewujudkan kesetaraan terhadap perempuan pada saat itu. Sejak Era Orde Baru Pemerintah kita sebenarnya sudah membuka diri terhadap nilai-nilai kesetaraan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenali Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita. Bahkan Indonesia juga mengirimkan wakil untuk bergabung di dalam Komite CEDAW (The Convention on the Eliminaltion of All Forms of Discriminaltion Agalinst Women).

       Dalam pembahasan gender kesetaraan dan keadilan gender memiliki dual aliran atau teori nurture dan teori nalture. Namun dapat dikembangkan satu konsep teori yang di ilhami dari dua konsep tersebut yang merupakan kompromistis atau keseimbangan yang disebut teori equilbrium.  Teori Equilibrium menjelaskan mengenai konsep keseimbangan dan keharmonisan yalng ditekankan Pada hubungan laki-laki ataupun perempuan. Dalam teori ini tidak mempertentangkan antara kaum laki-laki dan perempuan karena keduanya harus bekerja sama dalam kemitraan baik dilingkungan keluarga ataupun masyarakat.

        Bentuk-bentuk ketimpangan gender:

Malrginallisasi (Peminggiran)

    Pekerjaan yang dianggap kontribusi pembangunan minim perempuan karena perempuan halnyal mahir dalam pekerjaan domestik dalam rumah tangga, dan disini perempuan dianggap sebagai orang yang lemah dan tidak bisa berpolitik.

 Penyebab malrginallisasi perempuan:

Pemahaman bahwa wilayah kerja perempuan adalah wilayah domestik sedangkan laki-laki publik.

Adanya budaya patriarki yang menempatkan laki-laki lebih superior dari perempuan..

Subordinasi ( Menomer duakan Perempuan)

      Subordinasi hampir Sama dengan malrginallisasi, Untuk subordinasi sendiri yaitu perempuan dianggap sebagai sifat feminis sehingga memiliki titik rendah daripada laki-laki bahkan dalam pengambilan keputusan keluarga laki-laki adalah pengambi keputusan.

Stereotip (Pelabelan) 

     Pelabelan disini dapat dilihat dari jenis kelamin dan berhubungan dengan fungsi yang tidak mengandung kebenaran mutlak, Seperti halnya perempuan mandat pokoknya adalah masak,mengurus anak sedangkan laki-laki bekerja untuk mencari nafkah.

Beban Galndal

        Perempuan mengerjakan semua tanggungjawab secara berlebihan yang seharusnya dapat dilakukan pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan.

Diskriminasi 

    Tindakan perbedaan balik dari ras, suku, agama, jenis kelamin, sosial, dan budaya. Diskriminasi ini sering terjadi pada laki-laki ataupun perempuan yang dianggap lemah dan tunduh sehingga menyebabkan adanya kekerasan dalam bentuk apapun.

        Kesetaraan dan keadilan gender dapat dilihat dari tidak adanya Diskriminasi, malrginallisasi, beban galndal dan lainnya. Untuk itu kita sebagai warga negara Indonesia kita harus mewujudkan harapan dari RA Kartini.

Guna mewujudkan pengarusutamaan gender (PUG) maka dibutuhkan peningkatan pemahaman seluruh masyarkat terkait dengan kesetaraan gender.  Pada hakikatnya PUG memiliki tujuan pokok, yaitu untuk mengetahui lapisan yang ada di masyarakat bali laki-laki, perempuan, lansia ataupun disabilitas. Pendekatan gender dan pengarusutamaan gender (PUG) dalam program pemberdayaan kelompok PESK juga menghadapi tantangan norma-norma sosial yang dipengaruhi konteks geografis, sosial dan budaya yang kompleks di Indonesia. Hal tersebut pastinya  membutuhkan pengetahuan dan data yang kuat serta mekanisme terpadu untuk memberikan umpan balik mengenai efektivitas intervensi dari sebuah program pembangunan responsif gender. Ketidakadilan gender khususnya bagi perempuan penambang sebagian besar didasarkan pada keyakinan bahwa perempuan tidak cukup kuat secara  fisik dan intelektual untuk mengelola dan menggunakan sumber daya secara produktif. 

