Oleh; M. Roghdi Khasbiya
Kalaupun gelas kaca itu bening, dia akan berubah warna sesuai dengan apa yang kita tuangkan.’
Kopi yang sudah mendingin di hadapanku itu seketika habis, bukan disesapnya melainkan lebih ke diteguknya. Dia sahabatku, datang menghampiri dengan nafas terengah-engah dan tampak kehausan. Tapi alih-alih ia mencari air putih tambahan, justru ia langsung menodongku dengan sebuah pertanyaan, yang pikirku itulah alasan kenapa ia buru-buru.
“Menurutmu, apakah cukup bisa dikatakan benar Sayyidina Umar itu masuk Islam hanya karena mendengar bacaan Al-Qur’an?”
Jangan kaget, dia memang selalu menodongku dengan pertanyaan yang tanpa awalan, dan sering membuatku heran ‘ada ya orang seperti dia?’ batinku.
“Maksudnya bagaimana?”
“Tidak adakah faktor lainnya yang mendukung; kenapa Beliau masuk Islam ketika membaca tulisan surat Thoha. Memangnya jauh sebelum itu apakah Umar belum pernah mendengar Al-Qur’an sekalipun?”
Aku hanya bisa bingung. ‘Iya juga ya...’ Anggukanku membuatnya tersenyum. Dari gelagatnya ia siap memberikan penjelasan. Membenahi posisi duduknya, untuk memulai pembicaraan serius.
“Jadi dibalik peristiwa Islamnya Umar bin Khattab itu ada sebuah hikmah tentang kekosongan hati.”
Berangkat dengan kemarahan yang memuncak dan ingin membunuh Nabi, takdir justru membawa Umar untuk menemui keponakannya, Fatimah, yang keislamannya telah sampai ke telinga Umar.
Kemarahannya lalu justru membuat luka untuk Fatimah. Tamparan yang keras itu membuat pipi Fatimah memerah, bahkan dalam beberapa riwayat dijelaskan sampai berdarah. Dari situ, timbullah rasa iba seorang Umar yang terkenal dengan kegarangannya.
Sadar akan apa yang baru saja ia lakukan terhadap keponakannya, hati Umar tersentuh. Kemarahan berubah iba dan belas kasih. Kelembutan menyelimuti jiwa dan hatinya. Saat hati sedang melembut bahkan kosong itulah, secarik mushaf diambilnya dan di situ surat Thoha masuk.
‘Thoohaa. Maa anzalnaa ‘alaikal Qur’ana litasyqoo...’
Maka kini kau tahu; betapa penting antara mana yang akan masuk ke hatimu di kala kosong. Apakah kebaikan atau keburukan?
Pun, kadang kau perlu mengosongkan hatimu karena kita tidak bisa menghitung kegelapan, tapi kita bisa menghitung berapa intensitas cahaya yang ada. Tuhan akan selalu ada untukmu. Dan, jangan kehilangan Dia.
Mungkin akhir-akhir ini sedang marak berita bahwa banyak manusia yang memilih mengakhiri hidupnya karena tidak kuat menjalani. Perlu kita sadari salah satu penyebabnya adalah ketika hatinya kosong, justru keburukanlah yang masuk dan mendominasi. Tidak ada kebaikan semisal teman cerita, ajakan agar ia tak merasa sendiri, atau bahkan paling sederhana adalah sapaan “Kau baik-baik saja?”
Sesulit dan serumit apa pun, percayalah akan ada secercah cahaya diujung gua. Meski kau pernah berkali-kali runtuh, yakinlah masih panjang hari-hari indah yang bisa kau jalani.
Mengganti malam menjadi siang, setiap harinya; bumi berputar pada porosnya, paling dekat Dia yang membolak-balikan hati saja mampu. Apalagi hanya mengubah isi surat darinya yang berisikan;
‘Jelas kau bukan takdirku, kau akan mendapatkan jauh yang lebih baik dariku.
Entah di hari bahagiamu nanti, kau akan turut mengundangku atau malah melupakanku bahwa aku pernah menjadi peran di hidupmu.
Tak apa itu adalah sebuah konsekuensiku- karna pernah mengenalmu.’
Ditutup dengan do’a...
Aku yang mendo’akanmu agar selalu di kelilingi kebaikan.
Dan aku yang memohon do’a kepadamu agar aku pun selalu disertai kebaikan. Entah itu berupa benda, peristiwa, cerita, atau..
‘Berupa kamu..’
Wallahu a’lam