Subscribe Us

6/recent/slider

Entri yang Diunggulkan

Luka Bercerita

Kau tahu apa tentang kesedihan? Kesedihan adalah hujan di saat kemarau; langit menetes ketika bumi tak lagi berharap, dan tak seorang pun me...

Jumat, 27 Oktober 2023

Konsep tersembunyi


Oleh; M.roghdi Khasbiya

Desember

“Bermula dari sekian banyak cerita yang terlewatkan, atau keadaan yang sepertinya lebih condong tak memihak kepadamu, patutlah kau mengevaluasi juga perihal konsep yang tersembunyi.”

Setuju atau tidak, nyatanya dunia tak hanya berisi tentang kesenanganmu. Aku garis bawahi untuk kata “kesenangan”, lain—karena jauh berbeda maknanya dengan—“kebahagiaan”.

Ada orang yang kelihatannya masih menonton televisi tapi ketika ia mengedipkan matanya setelah lima menit terbuka, ia baru sadar kalau yang ditontonnya adalah iklan. Menunggu ada  orang lain yang mengingatkan “Iklan kok ditonton, ganti!” pikirannya baru kembali normal dari semua masalah yang membuat isi otaknya carut marut. Ia rindu bagaimana tenteramnya tak punya hutang meski setiap harinya hiburannya hanya bersumber dari radio yang telah usang.

Ada orang yang mengaku senang bisa diterima universitas yang ia inginkan, tapi setelah ia meluangkan waktu memperhatikan dirinya di depan cermin hatinya berbicara “Kapan aku bisa lagi tersenyum ke orang lain, capek sok-sokan senyum di depan kaca terus, menyemangati diri biar semangat nugas. Dan lagi-lagi tugas.” Ia rindu waktu gap year satu tahunnya dimana ia punya banyak kesempatan buat bertemu orang-orang, terlebih duduk menyila di sepertiga malam berbincang dengan Tuhan menyemogakan apa yang kini tersemogakan. Sekarang jarang-jarang.

Ada orang yang mengaku senang bisa mengenal dia, dekat, lalu membatasi kadar oksigen yang bisa ia dapatkan gratis dengan perkatannya sendiri “Aku tidak bisa hidup tanpamu.” Seolah ia akan benar-benar bahagia, padahal perdetiknya; di dekat dia adalah luka. Ia rindu di mana jauh ataupun berada di samping dia, tak mempengaruhi tawa ataupun tangisnya. 

Dan, manusia—yang tempatnya salah, memang wajar—selalu memburu kesenangan. Tak sedikit pula yang kalau tak sesuai keinginannya buru-buru ia menyalahkan Tuhannya yang—padahal mempunyai ke-maha-an dalam setiap 99 namanya—selalu memberi yang terbaik perihal kebahagiaan.

Bukankah dalam keadaan kau ditinggalkan, kau bisa menghitung dan mensyukuri siapa saja yang masih tinggal bersamamu?

Bukankah dalam keadaan kau tak punya harta, kau bisa meminta dan menjadi lebih dekat kepada-Nya?

Bukankah dalam keadaan insecuremu tentang paras, kau seharusnya sadar ciptaan siapa aku ini? Pantaskah bentuk ciptaan-Nya direndahkan?

Bukankah dalam keadaan kau tak punya gelar atau kedudukan apa-apa, kau ini masih mempunyai posisi sebagai manusia. Di mana manusia juga makhluk Tuhannya. Sedang itu, pernahkah Tuhan salah menciptakan dan dalam mengatur?

Maka sebenarnya kau tahu, duka dan bahagiamu merujuk kepada siapa?

“Rabbana maa Kholaqta Haadza Bathila.”

Dan tugasmu adalah menemukan yang tersembunyi dari apa yang selama ini kau dapati. Apa saja yang sudah, dan mana saja yang belum.