            Peran  Akademisi dan Lembaga Riset dalam pengarusutamaan gender sangat diperlukan terutama melibatkan mahasiswa sebagai agen perubahan serta penerapan Tridhalrmal Perguruan Tinggi dan manajemen kampus yang responsif gender. Bila kesetaraan gender dapat diwujudkan di Perguruan Tinggi, kesempatan perempuan sebagai pembuat keputusan dan menempati posisi strategis di kampus semakin meningkat dan terhapusnya kekerasan dalam kampus secara tuntas. Kita menginginkan pemahaman tentang kesetaraan Guna mewujudkan pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) maka dibutuhkan peningkatan pemahaman masyarakat terkait kesetaraan gender. Untuk itu, Perguruan Tinggi memiliki peran yang sangat penting guna mendukung proses sosialisasi dan difusi terkait PUG dan keadilan gender di tengah masyarakat. Perguruan Tinggi merupakan institusi pendidikan yang  memiliki kemampuan untuk merubah struktur sosial yang sudah melekat di masyarakat. PUG memiliki strategi untuk mewujudkan kesetaraan gender yaitu dengan cara memastikan, baik laki-laki maupun perempuan dapat mengakses, berpartisipasi, dan ikut dalam pengambilan keputusan serta mendapat manfaat dari hasil pembangunan responsif gender. Salah satu ukuran kemajuan PUG adalah bagaimana memastikan laki-laki dan perempuan menjadi sumber Daya manusia potensial yang perannya sama-sama menentukan keberhasilan pembangunan responsif gender.

         UIN KH. Abdurrahman Wahid memberikan fasilitas berupa UKM Sigmal yang mana UKM ini mempelajari tentang gender. UKM  ini dilembalgalkaln kepaldal mahasiswa yang kemudian diamalkan kepada masyarakat yang ada di sekitarnya, hal ini juga termasuk peran Perguruan Tinggi dalam pelaksanaan Tridarma Pergurualn Tinggi. Perguruan Tinggi memiliki peranan penting dan strategis untuk menyebarluaskan pengetahuan, nilai, norma, dan ideologi serta pembentukan karakter bangsa, serta kesetaraan dan keadilan gender. Melalui peran dan tugas ini diharapkan Perguruan Tinggi dapat membantu membangun dan meningkatkan pemahaman tentang kesetaraan gender yang lengkap.

          Hal ini akan berdampak Pada pengetahuan, sikap dan perilaku mahasiswa dalam praktek kehidupan sehari-hari. Dengan cara mengajak semua komponen, seperti seminar, workshop dan kajian gender khusus mahasiswa. Mahasiswa sebagai generasi muda harus meletakkan landasan yang kokoh bagi pencapaian kesetaraan dan keadilan gender. Pada akhirnya seluruh upaya baik ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perubahan di masyarakat, terutama ke arah masyarakat yang lebih toleran, anti diskriminasi dan anti kekerasan.


    


DAFTAR PUSTAKA

Dr (cand) Suharjuddin, S.pd, M.pd. 2020.Kesetaraan gender dan strategi pengarustamaannya.Jl Gerilya No.292 Purwokerto Selatan, Kab.Banyumas JawaTengah

Ikhlasiah Dalimonthe, M.Si 2021. Sosiologi Gender

Jurnal kementrian keuangan 

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/15362/Kesetaraan-Perempuan-dan-Laki-Laki.html#:~:text=(Pasal%2027%20Ayat%201%20UUD,perjuangan%20dan%20cita%2Dcita%20R.%20A

