Subscribe Us

6/recent/slider

Entri yang Diunggulkan

Luka Bercerita

Kau tahu apa tentang kesedihan? Kesedihan adalah hujan di saat kemarau; langit menetes ketika bumi tak lagi berharap, dan tak seorang pun me...

Selasa, 10 Desember 2024

Nasaruddin Umar: Penyeru Keselarasan Sosial dalam Bingkai Moderasi Beragama (Analisis Fenomena Nasaruddin Kecup Jidat Paus hingga Jabat Menag)

 

Krisna Hadi Wijaya

krisna.hadi.wijaya@mhs.uingusdur.ac.id

UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia


 

Figure 1: Nasaruddin Umar Kecup Jidat Paus Fransiskus di halaman Masjid Istiqlal, Jakarta (5/9/2024) (Foto: Katolikana.com)


Awal bulan lalu (5/9/2024), masyarakat       Indonesia, bahkan dunia, dihebohkan dengan satu fenomena menarik dari dua tokoh agama besar, yakni momen hangat antara Nasaruddin Umar dengan Paus Fransiskus, di halaman Masjid Istiqlal, Jakarta,


seusai rangkaian acara kunjungan Paus Fransiskus ke masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut. Tepatnya, momen hangat yang paling menjadi sorotan yaitu ketika Paus dan Nasaruddin saling bersalaman ketika hendak berpisah. Lantas, Nasaruddin tampak mengecup jidat Paus sebanyak dua kali. Paus pun kemudian membalasnya dengan mencium tangan Nasaruddin beberapa kali (Mantalean, Vitorio; Setuningsih, Novianti, 2024).

 

Diketahui, Nasaruddin Umar merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia, sejak tahun 2016. Ia juga merupakan seorang cendekiawan Islam dan Guru Besar Bidang Ilmu Tafsir di Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang sebelumnya, pendidikan magister dan doktoralnya ditamatkannya di kampus tersebut. ia juga merupakan pendiri organisasi lintas agama “Masyarakat Dialog antar Umat Beragama,” serta pernah menjabat sebagai Dirjen pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Kementerian Agama Republik Indonesia. Terbaru, ia kini resmi menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia sejak 21 Oktober 2024 kemarin, yang menggantikan Yaqut Cholil Qoumas (Wikipedia, 2024).

 

Sebagai seorang ulama, ia dikenal sebagai ulama yang kerap menyerukan moderasi beragama. Hal ini salah satunya bisa dilihat dari peran Nasaruddin Umar sebagai Imam Besar Masjid


Istiqlal yang rajin membuka gerbang Istiqlal untuk kunjungan silaturahmi atau dialog lintas agama. Momen hangat bersama Paus Fransiskus tadi pun menjadi kegiatan terbarunya dalam menggelar Inter-Faith Dialogue antara Paus Fransiskus dengan 150 tokoh agama Indonesia, dalam kapasitasnya sebagai Imam Besar Istiqlal yang saat itu menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. Dalam momen bersejarah itu, Nasaruddin dan Paus bersama-sama meneken Deklarasi Istiqlal, yang mengorientasikan pentingnya peran agama-agama dalam menangani berbagai persoalan dehumanisasi manusia dan eksploitasi lingkungan hidup (Yudhapratama, Ageng, 2024). Dalam pandangan Paus Fransiskus sendiri, Indonesia merupakan bagian dari upaya untuk memecah ketegangan antara Kristen dan Islam (Marta, Dwiki, 2024).

 

Sementara Paus yang Bernama asli Jorge Mario Bergoglio tersebut merupakan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia ke-266 sejak 2013. Ia memilih nama Fransiskus sebagai nama kepausannya sebagai bentuk penghormatan Santo Fransiskus dari Assisi. Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai figur agamawan yang rendah hati, penekanannya pada belas kasihan Tuhan, kepeduliannya terhadap orang miskin, komitmennya pada dialog antar agama, dan visibilitas internasional sebagai paus (Wikipedia, 2024). Sama halnya dalam hal upaya penguatan moderasi beragama yang telah dibuktikan dari Deklarasi Istiqlal tadi, ia juga sempat memuji dan berharap persaudaraan dan kerukunan antar agama tetap terjaga, salah satunya dengan adanya terowongan Inter-Faith Dialogue antara Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral (Mantalean, Vitorio; Setuningsih, Novianti, 2024).

