PASAR JAJAN GRATIS DI PEKALONGAN:
BENTUK AKULTURASI ISLAM-JAWA
Burhan Ali
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah
UIN KH. Abdurrahman Wahid, Pekalongan
Sejak dulu, Indonesia terkenal sebagai bangsa yang mempunyai beragam tradisi yang luar biasa banyak dan bermacam-macam. Kekayaan tradisi tersebut diperoleh dari keragaman etnik dan budayanya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan beragam kebudayaan tersebut pernah dijelaskan secara komprehensif oleh Koentjaraningrat dalam bukunya Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Jakarta, Penerbit Djambatan: 2002), seperti kebudayaan Batak, Ambon, Aceh, Flores, Minangkabau, Bali, Sunda, Jawa, dan lain sebagainya. Salah satu keragaman tersebut adalah tradisi Pasar Jajan Gratis di Pekalongan.
Tradisi-tradisi yang ada di Indonesia pada dasarnya muncul dengan suatu motif-motif sosial, ekonomi, maupun keagamaan. Dalam mengikuti tradisi-tradisi tersebut, sebagaimana yang penulis kutip dari Muhammad Isfironi dalam jurnalnya yang berjudul Agama dan Solidaritas Sosial: Tafsir Antropologi Terhadap Tradisi Rasulan Masyarakat Gunung Kidul DIY (Jurnal al-‘Adalah: Vol.16 No.1 tahun 2013) suatu individu tertentu kerap kali tidak didorong oleh keinginan apapun untuk memenuhi fungsi latent pattern maintance, yaitu upaya pelestarian pola kebiasaan masyarakat sosial atau penyesuaian diri dengan kebiasaan-kebiasaan yang sudah dijalankan dengan baik. Sebaliknya dorongan-dorongan yang bersifat personality justru lebih memotivasi mereka seperti keinginan memenuhi kewajiban-kewajiban agama, memperoleh keselamatan atau kedamaian jiwa.
Pasar jajan gratis merupakan salah satu tradisi tahunan yang populer bagi masyarakat Pekalongan, baik yang tinggal di daerah pesisir maupun perkotaan. Tradisi ini menjadi salah satu seremonial yang sangat dinanti-nantikan oleh semua kalangan masyarakat, baik tua, muda, maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan, bahkan oleh lapisan atas seperti pejabat pemerintah dan tokoh tersohor di daerah maupun menengah seperti warga sipil, terlebih lapisan bawah seperti warga yang tergolong dalam kriteria keluarga miskin. Pasalnya, tradisi ini memuat segala jenis dunia perkulineran. Karena masing-masing keluarga dituntut untuk menyajikan beragam menu makanan dan minuman yang bisa dinikmati oleh pengunjung dari manapun. Tradisi ini biasanya digelar perdukuh atau desa dan dibedakan waktu pelaksanaannya antar dukuh atau desa satu dengan yang lainnya. Sehingga dalam konsepnya, masing-masing pelaksana berbeda-beda dan berupaya menjadikannya semeriah dan seramai mungkin agar dapat menarik pengunjung dari luar desa bahkan kecamatan. Seperti dimeriahkan dengan pembuatan stand permainan, orkes dangdut, bahkan perlombaan.
Akultuasi Islam Jawa
Berbicara soal keberagaman orang Jawa, tentu akan terhubung dengan obyek yang kompleks yakni Islam dan tradisi Jawa atau dengan istilah Karakter Islam berwajah lokal. “Islam-Jawa”, begitu kiranya istilah yang berikan oleh Cliffort Geertz dalam karyanya “The Javanese Religion”. Di mana Islam yang ada di Jawa bernuansa lokalitas melalui agen-agen sosial hadir secara aktif dalam masyarakat luas dalam rangka mewujudkan Islam yang bercorak khas, yaitu Islam yang begitu menghargai tradisi-tradisi lokal daerah. Dalam istilah sosiologi, Islam-Jawa merupakan produk dari akulturasi antara Islam dengan budaya Jawa, yang dengannya melahirkan sesuatu yang disebut sebagai local genius. Yaitu kemampuan menyerap sesuatu bersamaan dengan menyeleksinya terhadap pengaruh kebudayaan asing, sehingga menciptakan sesuatu yang baru dan unik.
