Subscribe Us

6/recent/slider

Entri yang Diunggulkan

Luka Bercerita

Kau tahu apa tentang kesedihan? Kesedihan adalah hujan di saat kemarau; langit menetes ketika bumi tak lagi berharap, dan tak seorang pun me...

Selasa, 10 Desember 2024

Titisan Cinta di Pagi yang Merayu

 Titisan Cinta di Pagi yang Merayu

Karya: Sugmalia Larasati


Di pagi yang memeluk sinar mentari,

Titisan cinta merayu dalam gemerlap fajar.

Embun-embun asmara merintik halus,

Mengukir kisah di dedaunan yang rapuh.


Pada belahan dunia yang masih terlelap,

Cinta tumbuh bak bunga di taman hati.

Bisikan angin membawa pesona sayap,

Menari-nari di antara daun yang gugur.


Langit membentangkan kanvasnya yang biru,

Sebagai latar belakang puisi cinta yang terukir.

Pagi merayu dengan pelukan hangat,

Seperti dekap matahari pada sang bumi.


Titisan cinta membasahi setiap helai daun,

Menyapa bunga-bunga yang berkisah diam.

Suara burung bernyanyi sebagai saksi,

Rahasia asmara yang tercipta di pagi ini.


Dalam sentuhan embun, terungkaplah rasa,

Sebuah peluk erat dari kelembutan pagi.

Puitis langit memancarkan sinarnya,

Menjadi saksi bisu titisan cinta yang merayu.


Cahaya matahari menyusup di antara pepohonan,

Menyinari jejak langkah kasih yang terhampar.

Bunga melengkung, merasakan belaian sang waktu,

Seolah mendengar lagu asmara yang tak berujung.


Titisan cinta terjalin dalam seraut wajah,

Senyum yang merekah, canda yang mengalun.

Pagi merayu dengan segala keindahan,

Menjadi saksi bisu perjalanan cinta yang tercipta.


Di pelukan pagi yang sarat makna,

Titisan cinta tumbuh bak kembang yang mekar.

Merayu dalam pelukan tak terlihat,

Namun dirasakan dalam getaran hati.


Oh, pagi yang merayu dengan cinta yang titis,

Titisan embun jadi saksi bisu keabadian.

Kisah di pagi ini menjadi puisi panjang,

Yang mengalir indah dalam alunan waktu.


TIDAK ADA KATA IKHLAS MELAINKAN BERDAMAI DENGAN WAKTU

 TIDAK ADA KATA IKHLAS MELAINKAN BERDAMAI DENGAN WAKTU

Erlangga Sulistyo

Ikhlas merupakan salah satu keutamaan yang harus dimiliki oleh setiap muslim, ikhlas juga merupakan salah satu puncak ketakwaan bagi seorang hamba, karena ia hanya mengharapkan kebaikan Allah saja. Tentu saja sikap ikhlas tidak bisa terbentuk secara tiba-tiba, melainkan memerlukan proses pembentukan diri. Manusia merupakan makhluk yang penuh kompleksitas, karena tidak hanya terdiri dari unsur jasmani, tetapi juga memiliki unsur ruhani. Dari kedua unsur tersebut, terlihat bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi yang beragam. Jika dilihat dari aspek jenis kelaminnya, manusia mencakup berbagai sisi, seperti fisiologi, psikologi, seksual, karir, dan masa depannya.

Kata ikhlas berasal dari bahasa Arab yang sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab, ikhlas berarti bersih, murni, dan jernih. Adapun makna ikhlas dari segi syariat, para pemuka agama atau ulama memberikan ekspresi bahasa yang cukup variatif. Ikhlas berarti mendedikasikan dan mengorientasikan seluruh ucapan dan perbuatan, hidup dan mati, diam, gerak, dan bicara, hingga pada keadaan kesendirian dan keramaian, serta tingkah laku di dunia ini hanya semata untuk meraih keridhaan Allah.

Berdamai dengan situasi bisa menjadi sulit, terutama setelah fase buruk terjadi. Sebab kita terlalu sibuk berduka atas luka dan harapan terlalu tinggi, bahkan terhadap diri kita sendiri. Karena justru malah menambah beban, apalagi jika jauh dari kemampuan dan kesanggupan kita untuk mencapainya. Salah satu pemicunya adalah membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan tidak bisa memaafkan diri sendiri. Terkadang fokus pada kehidupan orang lain membuat kitab lemah dan lupa mensyukuri apa yang sudah kita capai. Jika keadaan ini terus berlanjut maka akan mempengaruhi penerimaan diri dari lingkungan serta menjadi penghambat kebahagiaan di masa depan.

Setiap orang mempunyai definisi tentang makna ikhlas, entah itu dari pengalaman pribadinya maupun pengalaman yang terjadi di keluarganya. Beberapa waktu lalu, saya sempat bertukar pikir dengan sahabat saya mengenai makna ikhlas sesungguhnya. Dia berbicara kejadian apa saja yang menimpa di dirinya dan cara menghadapi cobaan bahkan ujian. Salah satunya, dia mengatakan bahwa dirinya telah menyadari sebagai orang awam sebenarnya berbicara tentang ikhlas itu bukan sepenuhnya kita berada di titik ikhlas, melainkan belajar ikhlas. Kita tidak akan pernah bisa mencapai puncak ikhlas, karena ikhlas itu tentang perasaan. Ikhlas itu muncul apabila kita tidak mengingat sebuah masalah yang anggap kita sangat berkesan sepanjang hidup di dunia ini. Dan ikhlas bisa hilang karena kita mengingat sebuah masalah tersebut. Sebenarnya dengan adanya kita mengingat mempunyai masalah-masalah besar di hari yang sudah kita lewati itu sangat penting sekali. Agar kita dapat belajar dari sebelumnya bahwa apa yang kita lakukan itu tidak semata untuk kepentingan diri, mungkin  saja Tuhan menganggapnya nafsu kita terhadap sesuatu. Tuhan lebih mengerti apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.

Berhubung kita adalah orang awam, bukan nabi maupun ulama, kita hanya bisa belajar dan terus belajar ikhlas. Walaupun di waktu yang akan datang kita mengalami hal-hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi, entah itu membuat kita kurang bersyukur, atau tidak menerima dengan takdir, setidaknya kita belajar menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Sejatinya di agama islam pun pada saat hari hisab, amal dan perbuatan kita akan ditampilkan atau di perlihatkan baik buruknya. Begitu pula dengan kita yang mempunyai masalah di dunia ini, pasti ada kalanya kita teringat masalah tersebut ada kalanya juga kita lupa. Jadi tidak bisa sepenuhnya ikhlas. Begitulah pernyataan dari sahabat saya mengenai makna ikhlas.

Terlalu banyak versi jika kita memaknai tentang ikhlas dan tidak bisa di definisikan secara rasional. Ada salah satu pengalaman yang membuat saya tertuju bahwa makna ikhlas sesungguhnya terletak pada seorang ibu yang ditinggal selama-lamanya oleh suaminya. Beliau pernah mengatakan bahwa dirinya mempunyai kesepakatan sebelum dua bulan suaminya meninggal. Isi dari kesepakatan itu adalah bersepakat dengan suaminya akan menyekolahkan anak terakhirnya hingga wisuda. Dua bulan dari kesepakatan tersebut, suaminya meninggal dunia. Beliau hanya terdiam tidak bisa menangis pada waktu suaminya meninggal. Mungkin sangat hancur hatinya sampai tidak bisa mengeluarkan air mata. 