Minggu, 05 Maret 2023

  Langkah Kecilku Menuju Harapan

Oleh : Azelia Syifa Nurdin


Rintik hujan membasahi jalanan

Butiran air mengiringi angin larut dalam angan

Jejak kaki melangkah pada tujuan pasti 

Bayang kaki terus menghilang dikeramaian

               Langkah demi langkah terus melayang dijalan kenangan

               Ketika gelap bertandang

               Kita tak perlu meredup lalu padam

               Karena kita bukan matahari

               Yang ditakdirkan hanya untuk melewati pagi

Jalanan terjal menambah tantangan langkahku

Hembusan angin menerpa menambah suasana sejuk pagi hari

Langkah kecilku melaju menyusuri jalan harapan

Menuju bukit hijau yang terbawa dinginnya air kehidupan

               Di saat kita terbangun dari pagi 

               Merasakan dinginnya air di pagi hari

               Memohon dan bersujud padanya

               Seperti halnya air laut yang menerjang hidupmu

               Janganlah merasa tenggelam didalamnya

Rasakan angin yang menerpamu

Tak perlu jatuh dan rebah di tanah 

Bangkit dan tataplah langit

Dengan penuh harap dan keyakinan

               Kau dan aku adalah dua insan berbeda

               Berbeda sifat, berbeda pikiran

                Melalui gerbang utama yang kita masuki bersama

                Akan merubah langkah kita tuk maju menatap dunia

Jangan merasa terbunuh pagi

Dan janganlah merasa terenggut fajar

Karena kita bukan rembulan

Yang ditakdirkan melewati malam

Kita..... Adalah pemenang dalam segala dimensi ruang dan waktu


 Cacian

Oleh : Atika

Dengan lantang kau katakan bodoh. 

Dengan setarik nafas kau katakan lemah. 

Dan dengan gagah kau menganggap remeh. 


Terimakasih cacianmu membuatku bangkit

Cacianmu membuatku ingin selalu berjalan walau sakit. 

Ku coba terus menggapai tingginya langit. 

Untuk membuktikan aku bukan orang lemah, bodoh, dan selalu di anggap remeh. 


Kau tinggal tonton saja film yang akan ku buat di kehidupan ini.

Tapi jangan kaget jika endingnya aku pemenangnya.

Kau akan malu karena sudah menebak perfilman yang sebenarnya alurnya sedang ku usahakan. 


Minggu, 26 Februari 2023

Dampak Budaya Patriarki dan Diskriminasi terhadap Perempuan

 Dampak Budaya Patriarki dan Diskriminasi terhadap Perempuan

Oleh: Arifiani Ayu Budiati 

https://www.antaranews.com


Pada umumnya, di dalam kehidupan masyarakat masih melekat erat tentang budaya patriarki. Pada kondisi ini telah melambangkan bahwa yang pantas menempati posisi atas adalah laki-laki. Perempuan kerap kali dideskripsikan sebagai makhluk yang lemah, selalu menggunakan perasaan, dan juga ditetapkan  di posisi yang rendah dalam kehidupan sehari-harinya. Perbedaan penempatan posisi ini memiliki maksud bahwa laki-laki berposisi di atas perempuan sehingga mampu mengontrol perempuan. Perbedaan bentuk biologis juga dianggap sebagai budaya patriarki. Perempuan tidak mempunyai otot sehingga mayoritas masyarakat menganggap mereka lemah dan menempatkan mereka di posisi yang lemah. Perbedaan bentuk biologis antara perempuan dan laki-laki merupakan kondisi yang kurang seimbang. Negara yang menganut strata patriarki, laki-laki mendominasi perempuan dan laki-laki pasti dilihat sebagai insan pertama sedangkan perempuan di bawahnya, dalam hal apapun termasuk pembagian soal kerja, sebab keputusan selalu diambil oleh laki-laki (Nimrah&Sakaria, 2015:175).

