Subscribe Us

6/recent/slider

Entri yang Diunggulkan

Luka Bercerita

Kau tahu apa tentang kesedihan? Kesedihan adalah hujan di saat kemarau; langit menetes ketika bumi tak lagi berharap, dan tak seorang pun me...

Senin, 27 April 2026

Studium General UIN GusDur : Gen-Z dan Kajian Al-Qur’an di Indonesia, Optimisme Era Baru

Pada hari Senin, 27 April 2026 pukul 13.00–16.00 WIB, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur) menyelenggarakan kegiatan Studium General yang berlangsung di Ballroom Lantai 3 Gedung Laboratorium Terpadu Kampus 2 Kajen. Kegiatan akademik ini mengangkat tema “Gen-Z & Kajian Al-Qur’an di Indonesia: Optimisme Era Baru” dan dihadiri oleh jajaran pimpinan kampus, dosen, serta mahasiswa dari berbagai program studi.

Sejak awal acara, suasana ballroom sudah dipenuhi oleh para peserta yang antusias mengikuti kegiatan tersebut. Acara dimulai dengan pembukaan resmi oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang menambah kekhidmatan suasana. Seluruh peserta menyimak rangkaian pembukaan dengan penuh perhatian sebagai bentuk penghormatan terhadap tema besar yang diangkat dalam Studium General ini.

Sambutan pertama disampaikan oleh Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD), Dr. Tri Astutik Haryati, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah hadir. Ia menegaskan bahwa kajian Al-Qur’an di Indonesia, khususnya bagi Generasi Z yang hidup di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya perkembangan teknologi, menghadirkan tantangan besar sekaligus peluang baru. Menurutnya, Al-Qur’an harus tetap menjadi sumber transformasi pengetahuan dan kesadaran di tengah fragmentasi makna yang terjadi pada era digital.

Beliau juga berharap Studium General ini tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga menjadi ruang kontemplasi yang mampu menumbuhkan kesadaran spiritual mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai keislaman. 

Selanjutnya, sambutan sekaligus pembukaan resmi acara dilakukan oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Gus Dur, Dr. Nur Kholis, M.A., yang hadir mewakili Rektor. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kehadiran narasumber utama menjadi kesempatan berharga bagi seluruh peserta untuk mendapatkan kedalaman ilmu, keteladanan dalam ketawadhuan, serta semangat mencintai ilmu pengetahuan. Beliau kemudian secara resmi membuka kegiatan dengan mengucapkan basmalah.

Memasuki acara inti, narasumber utama Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan, M.A., Guru Besar UIN Saizu Purwokerto, menyampaikan materi mengenai “Gen-Z & Kajian Al-Qur’an di Indonesia: Optimisme Era Baru”. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa Generasi Z memiliki tantangan besar karena hidup di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat cepat. Namun, kondisi tersebut juga membuka peluang besar bagi generasi muda untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang tetap relevan dengan perkembangan zaman. Beliau menekankan bahwa kajian Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada pemahaman tekstual semata, tetapi harus mampu menjawab realitas sosial secara kontekstual, inklusif, dan adaptif. Mahasiswa diajak untuk berpikir kritis, terbuka terhadap perubahan, namun tetap menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi utama dalam kehidupan akademik maupun sosial.

Selama sesi berlangsung, para peserta terlihat sangat antusias. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan dan berdiskusi langsung dengan narasumber mengenai tantangan kajian Islam di era digital, penggunaan media sosial secara bijak, hingga peran generasi muda dalam menjaga nilai-nilai Qur’ani di tengah modernitas.

Kegiatan Studium General berakhir pada pukul 16.00 WIB dan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama antara narasumber, pimpinan kampus, dosen, dan seluruh peserta. Acara ini menjadi bukti nyata komitmen UIN Gus Dur dalam menghadirkan ruang akademik yang memperkuat wawasan keilmuan sekaligus menumbuhkan kesadaran spiritual mahasiswa. Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir Generasi Z yang mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, sumber inspirasi, dan kekuatan moral dalam menghadapi masa depan.

Editor : Dept. Keilmuan

Selasa, 21 April 2026

"طريق النور"

Aku pernah jatuh sedalam malam yg tak bersuara..

Langkahku patah

Harapan terasa fatamorgana

Hari-hari berjalan tanpa arah

Bagaikan burung lupa akan sayapnya

Langit terbentang begitu luas

Namun aku ragu untuk terbang


Kupandang hamparan angkasa petang, hingga seruan الصلاة الضحى menggema dalam jiwa..

Disitulah waktu berbisik

Gelap bukan berarti tak akan terang

Tuhan masih menulis takdir terbaik dimushaf kehidupanku..