Dari kisah pengalaman tersebut, beliau tidak menyangka sekali bahwa akan di tinggal pergi oleh suaminya. Beliau hampir tidak menerima takdir, tetapi hebatnya ibu itu menyadari seluruh ketetapan Tuhan itu pasti ada. Ketika beliau ingin menyerah, selalu mengatakan bahwa kunci dari ikhlas itu harus bersabar, walaupun sangat sulit sekali untuk menjalankan kenyataan itu semua. Dari pengalaman beliau dapat kita ambil pelajarannya, perjalanannya menghadapi sebuah cobaan atau ujian yang pasti ada di dalam hidup kita semua. 

Sebagaimana orang awam perlu kita sadari bahwa makna ikhlas adalah menerima keadaan atau situasi tanpa adanya perlawanan atau penolakan entah itu senang, sedih, susah maupun bahagia. Kita boleh istirahat tetapi kita tidak boleh menyerah untuk tetap melanjutkan hidup dengan semestinya dengan kondisi apapun. Walaupun semua orang belum tentu bisa mencapai pada titik ikhlas, dan hakikatnya ikhlas itu terbentuk dari step by step hingga berdamai dengan waktu.


DAFTAR PUSTAKA

Ramayani, Intan, Konsep Ikhlas dalam Implementasi Daqu Method di Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an Bandung, Jurnal Riset Agama, Vol, 2, No .2022.

Yasin, Ahmad Hadi, Meraih Dahsyatnya Ikhlas, QultumMedia, Cetakan ke-1. Jakarta, (2010).

Arumjati, Shanju, Panduan Berdamai dengan Keadaan, Laksana, Cetakan ke-1. Banguntapan Yogyakarta, 2023.

















AL-QUR’AN SEBATAS PADA TENGGOROKAN, TIDAK DIAMALKAN

 AL-QUR’AN SEBATAS PADA TENGGOROKAN, TIDAK DIAMALKAN

Yusril Ihsa Nur Rizqi

Mahasiswa UIN GUSDUR Pekalongan

Al-Qur’an merupakan firman Allah yang berguna menjadi pedoman hidup umat Islam tanpa ada kerguan sedikitpun di dalamnya. Pernyataan tersebut sebagaimana yang tertuang dalam Q.S Al-Baqarah ayat 2; “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”. Dengan ayat tersebut pula Allah menegaskan bahwa seorang muslim sudah seharusnya berperilaku sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Al-Qur’an. Sebagai pedoman hidup, maka Al-Qur’an sudah semestinya diamalkan oleh para kaum muslimin. 

Tetapi, kesadaran untuk mengamalkan isi Al-Qur’an belumlah dimiliki sepenuhnya oleh kaum muslim. Banyak dari mereka hanya melafalkan Al-Qur’an baik yang membaca maupun yang menghafalnya. Mereka beranggapan bahwa yang bernilai ibadah hanyalah ketika melafalkan Al-Qur’an, hal semacam itu disebabkan oleh pemahaman yang kurang terhadap Kitabullah. Perihal tersebut kemudian membuat umat muslim untuk berlomba-lomba dalam memperindah bacaan dan menambah hafalan tanpa dibarengi dengan pelaksanaan atas substansi dari Al-Qur’an. 

Fenomena rumah-rumah tahfidz menjamur di masa sekarang, fenomena semacam itu bukanlah hal yang buruk, bahkan bisa dikatakan fenomena yang baik. Namun, banyak dari rumah tahfidz atau sejenisnya hanya mengajarkan mengenai hafal-menghafal Al-Qur’an tanpa disertai dengan implementasi esensi dari Al-Qur’an itu sendiri. 

Tren berdirinya rumah tahfidz sendiri dilatarbelakangi oleh keinginan umat Islam untuk menjadi religius hal ini sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Moona Maghfirah dkk dengan judul Performasi Al-Qur’an Dan Konstruksi Identitas: Tren rumah Tahfiz Pada Masyarakat Muslim Urban Kota Jambi. Selain itu, tren hijrah yang terjadi masyarakat muslim urban juga mendorong menjamurnya rumah tahfidz. Kecenderungan dan motif tersebut yang menjadikan umat muslim untuk menjadi penghafal Al-Qur’an. 

Masyarakat muslim dengan semangat hijrah yang tinggi menjadikan kegiatan menghafal Al-Qur’an sebagai sebuah kebanggaan. Bahkan stereotip seorang yang paham agama dilihat dari seberapa banyak ayat yang dihafal dan seberapa cepat menghafalnya. Perilaku semacam itu menjadi berbahaya apabila diiarkan terus-menerus, sebab akan mengaburkan otoritas keagamaan. 

Banyak dari mereka yang hafal akan teks suci namun gagap dalam memahami maknanya. Keadaan semacam itu menghasilkan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang terdapat pada teks yang dihafalnya. Hal tersebut menjadi sebuah ironi, sebab mereka selalu melafalkan ayat-ayat Tuhan tanpa mengetahui isi dari ayat-ayat tersebut.

Ketidakpahaman akan teks suci akan menjadikan para penghafalnya terjerumus ke dalam perilaku yang nista. Hal tersebut terlihat dengan banyaknya berita yang menyajikan para ustaz cabul diberbagai tempat. Para pengkaji atau bahkan para pemuka agama yang sejatinya sebagai seorang yang paham akan agama justru menjadi pelaku dari perilaku yang tidak senonoh. 

Sebagaimana yang dilansir oleh BABELPOS.ID (11/11/2024) mengenai guru ngaji di Sungailiat Kabupaten Bangka yang mencabuli enam (6) muridnya. Hal tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh Aiptu Nainggolan di Mapolres Bangka. “Pelaku diamankan minggu malam (10/11) di kediamannya. Pelaku adalah guru ngaji dan korbannya adalah muridnya. Korban ada yang laki-laki, dan perempuan.” Pelaku berinisial Z yang merupakan seorang guru ngaji menambah daftar kelam para guru ngaji yang tersandung kasus pencabulan terhadap para santrinya. 

Perbuatan tercela yang dilakukan oleh para “oknum” ustaz ini menjadi sebuah alarm bersama. Bahwa mereka yng dianggap oleh masyarakat awam sebagai pengawal firman Tuhan, pada nyatanya tidak melakukan apa yang ada di Al-Qur’an. Oknum tersebut malah berbuat sebaliknya, sehingga menjadi sebuah pil pahit yang harus teguk oleh umat muslim.