 

Ditinjau dari paradigma definisi sosial, sebagaimana dipelopori oleh Max Weber, yang mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang berupaya untuk menafsirkan dan memahami tindakan sosial (Raho, Bernard, 2016), penulis mencoba menekankan realitas sosial yang subyektif dari tindakan yang dilakukan oleh Nasaruddin tadi sebagaimana telah disebutkan. Yakni, jika mengacu pada teori Weber tadi, tindakan sosial yang dalam hal ini berupa mengecup jidat seorang paus, sudah barang tentu sangat berarti bagi dirinya sekaligus kepada orang lain pada umumnya.

 

Kendati teori tindakan sosial yang dipelopori Weber ini relatif tidak berkembang dewasa ini, namun teori ini tetap menjadi penting karena perannya dalam meletakkan konsep dasar bagi teori-teori yang mungkin lebih berkembang di kemudian hari, yakni teori interaksionalisme simbolik dan fenomenologi (Raho, Bernard, 2016). Terlepas dari hal demikian, mengenai hal ini, Weber menyebut beberapa konsep penting dalam teori ini, yaitu tentang (1) motivasi, (2) niat (intent), dan (3) perilaku (behaviour). Hematnya, dengan ketiga konsep inilah suatu


tindakan dapat dianalisis, yang kemudian teori tindakan sosial ini lebih berkembang lagi menjadi dua teori yang disebutkan terakhir tadi (Supraja, Muhammad, 2012).

 

Melalui teori ini, nampaknya, dapat dipahami bahwa bentuk tindakan sosial Nasaruddin itu merupakan suatu motivasi yang muncul dari kesadarannya sendiri sebagai objek realitasnya, di mana ia merupakan figur agamawan besar di Indonesia yang kerap kali menggaungkan penguatan moderasi beragama di Indonesia, bahkan dunia. Lebih-lebih ia sendiri merupakan pendiri organisasi lintas agama Masyarakat Dialog antar Umat Beragama”.

 

Nasaruddin juga seakan-akan senantiasa berupaya untuk tetap menggaungkan perdamaian dunia lantaran tidak jarangnya berbagai konflik yang mengatasnamakan agama, dapat mengantarkan perpecahan atau pertikaian antar kelompok maupun masyarakat. Tidak lain juga sebagai implementasi langsung dari Deklarasi Istiqlal yang menitikberatkan pada peran agama- agama dalam menangani berbagai persoalan dehumanisasi manusia dan eksploitasi lingkungan hidup. Nampaknya, inilah yang menjadi niat besar Nasaruddin yang tumbuh dari motivasi tadi.

 

Dengan kecupan khas Nasaruddin kepada Paus itu pula, nampaknya ia berusaha menunjukkan suatu cara yang terkadang dianggap anomali oleh orang-orang pada umumnya, terutama bagi para kaum ekstremisme Islam yang alergi dengan hal-hal demikian. Yakni di mana agama oleh mereka hanya dipandang dari sisi normativitasnya, tanpa melihat sisi historisitasnya. Sisi normativitas, sebagaimana diketahui, yaitu ketika agama berada pada tataran normatif yang bersifat eternal. Sedangkan sisi historisitas dalam artian sisi di mana nilai-nilai eternal agama yang universal masuk pada ruang lingkup budaya. Tentu hal demikian tidak lain masih dalam koridor menyerukan keselarasan sosial dalam bingkai moderasi beragama.

 

Para sosiolog juga berpendapat bahwa dua sisi agama tersebut memiliki perbedaan masing- masing, namun tidak dapat dilepaspisahkan (Syamsuddin, Akbar, 2020). Adapun ketika nilai- nilai universal agama telah masuk ke dalam dimensi historisitas atau budaya, maka semestinya agama terintegrasi dengan persoalan-persoalan parsial kehidupan aktual manusia. Tentu persoalan ini tidak bisa dilepaspisahkan dari masyarakat karena sifat agama sendiri yang merupakan kebutuhan asasi dalam kehidupan masyarakat.

 

Dipilihnya cara anomali itu pun sudah barang tertentu telah melalui berbagai pertimbangan, baik secara normativitas maupun historisitas agama, sosio kultural maupun sosio-politik, dan lain sebagainya, yang barang kali isu-isu tersebut masih berkembang hangat dewasa ini. Salah


satu sebagai contohnya ialah ketegangan antara Islam dan Kristen yang juga berusaha dipecahkan oleh Paus Fransiskus pula saat kunjungannya ke Indonesia itu.