Selama ini perempuan sering kali tenggelam akan masalah yang menimpanya, dan ini merupakan faktor dari diskriminasi terhadap seorang perempuan. Diskriminasi terhadap perempuan juga bisa disebabkan karena tertutupnya kesertaan perempuan di ruang lingkup publik. Perempuan juga bisa ikut serta dalam berperan penting dalam masyarakat dan negara, tapi sering kali tidak mendapatkan apresiasi terhadap peran dan kemampuannya. Diskriminasi terhadap perempuan memiliki wujud yang dibagi menjadi tiga bentuk yaitu stereotip, subordinasi, marginialisasi, beban berlebihan dan kekerasan. Diskriminasi berteraskan gender dan jenis kelamin menimbulkan beberapa masalah yang menimpa perempuan, baik dikehidupan berbangsa bernegara, masyarakat, maupun didalam rumah tangga. Kerja rumah tangga yang dilakukan perempuan tidak masuk ke dalam lembar isian sensus, karena kerja rumah tangga tidak diperhitungkan (Mouse : 2007).

Perempuan dilihat lebih pantas berkecimpung di sektor domistik, mengasuh anak, mencuci, memasak dan membersihkan rumah. Jika perempuan bekerja di sektor publik, selain harus menentukan pekerjaan yang setara dengan garis hidupnya, dia juga tetap berperan sebagai penolong suami dalam menyukupi kebutuhan keluarga. Perempuan seringkali diberikan gaji jauh lebih sedikit daripada laki-laki, padahal pekerjaan yang dikerjakannya sebanding dengan yang dilakukan seorang laki-laki (Robins : 2008). Budaya patriarki dan diskriminasi terhadap perempuan bisa mengakibatkan dampak negatif, misalnya seperti: adanya gangguan kesehatan mental sehingga bisa membuat seseorang mengalami depresi; menjadi pemicu terjadinya konflik sehingga tidak akan ada keharmonisan jika didalam keluarga; dan ketika seorang perempuan hidup dalam sebuah penuntutan sehingga timbul adanya pengekangan, maka dia akan merasa tidak memiliki hak untuk hidup secara bebas.

Entah diawali dari mana dan dari siapa, diskriminasi terhadap perempuan merasuk begitu kuat dan mendalam. Masyarakat bukannya tidak sadar, mereka sadar adanya diskriminasi namun tetap menyetujui dan membenarkannya. Bahkan sebagian besar dari mereka memanfaatkan keadaan tersebut untuk kepentingan pribadinya. Tidak akan terjadi kesetaraan gender terhadap perempuan jika tetap seperti ini. Laki-laki dan perempuan bisa berada di kedudukan yang sama dan sama ketika adanya keadilan diantara keduanya. Mendorong perempuan agar setara dengan laki-laki merupakan langkah bijak agar dapat mengurangi, mencegah, dan menghapus akan adanya kekerasan yang muncul. Berkehidupan yang baik dan maju itu didasari dari keluarga yang saling mengisi peran masing-masing secara optimal, sehingga tercipta keberkahan dan generasi yang unggul dunia akhirat.

Agama ada untuk keadilan dan kemanusiaan, menolak tirani dan kekerasan. Namun, realitas kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi di berbagai belahan dunia seringkali mengungkapkan hal sebaliknya. Bentuk kekerasan paling serius yang saat ini mengancam masa depan kemanusiaan adalah kekerasan terhadap perempuan. Saya menyerah pada kritik bahwa perempuan adalah sumber kehidupan. Kehidupan saat ini tidak mau jujur ​​menunjukkan bahwa perempuan memiliki potensi luar biasa yang sama dengan laki-laki. Seorang wanita memiliki pikiran untuk berpikir, hati nurani untuk merasakan, dan tubuh untuk bergerak bebas dalam ruang dan waktu

Perempuan mempunyai beberapa peran penting dalam segala aspek. Al-Qur’an telah memuliakan perempuan dalam kedudukan yang sangat terhormat. Hal ini membuktikan bahwa perempuan memiliki posisi khusus di dalam agama Islam. Perempuan juga memiliki beberapa peran penting yang bahkan seorang laki-laki pun tidak akan sanggup untuk melakukannya, di antaranya adalah:

Perempuan sebagai istri.  Padahal tidak ada seorang pun yang memiliki pengaruh paling besar terhadap seorang suami selain istrinya. Bukan kewajiban bagi seorang perempuan  untuk menjadi pemimpin. Namun, tugas mulia seorang perempuan adalah menjadi pendamping pemimpin, membimbing, dan menenangkannya.