Kejadian-kejadian tersebut menunujukan bahwa Al-Qur’an yang merupakan teks suci pembawa petunjuk bagi uamt Islam hanya dijadikan sebagai objek hafalan dan penghias permukaan. Esensi Al-Qur’an tidak diamalkan sehingga tidak terakomodir dengan baik. Lebih nahasnya, tidak sedikit dari para penghafal ini yang lupa akan praktek Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Hal seperti di atas juga bagaian dari salah pemahaman dari masyarakat yang menganggap bahwa hafal atas firman-firman Tuhan merupakan final dari mempelajari Al-Qur’an. Padahal, masih ada tahapan selanjutnya yang harus dipelajari oleh para penghafal Al-Qur’an ini, yaitu memahami isi kandungan Al-Qur’an dan mengamalkannya. 

Apabila hanya berhenti pada tahap menghafal saja, maka akan terjadi kekeringan spiritual. Hal tersebut karena Al-Qur’an hanya dilafalkan bagai mantra, tanpa diimplementasikan pada kehidupan. Ruh Al-Qur’an tidak membersamai dan menjadikan jiwa dari para penghafal menjadi kering dan kaku. Keadaan semacam ini merupakan pukulan bagi umat Islam, sebab semangat keagamaan masih berada di permukaan, tidak menyentuh esensinya.

Al-Qur’an pada tingkat ini hanya sebatas tenggorokan, sebab hanya dihafal dan dilafalkan terus-menerus tanpa mengetahui maksudnya. Al-Qur’an yang seyogyanya menjadi petunjuk kehidupan tidak diamalkan isinya, namun hanya dijadikan sebagai objek hafalan tanpa ada tahap lanjutan untuk dipahami dan damalkan. Maka, perbuatan menghafal Al-Qur’an tanpa mengamalkan isi kandungannya merupakan perbuatan yang kurang etis, sebab tidak menjalankan apa yang menjadi isi dari Al-Qur’an itu sendiri.


Peran Muhammadyah Dalam Menciptakan Masyarakat Berkemajuan Melalui Gerakan Pencerahan

 “Peran Muhammadyah Dalam Menciptakan Masyarakat Berkemajuan Melalui Gerakan Pencerahan : ”

Supriyanto :  UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan 

Seperti yang telah kita tahu bahwasanya Muhammadyah merupakan ormas Islam yang memiliki peran penting dalam pengembangan serta pembangunan sumber daya manusia.  Sejak awal kehadirannya memiliki peran penting khususnya dalam gerakan pencerahan, yang mampu membangun semangat bangsa Indonesia melawan kejahilan di Era Kolonialisme turut memberikan kontribusi besar mulai dari bidang kesehatan pendidikan, sosial kemasyarakatan, sampai pada era kemerdekaan hingga era sekarang. Melalui lembaga-lembaga serta peran dari pada ortonom. Sebagaimana Indonesia pada saat ini mengalami era transformasi peralihan digitalisasi dan perkembangan teknologi, sehingga  dalam kajian ini membahas bagaimana peran serta Muhammadyah membangun masyarakat yang berkemajuan melalui gerakan pencerahan di Era revolusi 5.0 khususnya melalui gerakan Amal Usaha Muhammadyah (AUM). 

Amal Usaha Muhammadyah (AUM) adalah salah satu pilar utama dakwah Muhammdyah sebagai visi dan misi dengan menjadikan ruh islami sebagai fondasi, salah  satunya dengan aktualisasi nilai-nilai keislaman dengan kehidupan sehari-hari (Verianty, 2023).  Sehingga tidak dapat dipungkiri betapa Amal Usaha Muhammadyah memberikan kontribusi penting dalam membangun masyarakat, sebagaimana implementasi Surat Al-Ma’un yang kemudian melahirkan lembaga-lembaga dalam memberikan pencerahan serta kemajuan dari masa ke masa seperti pendidikan, rumah, kesehatan, dan juga pemberdayaan sebagai bukti peran muhammadyah dalam membawa kemajuan bangsa Indonesia.

Di era perkembangan teknologi ini menjadi tantangan terbesar bagi bangsa Indonesia, hal ini memberikan dampak yang positif bagi kemajuan bangsa. Teknologi memberikan peran penting dalam membawa peradaban khususnya dalam meningkatkan potensi sumber daya pada suatu negara dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari beberapa dekade tahun ini Indonesia mengalami perkembangan cukup pesat mulai dari era 4.0 yaitu era perkembangan revolusi industri, di mana modernisasi teknologi industri yang banyak beralih ke sistem teknologi dan digitalisasi sehingga berkurangnya penggunaan sumber daya manusia dalam sektor industri. Hal ini juga berkelanjutan sampai pada era saat ini yaitu era 5.0. sebagaimana mengutip dari Kemenku RI bahwasanya era tersebut pada dasarnya masih pada tahap perdebatan serta pengembangan. Akan tetapi dapat lebih mengacu pada pengembangan teknologi digitalisasi, serta meningkatkan optimalisasi dalam sektor industri dan juga produksi, yang meniti beratkan pada teknologi seperti AI, kecerdasan robotik dengan keahlian serta inovasi manusia sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan, fleksibel serta berkelanjutan (Siagian, 2023).  

Tentunya tantangan dari revolusi industri 5.0 tersebut tidak hanya menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia tetapi umat Islam khususnya pada organisasi Muhammadyah dalam menghadapi persoalan tersebut. Permasalahan umat juga menjadi semakin kompleks dan juga kesenjangan nilai-nilai moralitas serta spiritualitas menjadi tantangan utama Muhammadyah dalam menghadapi tantangan sebagai upaya membangun peradaban umat yang berkemajuan melalui kegiatan pencerahan. Untuk itu lembaga-lembaga organisasi otonom atau ortonom perlu adanya transformasi dalam meningkatkan layanan sebagai tujuan utama Muhammadyah yaitu Amal Usaha Muhammadyah (AUM) salah satunya bagaimana meningkatkan pemahaman dan literasi digital bagi warga perserikatan serta seluruh umat terkhususnya di Indonesia. 

Mengutip dari Muhammadyah.or.id salah satu langkah yang diambil Muhammadyah dalam menyikapi perkembangan era revolusi industri 5.0 atau digitalisasi sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadyah Irwan Akib yaitu melalui persiapan pendidikan yang matang dengan penekanan transformasi kurikulum yang menyesuaikan zaman. Tentunya kurikulum yang mampu menciptakan manusia yang kompetitif, fleksibel, humanis, serta intergartif agar para peserta didik mampu mengembangkan potensi yang sesuai dengan perkembangan zaman (Ilham, 2024) dan tentunya dengan nilai-nilai keislaman. Tentunya dengan memulai dari sektor pendidikan saja hal ini perlu dilakukan baik bidang dakwah sosial masyarakat, kesehatan, serta lembaga lainya sebagaimana peran sebelumnya yang tentunya dihasilkan dari beberapa hasil riset dan pertimbangan kebermanfaatan bagi umat khususnya dalam memberikan pencerahan pada masyarakat sehingga tercipta masyarakat yang berkemajuan. Disektor lain seperti pengembangan dakwah juga memberikan peran penting, salah satunya melalui web site dan juga sosial media sehingga mampu membawa perubahan dan upaya mengurangi dampak negatif dari konten-konten yang membawa kemudorotan dan membangun kesadaran literasi pada umat.  