Pertemuan Islam dengan budaya lokal sebenarnya adalah sunnatullah. Di mana tidak ada ajaran agama apapun yang turun di dunia ini yang vakum dengan budaya tempat ia diturunkan. Ketika Islam datang ke Jawa, maka mau tidak mau ia harus bersentuhan dengan budaya lokal yang sudah mengakar kuat dalam penduduk setempat. Faktanya, ketika Islam menjumpai varian-varian kultur lokal seperti di Jawa, maka ia akan langsung bersimbiosis dengannya dalam proses-proses penyebarannya yang saling memperkaya. Demikian juga terjadi di berbagai belahan dunia yang lain. Karenanya Islam begitu “Multiwajah”. Sehingga semakin ke sini, Islam sebagai suatu aturan atau norman telah menjadi aturan kehidupan masyarakat, atau dalam konteks Islam sebagai agama sekaligus sebagai budaya masyarakat Jawa. Bagaimanapun, Islam-Jawa merupakan Islam juga, hanya saja keIslaman orang-orang Jawa berbeda dengan Islam lainnya karena faktor kebudayaan yang memunculkan varian keberagaman dalam bingkai sosial-budaya etnis.
Budaya-budaya dan tradisi lokal yang berakulturasi dengan Islam seperti tradisi slametan 3, 7, 40, 100, dan 1000 dari hari kematian, mitoni (tujuh bulan kehamilan) di Jawa, atau pertunjukkan wayang dalam bidang kesenian. Juga seperti masjid Agung Banten dengan ciri khas arsitektur campuran Islam dan Hindu. Atau dalam bidang vokal seperti seni beluk di budaya Sunda. Termasuk tradisi Pasar Jajan Gratis yang mengakulturasikan ajaran Islam dan tradisi Jawa dengan baik. Seperti konsep menjamu tamu dan memuliakannya dalam Islam serta rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat yang diberikan selama ini. Biasanya dikaitkan dengan nikmat merdeka. Di mana sesuai sejarah awal munculnya tradisi ini yaitu dalam peperangan melawan penjajah. Ketika setelah para pejuang bergerilya dengan penjajah, dan turun meninggalkan pos-pos mereka. Kemudian disambut oleh seluruh warga yang telah menyuguhkan berbagai makanan dan minuman. Sedangkan menciptakan rasa kebersamaan dan guyub warga setempat merupakan tradisi Jawa. Di mana di Jawa selalu mengedepankan sikap kerukunan dan mengingat jasa para pahlawan atau yang sering dikenal dengan istilah napak tilas seperti yang dikemukakan oleh Yubair Ibnu Fatah dalam Kotomono.co (https://kotomono.co/pasar-jajan-di-pekalongan-memang-tempat-menjalin-keakraban/ 1/9/2022)
Tradisi yang Lestari
Dengan kata lain, kehidupan sekarang yang tergolong modern saja masih menjadikan agama sebagai alasan atau dasar dalam setiap tindakan sosial, baik agama sebagai ajaran maupun agama sebagai spirit. Agama sebagai ajaran merujuk pada motivasi suatu bentuk atau pola kegiatan semacam upacara yang dilakukan karena perintah agama sendiri sebagaimana dijelaskan dalam teks (Al-Qur’an). Sedangkan agama sebagai spirit lebih memandang bahwa kegiatan atau upacara tertentu dilakukan dan bahkan dilestarikan dengan mengambil spirit dari agama. Yang kedua inilah dalam kacamata Durkheimian disebut sebagai civil religion yang tidak lain bertujuan sebagai social cohesion. Oleh karena itu, Sebagaimana tradisi-tradisi lain yang terdapat di Jawa khususnya Pekalongan, penulis berharap agar tradisi-tradisi tersebut tetap terjaga sampai kepada generasi mendatang. Terlebih nilai yang terdapat di dalamnya dapat mengukuhkan eksistensi kita sebagai individu yang agamis dan berbudaya.
Biografi Singkat
Burhan Ali, merupakan mahasiswa yang sedang menempuh studi strata satu di program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Di samping sebagai akademisi, dia ikut serta dalam kegiatan kemahasiswaan internal yaitu Himpunan Mahasiswa Program Studi dan aktif dalam organisasi kemasyarakatan di Desa dan Kecamatannya, yaitu IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) Desa Kertijayan dan Kecamatan Buaran Kab. Pekalongan. Sampai sekarang dia juga aktif dalam kegiatan keagamaan di desa tepatnya di Pondok Pesantren Padepokan Padang Ati, Simbang Kulon, Kec. Buaran, Kab. Pekalongan.
0896-1932-1459






0 comentários:
Posting Komentar