Perempuan sebagai ibu. Tiada kemuliaan terbesar yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Tapi bagi perempuan, berperan sebagai ibu.

Peran perempuan di dalam bangsa dan masyarakat. Selain perannya di rumah, perempuan juga dapat berperan di dalam bangsa dan masyarakat. Namun, dia juga harus mengingat batasan yang ditetapkan oleh Syariat.

Banyak orang-orang hebat yang yatim. Bahkan ulama ahli ilmu seperti, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Bukhari, dll merupakan  ulama yang dibesarkan oleh ibu tunggal. Karena kecintaan seorang ibu terhadap pendidikan, dan doa merupakan kekuatan yang dapat mendorong putranya untuk berbuat kebaikan. Manusia lahir melalui perantaraan perempuan, dan laki-laki hebat lahir dari seorang perempuan hebat. Perempuan memiliki peran bahkan peran ganda. Jadi, jadikanlah keistimewaan ini sebagai keuntungan yang besar bagi banyak orang.

Nabi Muhammad Saw., beliau adalah nabi kita, pemimpin kita. Dibalik perjuangan beliau ada Sayyidah Khadijah yang selalu setia memberikan dukungan, semangat, dan tempat berlabuh ketika Nabi sedang menghadapi berbagai masalah. Begitupun istri sahabat Abu Thalhah Al-Anshari yang rela lapar semalaman bersama sang suami dan putranya demi menjamu tamu Nabi Muhammad Saw. Kisah Asiyah binti Muzahim yang tetap mempertahankan tauhid walaupun keimanannya harus dibayarkan dengan siksaan, hukuman, bahkan nyawanya. Perempuan-perempuan hebat tersebut sudah sangat cukup untuk kita jadikan Uswatun Khasanah dalam kehidupan sehari-hari. Entah itu tentang beragama, bermasyarakat, dan bahkan bernegara. Begitu besar peran perempuan dalam kehidupan kita ini, sehingga patut bagi kita untuk menghormati dan memuliakan perempuan. Dan untuk semua perempuan semoga bisa menjalankan amanah mulia yang telah dipercayakan.

Referensi

Nimrah S. & Sakaria. 2015. Perempuan dan budaya patriarki dalam politik (studi kasus kegagalan caleg perempuan dalam pemilu legislative 2014). The politics. Volume. 1. (2). Hlm. 173-182.

Mouse, Julia Cleves. 2007. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Robins, Stephen P. dan Judge, Timothy A. 2008. Perilaku organisasi edisi kedua belas. Jakarta: Salemba Empat.


Editor: Burhan Ali

Aku Melihat Harapan

 Aku Melihat Harapan

Oleh : Boerhan Ali

https://www.bola.com/


.

Aku melihat Harapan,

Bentangan hamparan tak terkira

Dengan cerah dan gelapnya

Putih yang memikat bercampur dengan hitam yang pekat

Menggoda siapa saja manusia terlihat


Aku melihat harapan,

Secercah semburat darinya

Bagaikan suluh penerang di kegelapan 

Menyala gagah di atas deruan ombak belasah


Tak sedikit keluhan hidup datang

Tak banyak masa berdampingan akan selalu kandas

Tak semua orang bisa bertemankan harapan

Juga tak segelintir orang mampu membawa kecerahan sebab bersama secuil harapan.