Referensi 

Ilham. (2024, April ). Muhammadyah.or.id . Diambil kembali dari muhammadyah.or.id : https://muhammadiyah.or.id/2024/03/hadapi-era-masyarakat-5-0-hal-ini-perlu-dilakukan-lembaga-pendidikan-muhammadiyah/

Siagian, H. F. (2023, Maret 30). Kementerian Keuangan Republik Indonesia . Diambil kembali dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia : https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-lahat/baca-artikel/16023/Mengenal-Revolusi-Industri-50.html

Verianty, W. A. (2023, Desember 5). Liputan6 . Diambil kembali dari Liputan6 Journal : https://www.liputan6.com/hot/read/5472749/amal-usaha-muhammadiyah-kedudukan-fungsi-dan-jenis-jenisnya?page=2



PASAR JAJAN GRATIS DI PEKALONGAN: BENTUK AKULTURASI ISLAM-JAWA

 PASAR JAJAN GRATIS DI PEKALONGAN:

 BENTUK AKULTURASI ISLAM-JAWA 

Burhan Ali

Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah 

UIN KH. Abdurrahman Wahid, Pekalongan


Sejak dulu, Indonesia terkenal sebagai bangsa yang mempunyai beragam tradisi yang luar biasa banyak dan bermacam-macam. Kekayaan tradisi tersebut diperoleh dari keragaman etnik dan budayanya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan beragam kebudayaan tersebut pernah dijelaskan secara komprehensif oleh Koentjaraningrat dalam bukunya Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Jakarta, Penerbit Djambatan: 2002), seperti kebudayaan Batak, Ambon, Aceh, Flores, Minangkabau, Bali, Sunda, Jawa, dan lain sebagainya. Salah satu keragaman tersebut adalah tradisi Pasar Jajan Gratis di Pekalongan.

Tradisi-tradisi yang ada di Indonesia pada dasarnya muncul dengan suatu motif-motif sosial, ekonomi, maupun keagamaan. Dalam mengikuti tradisi-tradisi tersebut, sebagaimana yang penulis kutip dari Muhammad Isfironi dalam jurnalnya yang berjudul Agama dan Solidaritas Sosial: Tafsir Antropologi Terhadap Tradisi Rasulan Masyarakat Gunung Kidul DIY (Jurnal al-‘Adalah: Vol.16 No.1 tahun 2013) suatu individu tertentu kerap kali tidak didorong oleh keinginan apapun untuk memenuhi fungsi latent pattern maintance, yaitu upaya pelestarian pola kebiasaan masyarakat sosial atau penyesuaian diri dengan kebiasaan-kebiasaan yang sudah dijalankan dengan baik. Sebaliknya dorongan-dorongan yang bersifat personality justru lebih memotivasi mereka seperti keinginan memenuhi kewajiban-kewajiban agama, memperoleh keselamatan atau kedamaian jiwa. 

Pasar jajan gratis merupakan salah satu tradisi tahunan yang populer bagi masyarakat Pekalongan, baik yang tinggal di daerah pesisir maupun perkotaan. Tradisi ini menjadi salah satu seremonial yang sangat dinanti-nantikan oleh semua kalangan masyarakat, baik tua, muda, maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan, bahkan oleh lapisan atas seperti pejabat pemerintah dan tokoh tersohor di daerah maupun menengah seperti warga sipil, terlebih lapisan bawah seperti warga yang tergolong dalam kriteria keluarga miskin. Pasalnya, tradisi ini memuat segala jenis dunia perkulineran. Karena masing-masing keluarga dituntut untuk menyajikan beragam menu makanan dan minuman yang bisa dinikmati oleh pengunjung dari manapun. Tradisi ini biasanya digelar perdukuh atau desa dan dibedakan waktu pelaksanaannya antar dukuh atau desa satu dengan yang lainnya. Sehingga dalam konsepnya, masing-masing pelaksana berbeda-beda dan berupaya menjadikannya semeriah dan seramai mungkin agar dapat menarik pengunjung dari luar desa bahkan kecamatan. Seperti dimeriahkan dengan pembuatan stand permainan, orkes dangdut, bahkan perlombaan.

Akultuasi Islam Jawa

Berbicara soal keberagaman orang Jawa, tentu akan terhubung dengan obyek yang kompleks yakni Islam dan tradisi Jawa atau dengan istilah Karakter Islam berwajah lokal. “Islam-Jawa”, begitu kiranya istilah yang berikan oleh Cliffort Geertz dalam karyanya “The Javanese Religion”. Di mana Islam yang ada di Jawa bernuansa lokalitas melalui agen-agen sosial hadir secara aktif dalam masyarakat luas dalam rangka mewujudkan Islam yang bercorak khas, yaitu Islam yang begitu menghargai tradisi-tradisi lokal daerah. Dalam istilah sosiologi, Islam-Jawa merupakan produk dari akulturasi antara Islam dengan budaya Jawa, yang dengannya melahirkan sesuatu yang disebut sebagai local genius. Yaitu kemampuan menyerap sesuatu bersamaan dengan menyeleksinya terhadap pengaruh kebudayaan asing, sehingga menciptakan sesuatu yang baru dan unik. 

Pertemuan Islam dengan budaya lokal sebenarnya adalah sunnatullah. Di mana tidak ada ajaran agama apapun yang turun di dunia ini yang vakum dengan budaya tempat ia diturunkan. Ketika Islam datang ke Jawa, maka mau tidak mau ia harus bersentuhan dengan budaya lokal yang sudah mengakar kuat dalam penduduk setempat. Faktanya, ketika Islam menjumpai varian-varian kultur lokal seperti di Jawa, maka ia akan langsung bersimbiosis dengannya dalam proses-proses penyebarannya yang saling memperkaya. Demikian juga terjadi di berbagai belahan dunia yang lain. Karenanya Islam begitu “Multiwajah”. Sehingga semakin ke sini, Islam sebagai suatu aturan atau norman telah menjadi aturan kehidupan masyarakat, atau dalam konteks Islam sebagai agama sekaligus sebagai budaya masyarakat Jawa. Bagaimanapun, Islam-Jawa merupakan Islam juga, hanya saja keIslaman orang-orang Jawa berbeda dengan Islam lainnya karena faktor kebudayaan yang memunculkan varian keberagaman dalam bingkai sosial-budaya etnis.