 

Sementara bagi khalayak umum, tindakan khas yang dilakukan oleh Nasaruddin kepada Paus itu tadi jelas menjadi fenomena yang sangat jarang sekali dijumpai. Tentu banyak pemaknaan atau penafsiran terkait hal tersebut, baik secara normativitas maupun historisitas, mengingat sosok Nasaruddin merupakan salah satu tokoh agamawan yang menjadi panutan di Indonesia. Terlepas dari dualitas perbedaan penafsiran itu, jelasnya Nasaruddin telah memberanikan diri untuk kembali menyegarkan semangat moderasi beragama melalui keselarasan sosial sekalipun melalui perilaku mikro seperti yang dilakukannya itu. Ia otomatis juga telah menjadi suatu tauladan tersendiri bagi segenap umat beragama di  Indonesia bahkan dunia untuk senantiasa menjaga dan menguatkan moderasi beragama di manapun dan kapanpun.

 

Adapun hal yang cukup unik lagi ialah mengenai ditunjuknya Nasaruddin sebagai Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia dalam Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masa bakti 2024-2029 sejak 21 Oktober 2024 kemarin, yang menggantikan Yaqut Cholil Qoumas lantaran telah purna tugasnya sebagai Menag dalam Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin masa bakti 2019-2024. Ada netizen yang menilai bahwa hal demikian merupakan keberkahan dari Tuhan lantaran Nasaruddin pernah mengecup jidat Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia. Nampaknya, bagi umat Katolik sendiri hal demikian memang menjadi sebuah kepercayaan mistis tersendiri, di mana fenomena khas tersebut berlangsung belum lama dari dilantiknya Nasaruddin sebagai Menag.

 

Terlepas dari keragaman anggapan itu, yang jelas secara empiris—baik sebelum maupun setelah resmi menjabat Menag—Nasaruddin telah mencontohkan salah satu bentuk tindakan simbolik kepada publik sebagai seruan untuk senantiasa menjaga keselarasan sosial yang masih dalam bingkai moderasi beragama. Adapun fakta mengenai dilantiknya sebagai Menag, bisa saja karena relevansi profesionalisme Nasaruddin dengan strategi Prabowo yang hendak mengisi kabinetnya dengan tokoh-tokoh dari kalangan professional, di mana Menag sendiri mengemban tugas besar untuk senantiasa menggaungkan semangat moderasi beragama, yang bisa dikatakan sesuai dengan background Nasaruddin.

 

Berpijak dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa semangat moderasi beragama harus senantiasa dijaga, dirawat, dan dikuatkan, di manapun tempatnya dan kapanpun


waktunya sekalipun melalui perilaku-perilaku mikro terhadap umat beragama lain. Implementasi ini juga tidak semata-mata menjadi perilaku tersendiri bagi para tokoh pembesar negara, apalagi menganggapnya sebagai suatu kewajiban dan tugas mereka, melainkan berlaku bagi setiap individu umat beragama yang telah dicontohkan oleh setiap ulama’ melalui peranannya dalam berbagai bentuknya. Hal ini lagi-lagi mengingat bahwa Indonesia tidak lain merupakan negara yang berideologi Pancasila dengan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyannya yang khas itu, yang sangat mengisyaratkan bahwa keniscayaan suatu perbedaan antar kelompok yang terjadi harus senantiasa terjaga persatuan dan kesatuannya dalam satu lingkup besar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Bibliography

 

Mantalean, Vitorio; Setuningsih, Novianti. (2024). Momen Hangat Paus Fransiskus dan Nasaruddin Umar, Jabat hingga Cium Tangan. Jakarta: Kompas.com. Retrieved Oktober       21,       2024,                                                from https://nasional.kompas.com/read/2024/09/05/11483021/momen-hangat-paus- fransiskus-dan-nasaruddin-umar-jabat-hingga-cium-tangan?

 

Raho, Bernard. (2016). Sosiologi (4 ed.). Yogyakarta: Moya Zam-zam.

 

Supraja, Muhammad. (2012). Alfred Schutz: Rekonstruksi Teori Tindakan Max Weber. Jurnal Pemikiran Sosiologi, 1 (2), 81-90.

 

Syamsuddin, Akbar. (2020). Konflik Sosial dalam Perspektif Sosiologi Agama. Al-Din: Jurnal Dakwah dan Sosial Keagamaan, 6 (1).

 

Wikipedia. (2024, Oktober 21). Nasaruddin Umar. Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas.

Retrieved Oktober 22, 2024

 

Wikipedia. (2024, Oktober 16). Paus Fransiskus. Retrieved Oktober 22, 2024

 

Yudhapratama, Ageng. (2024). Pernah Cium Paus, Nasaruddin Umar Kini Jabat Menteri Agama.                            Jakarta:                Katolikana.com.                Retrieved                from https://www.katolikana.com/2024/10/20/pernah-cium-paus-nasaruddin-umar-kini-

jabat-menteri-agama/

0 comentários:

Posting Komentar