“Aku tidak punya harapan” 

Bahasan utama yang selalu berhasil membalikkan qodrat

Bahkan kerap memisah raga dari tujuan mulia 

Sampai pada titik keinginan berpisah dari jeruji berpuluh-puluh masalah


Setitik harapan, namun puspawarna masalah terselesaikan

Seperti sejumput garam yang mengganti kekurangan rasa pada semua makanan

Atau setetes air yang menumbuhkan berbagai tanduran 

Dan secucup kasih sayang yang mampu menenangkan suasana


Harapan akan hilang tanpa dijaga

Juga bisa lenyap tak karuan tanpa bersisa

Namun akan tetap hidup bersama dengan gerak dalam kawah candradimuka

Ya, gerak menanam, merawat, dan merasa.

MERAIH HAKIKAT KEBAHAGIAAN DENGAN CINTA


                            MERAIH HAKIKAT KEBAHAGIAAN DENGAN CINTA

                                                                    Oleh: Leni L.S

sumber: https://islam.nu.or.id/


Hakikat kemutlakan cinta, mari kita selami bersama

Tiada jalan yang bisa meniti kemungkinan mencapai keberhasilan bahagia

Kecuali dengan kekuatan cinta

Baginda Rasulullah adalah suri tauladan bersama, dan patut di cintai

Karenanya bahagia akan segera menampakkan diri

Pada bulan Sya`ban yang mulia ini, mari menuju kemenangan

Bulan dengan segala penghormatan untuk baginda kita, Rasulullah

Tiada alasan untuk tidak mencintainya

Karena begitu nyata kemutlakan cinta akan tercapai bahagia sejati.

Selasa, 14 Februari 2023

RAPAT KERJA HMPS IAT 2023

 

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Universitas Islam Negeri (UIN) K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan kembali mengadakan Rapat Kerja pada Sabtu (11/2/23). Rapat Kerja tahun ini mengambil tema “BERGERAK BERSAMA DEMI MEWUJUDKAN SEMESTA HMPS YANG KOMPETEN, PROGRESIF DAN KREATIF”

Kegiatan Rapat Kerja dan Upgrading bertempat di Gedung NU Wonoyoso Pekalongan. Rapat tersebut dihadiri oleh pengurus HMPS IAT, perwakilan Senat Eksekutif Mahasiswa, ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa serta Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Bapak Misbahudin, Lc., M.Ag yang memberikan sambutan sekaligus membuka acara.

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an, menyanyikan Mars UIN Gusdur, dan sambutan-sambutan. Sambutan disampaikan oleh  ketua pelaksana, ketua HMPS IAT, dan Ketua Program Studi IAT. Kemudian acara dilanjut dengan Rapat Kerja yang meliputi sidang tertib dan sidang raker serta upgrading yang disampaikan oleh Ketua Dema FUAD sekaligus Demisioner HMPS IAT 2022.

Dalam sambutannya Kaprodi IAT, Bapak Misbahudin, Lc., M.A.g. mengatakan sangat tertarik dengan tema Rapat Kerja yang diusung tahun ini. “Saya tertarik dengan tema Rapat Kerja tahun ini, karena bergerak bersama bukan hal yang mudah untuk kita lewati dalam berorganisasi, tapi saya yakin pengalaman-pengalaman kita di organisasi akan sangat penting ketika terjun di masyarakat nantinya” tutur beliau.

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Imam Fadholi berharap agar Rapat Kerja HMPS IAT kedepannya bisa lebih baik lagi. Selain itu, Imam juga berharap agar HMPS IAT dapat menjalankan tugas dengan lebih baik lagi, membentuk chemistry dalam organisasi. Menurutnya menjadi aktivis tidak menghalangi kita untuk tetap berprestasi di bidang akademik.

 

Dwi Meilan Maulidan selaku ketua pelaksana mengatakan, bahwa Raker tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena adanya materi upgrading. Materi tersebut disampaikan oleh Ainur Rofiq selaku Ketua Dema FUAD dan demisioner  HMPS IAT.

 

Oleh : Khoerun Nissa A
Editor : Sokhifah Hidayah