Budaya-budaya dan tradisi lokal yang berakulturasi dengan Islam seperti tradisi slametan 3, 7, 40, 100, dan 1000 dari hari kematian, mitoni (tujuh bulan kehamilan) di Jawa, atau pertunjukkan wayang dalam bidang kesenian. Juga seperti masjid Agung Banten dengan ciri khas arsitektur campuran Islam dan Hindu. Atau dalam bidang vokal seperti seni beluk di budaya Sunda. Termasuk tradisi Pasar Jajan Gratis yang mengakulturasikan ajaran Islam dan tradisi Jawa dengan baik. Seperti konsep menjamu tamu dan memuliakannya dalam Islam serta rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat yang diberikan selama ini. Biasanya dikaitkan dengan nikmat merdeka. Di mana sesuai sejarah awal munculnya tradisi ini yaitu dalam peperangan melawan penjajah. Ketika setelah para pejuang bergerilya dengan penjajah, dan turun meninggalkan pos-pos mereka. Kemudian disambut oleh seluruh warga yang telah menyuguhkan berbagai makanan dan minuman. Sedangkan menciptakan rasa kebersamaan dan guyub warga setempat merupakan tradisi Jawa. Di mana di Jawa selalu mengedepankan sikap kerukunan dan mengingat jasa para pahlawan atau yang sering dikenal dengan istilah napak tilas seperti yang dikemukakan oleh Yubair Ibnu Fatah dalam Kotomono.co (https://kotomono.co/pasar-jajan-di-pekalongan-memang-tempat-menjalin-keakraban/ 1/9/2022)

Tradisi yang Lestari

Dengan kata lain, kehidupan sekarang yang tergolong modern saja masih menjadikan agama sebagai alasan atau dasar dalam setiap tindakan sosial, baik agama sebagai ajaran maupun agama sebagai spirit. Agama sebagai ajaran merujuk pada motivasi suatu bentuk atau pola kegiatan semacam upacara yang dilakukan karena perintah agama sendiri sebagaimana dijelaskan dalam teks (Al-Qur’an). Sedangkan agama sebagai spirit lebih memandang bahwa kegiatan atau upacara tertentu dilakukan dan bahkan dilestarikan dengan mengambil spirit dari agama. Yang kedua inilah dalam kacamata Durkheimian disebut sebagai civil religion yang tidak lain bertujuan sebagai social cohesion. Oleh karena itu, Sebagaimana tradisi-tradisi lain yang terdapat di Jawa khususnya Pekalongan, penulis berharap agar tradisi-tradisi tersebut tetap terjaga sampai kepada generasi mendatang. Terlebih nilai yang terdapat di dalamnya dapat mengukuhkan eksistensi kita sebagai individu yang agamis dan berbudaya. 




Biografi Singkat

Burhan Ali, merupakan mahasiswa yang sedang menempuh studi strata satu di program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Di samping sebagai akademisi, dia ikut serta dalam kegiatan kemahasiswaan internal yaitu Himpunan Mahasiswa Program Studi dan aktif dalam organisasi kemasyarakatan di Desa dan Kecamatannya, yaitu IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) Desa Kertijayan dan Kecamatan Buaran Kab. Pekalongan. Sampai sekarang dia juga aktif dalam kegiatan keagamaan di desa tepatnya di Pondok Pesantren Padepokan Padang Ati, Simbang Kulon, Kec. Buaran, Kab. Pekalongan. 

0896-1932-1459



JEJAK SANG KEKASIH

 JEJAK SANG KEKASIH

Karya: Pejalan Usang (Yusril Ihsa Nur Rizqi)

Tumbuh dan merekahlah cinta 

Bagai bunga didalam jiwa

Tebarkan harum, mejaili hidung

Di ufuk barat saat terlelap


   Teruslah menyala dalam jiwa

   Meski aksara tak lagi menghujani

   Hentakan serbuk untuk terus hidup

   Menyelamatkan sesama  disekitar


Ketika datang masanya

Diri ini melebur 

Hilangkan tanda atas suara

Wangi menyertai di kala pergi


CANDRAMAWA

 CANDRAMAWA

Karya: Pejalan Usang (Yusril Ihsa Nur Rizqi)

Pagi datang lagi

Bersama arunika yang menemani

Tak terasa dersik angin menyapa

Menanyakan tentang rasa 


Senandika pun terjadi lagi

Dengan kopi sebagai perangai

Tak bisa hilang dari diri

Pancaran nayanika yang kau miliki


Waktu berlalu begitu saja

Sampai tak terasa, diri ini terkoyak masa

Sedang fana menyertai rasa

Atas apa yang angin tanya


Hujan datang membasahi

Membawa petrikor sekejap

Dan aku melebur

Atas tanya tentang rasa


Dariku Yang Kau Tinggal Dalam Penantian


Dariku Yang Kau Tinggal Dalam Penantian

Karya: Pejalan Usang (Yusril Ihsa Nur Rizqi)

Gemuruh hujan terdengar kembali 

Menghapus jejak setiap langkah kaki

Dibasahinya setiap luka

Membawa pada setiap romansa 


Hujan menyapa lagi

Dan kau lagi-lagi menyeka pipi 

Dinginnya kian menusuk

Bersama sepi yang mengamuk 


Petrikor pun membawa kenangan;

Dan kau mati ditelan kerinduan!


Pelatihan Karya Tulis Ilmiah sekaligus Undangan Menulis Bersama di Kegiatan PENA KITA (Pekan Kepenulisan Karya Tulis Ilmiah Tafsir)


Pelatihan Karya Tulis Ilmiah sekaligus Undangan Menulis Bersama di Kegiatan PENA KITA (Pekan Kepenulisan Karya Tulis Ilmiah Tafsir)


Kegiatan PENA KITA telah sukses dilaksanakan pada hari Sabtu-Minggu, 7-8 September 2024, di Laboratorium Komputer Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD), Gedung FUAD Lantai 2. Acara yang berlangsung dari pukul 08.30 hingga 15.00 WIB ini menghadirkan dua narasumber, yaitu A. Khotim Muzakka, M.A. (dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan) dan H. Za’imuddin, M.Ag., (pengasuh Pondok Pesantren TPI Al-Hidayah Plumbon, Limpung, Batang), sekaligus dosen di Sekolah Tinggi Islam Kendal (STIK). Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan ini berjalan dengan lancar dan memberikan banyak manfaat serta wawasan kepada para peserta.

Materi 1: Pelatihan Kepenulisan Karya Ilmiah & Focus Group Discussion 

Pada sesi pertama, kegiatan PENA KITA dimulai dengan Pelatihan Kepenulisan Karya Ilmiah & Focus Group Discussion yang berlangsung dari pukul 10.30 hingga 12.30 WIB. Materi ini disampaikan oleh Gus H. Za'imuddin Ahya', M.Ag., Sesi ini berfokus pada teknik penulisan karya ilmiah, strategi pengembangan ide, serta diskusi kelompok untuk membahas isu-isu dan tema terkait. Beliau menyampaikan mengenai tahap persiapan dalam menulis, yaitu dengan menentukan tema tulisan, lalu mencari problem dengan berangkat dari tulisan atau penelitian terdahulu, menemukan kegelisahan akademik, dan menemukan ketidaksesuaian antara yang ideal dan realitas yang terjadi. Adapun struktur karya tulis ilmiah (artikel jurnal) yang disampaikan berupa judul, abstrak, latar belakang/pendahuluan, rumusan masalah, metode, pembahasan/hasil dan diskusi, kesimpulan, dan daftar pustaka.

Materi 2: Pelatihan Riset/Penelitian dalam Karya Tulis Ilmiah

Pada sesi kedua, yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 15.00 WIB, peserta mengikuti Pelatihan Riset/Penelitian dalam Karya Tulis Ilmiah yang dipandu oleh A. Khotim Muzakka, M.A. Materi ini mencakup penjelasan tentang metodologi penelitian, teknik pengumpulan data, hingga penyusunan hasil riset yang sesuai dengan standar karya tulis ilmiah. 
a. Riset/Penelitian pada suatu hal mengantarkan peneliti untuk bersikap objektif.
b. Di dalam setiap penelitian harus memuat objek formal dan objek material, atau studi penelitian dan fokus penelitian.
c. Terdapat banyak bentuk penelitian dalam karya tulis ilmiah yang secara garis besar terbagi ke dalam dua jenis: penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif.