Oleh : Arina Khoirotina

Minggu, 19 April 2026

"Ruh Pesantren"

Genangan awan kian menari-nari dilangit atap suci ..

Sore itu langkahku masih kuat disana,,

Qalbu masih mendekap erat penuh ketenangan,,

Mendengar ribuan kalimat cakrawala nan menyejukan,,

Langkah penuh keyakinan..

laksana dermaga perang yang mendera hingga terbitnya kemerdekaan,,

Jari-jemari bertinta saksi perjalanan,,

Menggores mimpi di atas lembaran kehidupan,

Seolah berbisik lirih tentang masa depan

Bahwa lelah hari ini adalah benih keberhasilan.


Oleh : Arina Khoirotina

Editor : Dept. Keilmuan 

Kamis, 16 April 2026

“Pergeseran Paradigma Tafsir Al-Qur’an: Dari Individualitas Menuju Tradisi Genealogis”

Dalam dua puluh tahun terakhir, kajian tafsir Al-Qur’an menunjukkan perubahan cara pandang yang cukup mendasar. Jika sebelumnya tafsir kerap dipahami sebagai hasil pemikiran individual yang berdiri sendiri, kini ia lebih dilihat sebagai produk tradisi intelektual yang terbentuk melalui proses sosial, kultural, historis, dan bersifat akumulatif. Salah satu figur penting dalam pergeseran ini adalah Walid Saleh, yang mengajukan konsep genealogical tradition dalam penulisan sejarah tafsir.

Dalam kerangka genealogis, Saleh menegaskan bahwa karya tafsir tidak dapat dipahami secara terpisah dari tradisi yang melahirkannya. Tafsir dipandang sebagai jaringan proses transmisi, adopsi, revisi, dan transformasi makna yang berlangsung lintas generasi. Seorang mufasir tidak hanya berinteraksi dengan teks Al-Qur’an, tetapi juga dengan warisan interpretasi sebelumnya, yang kemudian ia olah kembali dalam konteks zamannya.

Dalam konteks ini, dapat diidentifikasi suatu tipologi yang menunjukkan pola interaksi para mufasir terhadap tradisi tafsir. Pertama, tipologi transmisi, yaitu kecenderungan mufasir untuk menukil dan melestarikan pendapat-pendapat sebelumnya. Kedua, tipologi seleksi, di mana mufasir mulai melakukan pemilahan terhadap berbagai pandangan yang ada. Ketiga, tipologi rekonstruksi, yakni upaya menyusun ulang materi tafsir dengan penekanan dan struktur baru. Keempat, tipologi transformasi, yaitu pengembangan makna yang lebih kreatif sesuai dengan horizon intelektual zamannya. Tipologi ini menegaskan bahwa tafsir bukan sekadar reproduksi, melainkan proses dinamis yang melibatkan negosiasi makna secara terus-menerus.

Gagasan ini tampak dalam karya para mufasir klasik seperti Al-Tha'labi, Al-Zamakhshari, hingga Al-Baydawi, yang seluruhnya beroperasi dalam kerangka tradisi yang terus diwariskan sekaligus dinegosiasikan. Dalam perspektif ini, orisinalitas tidak diartikan sebagai penciptaan gagasan yang sepenuhnya baru, melainkan sebagai kemampuan untuk berdialog secara kreatif dengan khazanah tafsir yang telah ada.

Lebih jauh, Saleh juga mengkritik pandangan yang menganggap pengulangan dalam literatur tafsir klasik sebagai bentuk kemandekan intelektual. Ia justru melihat adanya mekanisme “daur ulang” yang kompleks di balik fenomena tersebut. Para mufasir melakukan seleksi, penataan ulang, serta pemberian aksentuasi baru terhadap materi yang diwarisi, sehingga menghasilkan konstruksi makna yang relevan dengan horizon intelektual dan kebutuhan zamannya.

Oleh : Arina Khoirotina

Selasa, 14 April 2026

Sebuah Puisi Berjudul Mimpi


 Di pagi sunyi kubuka lembar harapan,

Huruf-huruf jatuh seperti cahaya pelan.

Langkah kecil tak gentar oleh waktu,

Ilmu kupanggil, kusebut namamu satu-satu.


Bila lelah singgah di bahu yang rapuh,

Kuingat mimpi yang tak boleh runtuh.

Karena setiap tanya adalah jalan,

Dan setiap belajar menumbuhkan masa depan.


Oleh : Yusuf Akhmal P. 

Sabar Menuntut Ilmu

Langkah kecil di jalan panjang,

lelah datang tak terbilang.

Namun hati tetap bertahan,

demi ilmu dan harapan.


Tak instan, tak selalu mudah,

jatuh bangun jadi arah.

Sabar jadi teman setia,

mengantar sampai tujuan mulia.


Oleh : Ainun