Subscribe Us

6/recent/slider

Entri yang Diunggulkan

Luka Bercerita

Kau tahu apa tentang kesedihan? Kesedihan adalah hujan di saat kemarau; langit menetes ketika bumi tak lagi berharap, dan tak seorang pun me...

Minggu, 20 Juni 2021

WORKSHOP DESAIN GRAFIS HMJ ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR IAIN PEKALONGAN

 R I L I S

Author: Kholifah Rahmawati | Publisher: Diah Fany A.



Dalam rangka meningkatkan skill mahasiswa IAT mengenai pemahaman tentang desain grafis dan media digital, Himpunan Mahasiwa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Pekalongan mengadakan workshop desain grafis yang di khususkan untuk mahasiswa IAT IAIN Pekalongan. Workshop tersebut dilaksanakan pada Minggu, 11 April 2021 di Lab Komputer di Gedung Fakulas Ekonomi dan Bisnis Kampus 2 Rowolaku, Kajen.

Acara tersebut menghadirkan dua mentor yaitu Muhammad Labidun Nufus selaku Founder Nufus Imagination dan merupakan Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di IAIN Pekalongan dan  M. Octa Puji Karunia yang merupakan salah satu mahasiswa di Jurusan IAT sendiri. Kedua mentor tersebut telah berpengalaman dalam bidang desain grafis. Keduanya telah memiliki banyak karya dan mengikuti berbagai macam pelatihan.

Acara ini diikuti oleh mahasiswa IAT beserta bebera partisipan dari Pengurus HMJ IAT IAIN Pekalongan. Adapun dalam acara workshop ini menggunakan aplikasi Corel Draw sebagai media pelatihan. Peserta dibimbing dan diajari mulai dri nol. Mulai dari pengenalan aplikasi Corel Draw, kemudian diajarakan sedikit demi sedikit cara memanfaatkan berbagai fitur didalamnya. Dan diakhir acara peserta diberikan tugas untuk membuat sebuah karya desain grafis melalui aplikasi Corel Draw. Output hasil workshop ini kemudian dikumpulkan kepada panitia sebagai bukti telah mengikuti workshop.

Dengan diadakanya workshop desain grafis ini diharapkan mampu mengasah dan mengembangkan skill mahasiswa IAT sebagai bekal untuk berdakwah dan mengembangkan studi ke-IAT-an di era modern digital seperti saat ini.

STIGMATISASI PEREMPUAN 3M (MACAK, MASAK, MANAK)

 R I L I S

Author: Noviqotul Munawaroh | Publisher: Diah Fany A.

Perempuan sering mendapat stigmatisasi di masyarakat. Pandangan tradisional bahwa perempuan hanya “macak, masak, manak” sering diterima oleh mereka. Menurut teori nurture perbedaan antara perempuan dan laki-laki pada hakikatnya adalah pembentukan masyarakat melalui konstrusi sosial budaya, sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda. Biasanya orang akan bilang, “setinggi apapun pendidikan wanita, paling nanti dia tempatnya dapur sama kasur saja”. Pernyataan ini sering kita dengar dalam masyarakat tradisional kita bahkan hampir mayoritas di Pekalongan sendiri. Mereka masih percaya bahwa peran domestik perempuan (masak, masak, macak) adalah segalanya bagi perempuan.

1. Manak (proses mengandung sampai melahirkan)

Pada diri perempuan melahirkan adalah kodratnya yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. perempuan dalam kodrat manak (melahirkan), atau sebagai ibu yang harus menyusui, membesarkan, menunggu proses tumbuh kembang anak, dari lahir hingga dewasa, mendidik dan mendewasakan watak dan kepribadiannya. Peran ini tentu saja sangat alami. Secara negatif, peran ini dimanfaatkan oleh beberapa kelompok untuk membatasi perempuan di ruang publik, dalam aktivitas sosial yang lebih besar seperti aktivis sosial, pejabat negara, ilmuwan besar, dan lain sebagainya.

2. Macak (Make up)

Di dalam Al-Qur’an perempuan  adalah perhiasan dunia yang paling indah. Perhiasan identik dengan keindahan, kemolekan, kecantikan kemewahan,kemuliaan dan keanggunan. Maka tidak jarang bagi kaum hawa mengoleksi berbagai alat make up dari harga yang murah sampai yang mahal.Secara biologis perempuan dituntut untuk berhias, karena setiap titik dari tubuh dari perempuan itu keindahan / fashion. Dari segi agama, perintah untuk berhias bukan untuk perempuan saja tetapi untuk laki-laki juga.

3. Masak

Tugas seorang wanita ketika sudah menikah adalah melayani suaminya dengan sempurna. Wanita Solikhah adalah pelayan terbaik suami. Dia harus bisa memasak untuk suami dan anak-anaknya. Ini sebagai manak sangat alami. Namun yang terjadi di masyarakat saat ini, jika ada  laki-laki membatasi kebebasan perempuan untuk mengenyam pendidikan tinggi, karena terlalu sibuk mengurus keperluan rumah. Sebagaimana disampaikan bapak Kurdi fadal, beliau juga bercerita kalau ada salah satu mahasiswanya semester 14 yang berhenti kuliah dikarenakan sudah berkeluarga dan sibuk mengurusi anak dan suaminya. Padahal perjuangannya tinggal sejengkal, yakni dalam hal pengajuan proposal skripsi. Sayang sekali…

Mengenai perdebatan para madzhab dan menyesuaikan kondisi sekarang, sebagai bentuk tanggung jawab seorang suami, hendaknya ia menyediakan asisten rumah tangga (ART). Para madzhab juga sepakat bahwa terkait memasak adalah kewajiban seorang suami. Dampak dari stigma bahwa perempuan harus bisa memasak tidak terlalu berdampak asalkan sesuai porsinya. Secara factual, perempuan biasanya hanya diberi kesempatan menuntut ilmu, yang tertinggi adalah alaiyah. Sangat sedikit dari mereka yang pernah mencicipi kuliah. Setelah lulus, mereka biasanya langsung dinikahkan oleh orang tuanya. Dan setelah menikah, wanita secerdas dan sekreatif apapun biasanya menenggelamkan potensi besarnya dengan tugas-tugas rutin utama yang diembannya sebagai ibu rumah tangga yang selalu berkisar pada macak, manak dan memasak. Hanya laki-laki yang diberi kesempatan besar untuk memperoleh pendidikan tinggi.

Mari berpikir lebih cerdas, agar stigma tidak membatasi gerak perempuan, apalagi memandang sebelah mata mereka, dengan tidak mengurangi nilai-nilai tanggung jawab perempuan sebagai seorang istri.