1) Penelitian kualitatif terdiri dari metode: Penelitian Lapangan (Field Research), menggunakan teknik analisis Deskriptif-Analitis beserta instrumen/alat ukurnya dan Penelitian Pustaka (Library Research), menggunakan teknik analisis Content Analysis beserta instrumen/alat ukurnya.
2) Penelitian Kuantitatif terdiri dari metode: Eksperimen yang menggunakan teknik analisis Paired Sample T Test atau Independent Sample T Test beserta instrumen/alat ukurnya dan Survey yang menggunakan teknik analisis Statistik Deskriptif beserta instrumen/alat ukurnya.

"Tulisan yang bagus adalah tulisan yang selesai, bukan yang tidak selesai".


Editor : Habiburrahman & Ida Rufaida

Lamunan Hati yang Merajut Jarak - Sugmalia Larasati


Dalam senyap malam yang merayap perlahan,

Lamunan hati membingkai wajahmu yang jauh.

Jarak memisahkan, namun rindu merajut,

Seperti benang halus yang mengikat waktu.


Mataku berlari dalam rindu yang memudar,

Menyusuri jalur kenangan yang terbentang.

Setiap langkah, setiap detik, merangkai cerita,

Di antara lamunan hati yang memeluk sepi.


Seakan malam menari dengan gemerlap bintang,

Kuingin memetiknya satu per satu sebagai pesan.

Bawa ia dalam cahaya, hantarkan ke langit,

Supaya dapat menjelma sebagai senyumanmu.


Lamunan hati membawa lirik-lirik kenangan,

Sebuah lagu yang dipetik dari keheningan.

Melodi yang bermain di gulita kejauhan,

Mengalun lembut, membelai duka yang merintih.


Jarak menjadi pena, kertasnya ruang yang luas,

Tak henti-hentinya kutuliskan nama di langit.

Huruf demi huruf, kata demi kata,

Merajut harapan dalam lamunan yang hampa.


Kau ada di sana, di balik kerinduan yang memisah,

Seperti bayangan yang menghiasi dinding malam.

Tak terlihat, namun hadir dalam doa,

Yang terbang melintasi waktu, menyapa hati yang rindu.


Bunga-bunga kenangan mekar di taman kalbu,

Kucium aroma sukacita, meski jarak memisahkan.

Lamunan hati menjadi peta, mengarahkan langkah,

Menuju tempat di mana kau dan aku menyatu.


Mungkin hanya lamunan, tapi ia menggelora,

Sebagaimana ombak yang tak henti mencari pantai.

Hati ini terombang-ambing dalam lautan rindu,

Mencari jejakmu di setiap serpihan kenangan.


Lamunan hati memerankan drama cinta,

Di panggung yang tak terlihat oleh mata.

Namun, dalam heningnya malam yang sunyi,

Cinta merajut jarak, mengubah rindu menjadi doa.

Bukan Si Anak Hilang-Goresan Pena: Kriss


Aku tak hilang Hanya singgah sekejap. Masih pulang.

Kemarin sore, sarung adalah kekasihku, Dan pagi ini, dasi adalah bidadari dalam latihanku

Dobrakan pintu, adalah Hidangan sahurku Disuapkan perlahan, kepadaku Untuk beranjak ke tempat peraduan

Suara lonceng adalah Sarapanku di pagi hari Dengan nutrisi "disiplin yang mengis Tubuhku untuk taat kepada waktu

Suatu waktu, saat ilusi Tak berlalu, benakku terpanggil Oleh suara melagu, betapa ragu

Sampai aku lupa untuk apa Kala jurang kerinduan kian mengangs Pada hening kelabu yang merona Menakar desir suara yang membahana

Aku lupa, Pada tujuku pertama Hanya azamku yang berkata, untuk Memungut waktu demi waktu Menapak jejak terompah kiaiku.

Dalam suatu keridloan Yang kusengkemkan pada haribaan

Aku akan Kembali, Setelah imajiku mampu memenuhi Pertanyaan umat yang mengironi Kiranya ridlo Satig Murobb Tak berhenti dalam nadi


Batang, 2020

Pesan Dari Taman Kota - Goresan Pena: Kriss


Bukankah kau ingat juga?

Atas temu kita ditaman kota

Kau berwajah lugu tak biasa

Belum pernah terlukis disepasang bola mata,

Mungkin hanya di pelapukku saja

Kau berlarian kecil, Di sekitar kebun mungil

Menganak riang seusia kerdil Seperti saja kau berisyarat,

Mengajakku merawatingat

Atas segala kesan yang tersirat

Dari segala temu saat sempat Kejar kejaran, petak umpet, gurau di atas kursi Ah, semua masih kita ingat Kita rawat dalam fikir sejawat

Teruntuk semuanya, Semoga okesip dan berlimpah segala yang indah


Batang, 2020


Engkau - Goresan Pena: Kriss


Kau,

Tak lain adalah buku sajak, 

Berisi kata yang tercipta Tiap kali kuberanjak


Kau,

Tak lain adalah lampu temaram

 Berbinar sinar kepada wajah muram

 Menerangi jalan sepi yang masam


Kau,

Tak lain adalah aroma kopi 

Menggaib pada halu harap

 Mengudara pada riuh sesat


Dan kau,

Tak lain adalah perangai cinderela

 Dikirim Tuhan atas dekapan doa

 Yang seumur hidup aku pinta


 Batang, 2020

Meresah, Salahkah Goresan Pena: Kriss


Hanya resah,


Rindu yang diangkut dari dalam lubuk Mengalir desir gebu Ke tubuh segala penjuru Merajut rasa menoreh sedu


Tak ada yang lain,


Semu mengemsilkan kesepian


Sendu memekatkan kegetiran


Mangambang diantara hampa dan kesepa


Senyum yang lama tak dirasakan nadi terhitung percuma usiaku Namun,


Segala harap yang menggema dalan doa, membungkus rindu dalam semoga


Malam tak sedang bergurau, Bahian ia mengerti akan perdamaianku dengan gemalau


Batang, 2020

Surat Dari Larut Kopi- Goresan Pena: Krisna

 Kusempatkan kepadamu Meski sekedar detik waktu Tak lain untuk berdamai dengan gema sendu

Kutuliskan sebait sajak Diatas lembaran poyak Sebab kelam menginjak Kala kenang wariskan muak

Teruntukmu yang tela berpijak Dalam sanubari nan menjejak Sebuah bayang ditiap detak

Demi kesunyian yang hadirkan rindu, membayang jelas pada semu, merejut gebu pada kalbu

Kerelakan semalam suntuk Meski harus tegar dikutuk kantuk Hanya karnamu teruntuk

Dengan kesaksian pahit kopi Yang "telah" habis diserap sepi Pada ilusi tak menepi Kepadaku seorang diri Yang letih tuk menyepi

