Dalam senyap malam yang merayap perlahan,
Lamunan hati membingkai wajahmu yang jauh.
Jarak memisahkan, namun rindu merajut,
Seperti benang halus yang mengikat waktu.
Mataku berlari dalam rindu yang memudar,
Menyusuri jalur kenangan yang terbentang.
Setiap langkah, setiap detik, merangkai cerita,
Di antara lamunan hati yang memeluk sepi.
Seakan malam menari dengan gemerlap bintang,
Kuingin memetiknya satu per satu sebagai pesan.
Bawa ia dalam cahaya, hantarkan ke langit,
Supaya dapat menjelma sebagai senyumanmu.
Lamunan hati membawa lirik-lirik kenangan,
Sebuah lagu yang dipetik dari keheningan.
Melodi yang bermain di gulita kejauhan,
Mengalun lembut, membelai duka yang merintih.
Jarak menjadi pena, kertasnya ruang yang luas,
Tak henti-hentinya kutuliskan nama di langit.
Huruf demi huruf, kata demi kata,
Merajut harapan dalam lamunan yang hampa.
Kau ada di sana, di balik kerinduan yang memisah,
Seperti bayangan yang menghiasi dinding malam.
Tak terlihat, namun hadir dalam doa,
Yang terbang melintasi waktu, menyapa hati yang rindu.
Bunga-bunga kenangan mekar di taman kalbu,
Kucium aroma sukacita, meski jarak memisahkan.
Lamunan hati menjadi peta, mengarahkan langkah,
Menuju tempat di mana kau dan aku menyatu.
Mungkin hanya lamunan, tapi ia menggelora,
Sebagaimana ombak yang tak henti mencari pantai.
Hati ini terombang-ambing dalam lautan rindu,
Mencari jejakmu di setiap serpihan kenangan.
Lamunan hati memerankan drama cinta,
Di panggung yang tak terlihat oleh mata.
Namun, dalam heningnya malam yang sunyi,
Cinta merajut jarak, mengubah rindu menjadi doa.






0 comentários:
Posting Komentar