Terimalah kidung rindu ini Dalam alam "ingat"mu meski Tak lain agar aku suci Dari kenangan kenangan Yang bersemayam abadi


Batang, 2020

Kecup Sang Bulan-Goresan Pena: Kriss

 Aku begadang, Pada setiap malam petang Bersamaan dengan ilalang Tanpa ada waktu berselang Kiranya rindu benar benar hilang

Kusebut engkau dengan kenang Yang sangat suka berpetualang Membawa senda atas riang Sesaat kita berlalu lalang

Dalam ingatku kau membayang Mendekap pada rasaku sekarang Genggaman yang dului kencang Ah kita rengang, betapa tak tenang

Aku begadang Dalam malam meradang Tetap kuterjang Kuharap kau tau, Apa arti lebam dipelapuk, Sekaligus harap yang menumpuk Rembulan belum pergi malam ini


Batang 2020


karya : Krisna Hadi Wijaya

Nasaruddin Umar: Penyeru Keselarasan Sosial dalam Bingkai Moderasi Beragama (Analisis Fenomena Nasaruddin Kecup Jidat Paus hingga Jabat Menag)

 

Krisna Hadi Wijaya

krisna.hadi.wijaya@mhs.uingusdur.ac.id

UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia


 

Figure 1: Nasaruddin Umar Kecup Jidat Paus Fransiskus di halaman Masjid Istiqlal, Jakarta (5/9/2024) (Foto: Katolikana.com)


Awal bulan lalu (5/9/2024), masyarakat       Indonesia, bahkan dunia, dihebohkan dengan satu fenomena menarik dari dua tokoh agama besar, yakni momen hangat antara Nasaruddin Umar dengan Paus Fransiskus, di halaman Masjid Istiqlal, Jakarta,


seusai rangkaian acara kunjungan Paus Fransiskus ke masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut. Tepatnya, momen hangat yang paling menjadi sorotan yaitu ketika Paus dan Nasaruddin saling bersalaman ketika hendak berpisah. Lantas, Nasaruddin tampak mengecup jidat Paus sebanyak dua kali. Paus pun kemudian membalasnya dengan mencium tangan Nasaruddin beberapa kali (Mantalean, Vitorio; Setuningsih, Novianti, 2024).

 

Diketahui, Nasaruddin Umar merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia, sejak tahun 2016. Ia juga merupakan seorang cendekiawan Islam dan Guru Besar Bidang Ilmu Tafsir di Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang sebelumnya, pendidikan magister dan doktoralnya ditamatkannya di kampus tersebut. ia juga merupakan pendiri organisasi lintas agama “Masyarakat Dialog antar Umat Beragama,” serta pernah menjabat sebagai Dirjen pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Kementerian Agama Republik Indonesia. Terbaru, ia kini resmi menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia sejak 21 Oktober 2024 kemarin, yang menggantikan Yaqut Cholil Qoumas (Wikipedia, 2024).

 

Sebagai seorang ulama, ia dikenal sebagai ulama yang kerap menyerukan moderasi beragama. Hal ini salah satunya bisa dilihat dari peran Nasaruddin Umar sebagai Imam Besar Masjid


Istiqlal yang rajin membuka gerbang Istiqlal untuk kunjungan silaturahmi atau dialog lintas agama. Momen hangat bersama Paus Fransiskus tadi pun menjadi kegiatan terbarunya dalam menggelar Inter-Faith Dialogue antara Paus Fransiskus dengan 150 tokoh agama Indonesia, dalam kapasitasnya sebagai Imam Besar Istiqlal yang saat itu menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. Dalam momen bersejarah itu, Nasaruddin dan Paus bersama-sama meneken Deklarasi Istiqlal, yang mengorientasikan pentingnya peran agama-agama dalam menangani berbagai persoalan dehumanisasi manusia dan eksploitasi lingkungan hidup (Yudhapratama, Ageng, 2024). Dalam pandangan Paus Fransiskus sendiri, Indonesia merupakan bagian dari upaya untuk memecah ketegangan antara Kristen dan Islam (Marta, Dwiki, 2024).

 

Sementara Paus yang Bernama asli Jorge Mario Bergoglio tersebut merupakan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia ke-266 sejak 2013. Ia memilih nama Fransiskus sebagai nama kepausannya sebagai bentuk penghormatan Santo Fransiskus dari Assisi. Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai figur agamawan yang rendah hati, penekanannya pada belas kasihan Tuhan, kepeduliannya terhadap orang miskin, komitmennya pada dialog antar agama, dan visibilitas internasional sebagai paus (Wikipedia, 2024). Sama halnya dalam hal upaya penguatan moderasi beragama yang telah dibuktikan dari Deklarasi Istiqlal tadi, ia juga sempat memuji dan berharap persaudaraan dan kerukunan antar agama tetap terjaga, salah satunya dengan adanya terowongan Inter-Faith Dialogue antara Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral (Mantalean, Vitorio; Setuningsih, Novianti, 2024).

 

Ditinjau dari paradigma definisi sosial, sebagaimana dipelopori oleh Max Weber, yang mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang berupaya untuk menafsirkan dan memahami tindakan sosial (Raho, Bernard, 2016), penulis mencoba menekankan realitas sosial yang subyektif dari tindakan yang dilakukan oleh Nasaruddin tadi sebagaimana telah disebutkan. Yakni, jika mengacu pada teori Weber tadi, tindakan sosial yang dalam hal ini berupa mengecup jidat seorang paus, sudah barang tentu sangat berarti bagi dirinya sekaligus kepada orang lain pada umumnya.

 

Kendati teori tindakan sosial yang dipelopori Weber ini relatif tidak berkembang dewasa ini, namun teori ini tetap menjadi penting karena perannya dalam meletakkan konsep dasar bagi teori-teori yang mungkin lebih berkembang di kemudian hari, yakni teori interaksionalisme simbolik dan fenomenologi (Raho, Bernard, 2016). Terlepas dari hal demikian, mengenai hal ini, Weber menyebut beberapa konsep penting dalam teori ini, yaitu tentang (1) motivasi, (2) niat (intent), dan (3) perilaku (behaviour). Hematnya, dengan ketiga konsep inilah suatu


tindakan dapat dianalisis, yang kemudian teori tindakan sosial ini lebih berkembang lagi menjadi dua teori yang disebutkan terakhir tadi (Supraja, Muhammad, 2012).

 

Melalui teori ini, nampaknya, dapat dipahami bahwa bentuk tindakan sosial Nasaruddin itu merupakan suatu motivasi yang muncul dari kesadarannya sendiri sebagai objek realitasnya, di mana ia merupakan figur agamawan besar di Indonesia yang kerap kali menggaungkan penguatan moderasi beragama di Indonesia, bahkan dunia. Lebih-lebih ia sendiri merupakan pendiri organisasi lintas agama Masyarakat Dialog antar Umat Beragama”.

 

Nasaruddin juga seakan-akan senantiasa berupaya untuk tetap menggaungkan perdamaian dunia lantaran tidak jarangnya berbagai konflik yang mengatasnamakan agama, dapat mengantarkan perpecahan atau pertikaian antar kelompok maupun masyarakat. Tidak lain juga sebagai implementasi langsung dari Deklarasi Istiqlal yang menitikberatkan pada peran agama- agama dalam menangani berbagai persoalan dehumanisasi manusia dan eksploitasi lingkungan hidup. Nampaknya, inilah yang menjadi niat besar Nasaruddin yang tumbuh dari motivasi tadi.

 

Dengan kecupan khas Nasaruddin kepada Paus itu pula, nampaknya ia berusaha menunjukkan suatu cara yang terkadang dianggap anomali oleh orang-orang pada umumnya, terutama bagi para kaum ekstremisme Islam yang alergi dengan hal-hal demikian. Yakni di mana agama oleh mereka hanya dipandang dari sisi normativitasnya, tanpa melihat sisi historisitasnya. Sisi normativitas, sebagaimana diketahui, yaitu ketika agama berada pada tataran normatif yang bersifat eternal. Sedangkan sisi historisitas dalam artian sisi di mana nilai-nilai eternal agama yang universal masuk pada ruang lingkup budaya. Tentu hal demikian tidak lain masih dalam koridor menyerukan keselarasan sosial dalam bingkai moderasi beragama.

 

Para sosiolog juga berpendapat bahwa dua sisi agama tersebut memiliki perbedaan masing- masing, namun tidak dapat dilepaspisahkan (Syamsuddin, Akbar, 2020). Adapun ketika nilai- nilai universal agama telah masuk ke dalam dimensi historisitas atau budaya, maka semestinya agama terintegrasi dengan persoalan-persoalan parsial kehidupan aktual manusia. Tentu persoalan ini tidak bisa dilepaspisahkan dari masyarakat karena sifat agama sendiri yang merupakan kebutuhan asasi dalam kehidupan masyarakat.

 

Dipilihnya cara anomali itu pun sudah barang tertentu telah melalui berbagai pertimbangan, baik secara normativitas maupun historisitas agama, sosio kultural maupun sosio-politik, dan lain sebagainya, yang barang kali isu-isu tersebut masih berkembang hangat dewasa ini. Salah


satu sebagai contohnya ialah ketegangan antara Islam dan Kristen yang juga berusaha dipecahkan oleh Paus Fransiskus pula saat kunjungannya ke Indonesia itu.

 

Sementara bagi khalayak umum, tindakan khas yang dilakukan oleh Nasaruddin kepada Paus itu tadi jelas menjadi fenomena yang sangat jarang sekali dijumpai. Tentu banyak pemaknaan atau penafsiran terkait hal tersebut, baik secara normativitas maupun historisitas, mengingat sosok Nasaruddin merupakan salah satu tokoh agamawan yang menjadi panutan di Indonesia. Terlepas dari dualitas perbedaan penafsiran itu, jelasnya Nasaruddin telah memberanikan diri untuk kembali menyegarkan semangat moderasi beragama melalui keselarasan sosial sekalipun melalui perilaku mikro seperti yang dilakukannya itu. Ia otomatis juga telah menjadi suatu tauladan tersendiri bagi segenap umat beragama di  Indonesia bahkan dunia untuk senantiasa menjaga dan menguatkan moderasi beragama di manapun dan kapanpun.

 

Adapun hal yang cukup unik lagi ialah mengenai ditunjuknya Nasaruddin sebagai Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia dalam Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masa bakti 2024-2029 sejak 21 Oktober 2024 kemarin, yang menggantikan Yaqut Cholil Qoumas lantaran telah purna tugasnya sebagai Menag dalam Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin masa bakti 2019-2024. Ada netizen yang menilai bahwa hal demikian merupakan keberkahan dari Tuhan lantaran Nasaruddin pernah mengecup jidat Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia. Nampaknya, bagi umat Katolik sendiri hal demikian memang menjadi sebuah kepercayaan mistis tersendiri, di mana fenomena khas tersebut berlangsung belum lama dari dilantiknya Nasaruddin sebagai Menag.

 

Terlepas dari keragaman anggapan itu, yang jelas secara empiris—baik sebelum maupun setelah resmi menjabat Menag—Nasaruddin telah mencontohkan salah satu bentuk tindakan simbolik kepada publik sebagai seruan untuk senantiasa menjaga keselarasan sosial yang masih dalam bingkai moderasi beragama. Adapun fakta mengenai dilantiknya sebagai Menag, bisa saja karena relevansi profesionalisme Nasaruddin dengan strategi Prabowo yang hendak mengisi kabinetnya dengan tokoh-tokoh dari kalangan professional, di mana Menag sendiri mengemban tugas besar untuk senantiasa menggaungkan semangat moderasi beragama, yang bisa dikatakan sesuai dengan background Nasaruddin.

 

Berpijak dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa semangat moderasi beragama harus senantiasa dijaga, dirawat, dan dikuatkan, di manapun tempatnya dan kapanpun


waktunya sekalipun melalui perilaku-perilaku mikro terhadap umat beragama lain. Implementasi ini juga tidak semata-mata menjadi perilaku tersendiri bagi para tokoh pembesar negara, apalagi menganggapnya sebagai suatu kewajiban dan tugas mereka, melainkan berlaku bagi setiap individu umat beragama yang telah dicontohkan oleh setiap ulama’ melalui peranannya dalam berbagai bentuknya. Hal ini lagi-lagi mengingat bahwa Indonesia tidak lain merupakan negara yang berideologi Pancasila dengan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyannya yang khas itu, yang sangat mengisyaratkan bahwa keniscayaan suatu perbedaan antar kelompok yang terjadi harus senantiasa terjaga persatuan dan kesatuannya dalam satu lingkup besar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Bibliography

 

Mantalean, Vitorio; Setuningsih, Novianti. (2024). Momen Hangat Paus Fransiskus dan Nasaruddin Umar, Jabat hingga Cium Tangan. Jakarta: Kompas.com. Retrieved Oktober       21,       2024,                                                from https://nasional.kompas.com/read/2024/09/05/11483021/momen-hangat-paus- fransiskus-dan-nasaruddin-umar-jabat-hingga-cium-tangan?

 

Raho, Bernard. (2016). Sosiologi (4 ed.). Yogyakarta: Moya Zam-zam.

 

Supraja, Muhammad. (2012). Alfred Schutz: Rekonstruksi Teori Tindakan Max Weber. Jurnal Pemikiran Sosiologi, 1 (2), 81-90.

 

Syamsuddin, Akbar. (2020). Konflik Sosial dalam Perspektif Sosiologi Agama. Al-Din: Jurnal Dakwah dan Sosial Keagamaan, 6 (1).

 

Wikipedia. (2024, Oktober 21). Nasaruddin Umar. Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Bebas.

Retrieved Oktober 22, 2024

 

Wikipedia. (2024, Oktober 16). Paus Fransiskus. Retrieved Oktober 22, 2024

 

Yudhapratama, Ageng. (2024). Pernah Cium Paus, Nasaruddin Umar Kini Jabat Menteri Agama.                            Jakarta:                Katolikana.com.                Retrieved                from https://www.katolikana.com/2024/10/20/pernah-cium-paus-nasaruddin-umar-kini-

jabat-menteri-agama/