Subscribe Us

6/recent/slider

Entri yang Diunggulkan

Luka Bercerita

Kau tahu apa tentang kesedihan? Kesedihan adalah hujan di saat kemarau; langit menetes ketika bumi tak lagi berharap, dan tak seorang pun me...

Senin, 04 Desember 2023

 Tuhan, di sini aku

Karya: elnahdi


Tuhan, di sini aku terlahir

dalam bisingnya makhlukMu


Tuhan, di sini aku bernafas

dalam pekatnya asap hitam peledak


Tuhan, di sini aku mendengar

jerit tangis manusia yang tak berdosa tiap detiknya


Tuhan, di sini aku bertahan

demi al AqsaMu yang mulia


Tuhan, di sini aku berharap

semoga engkau segerakan janji kemenanganMu kepada kami

Semoga segera usai genosida tanpa rasa iba

Semoga saja

Aamiin

 TASAWUF AMALI : AMALIAH MUJAHADAH DI PONDOK PESANTREN AL-HASYIMI DESA SALAKBROJO

Oleh : M. Lutfan Zaky, Lia azania


Salah satu hal yang harus ditempuh oleh seorang sufi sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah yaitu mujahadah. Mujahadah (berjuang melawan hawa nafsu) adalah menyepihnya, membawanya keluar dari keinginan-keinginan yang tercela dan mengharuskannya untuk melaksanakan syari’at Allah, baik perintah maupun larangan. Menurut Al-Shadiqi, bahwa mujahadah itu ialah kemampuan diri untuk menekan dorongan hawa nafsu yang selalu ingin berbuat hal-hal yang buruk, lalu mampu memaksanya untuk berbuat hal-hal yang baik. (Fahrudin, 2016)

Kata mujahadah berasal dari kata jihad, yang artinya “berusaha dengan sungguh-sungguh dengan mengerahkan segala kekuatan pada jalan yang diyakini baik dan benar”. Dalam pengertian kaum sufi, mujahadah yaitu “upaya spiritual melawan hawa nafsu dan berbagai kecenderungan jiwa rendah”. Mujahadah adalah perang terus menerus melawan hawa nafsu, dan perang ini dianggap sebagai perang besar (al-jihad al-akbar), dan perang ini menggunakan senjata samawi berupa dzikir kepada Allah. Sedangkan menurut Al Qusyairi, mujahadah adalah suatu upaya untuk membebaskan diri dari kekangan hawa nafsunya yang menjadi sifat manusiawi, dan berusaha mengendalikan diri serta tidak memperturutkan kehendaknya dalam kebanyakan waktu. Al-Ghazali mendefinisikan mujahadah sebagai pengerahan kesungguhan dalam menyingkirkan nafsu dan syahwat atau menghapuskannya sama sekali. Menurut Ali Ar-Rudzbari, bahwa prinsip mujahadah pada dasarnya adalah mencegah jiwa dari kebiasaan-kebiasaannya dan memaksanya menentang hawa nafsunya sepanjang waktu. (Fahrudin, 16)

Pondok pesantren Al-Hasyimi dibawah asuhan Kiai Nur Chamim Udrus, yang terletak di desa Salakbrojo mempunyai amalan mujahadah tersendiri yaitu Nihadlul Mustaghfirin.

Setiap pesantren biasanya memiliki amaliah mujahadah yang berbeda-beda namun tetap terhubung sanadnya sampai Rasulullah. Di salah satu Pesantren didesa salakbrojo ada mujahadah mengamalkan Nihadul Mustaghfirin yang mana kiai dari pondok tersebut merupakan santri dari Tegalrejo. Al maghfurlah  KH. Achmad Muhammad yang sering di panggil Gus Muh Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah adalah salah satu ulama' yang paling dekat dengan kaum abangan, beliau sering sekali berkumpul berbaur dengan masyarakat yang masih gelap gulita. belum kenal dan bahkan tidak tahu kebenaran yaitu agama Islam, dalam misinya beliau ibarat Obor (Jawa) yang menerangi dalam kegelapan.

Dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, selain melalui dunia pesantren beliau juga mendatangi setiap daerah ke pelosok dan lain sebagainya bukan hanya ta'lim wa ta'alim. Melalui mujahadah Nihadlul Mustaghfirin beliau aktif dalam perjuangan memajukan agama, bangsa dan negara, bukan hanya itu demi I'la I Kalimatillah 'Ala Thoriqotil Ba'dli Auliya'i Tis'ah. Ulama yang juga gemar dengan adat Jawa ini melalui PBA (Pawiyatan Budaya Adat) tiap bulan sya'ban beliau mengumpulkan beberapa kesenian. Beliau pun mengajak kepada semua untuk ikut berbaur mencari pahala yang lebih baik dari dunia seisinya yaitu kenikmatan keabadian yang nyata surga tempatnya.

Dalam kesehariannya beliau suka merendah tak mau di puja apalagi di muliakan. Dari beberapa cerita beliau tidak mau di panggil almukarom atau kiai, lebih suka di panggil gus atau mas, dari situlah beliau dekat dengan siapa saja tanpa membeda bedakan dan tidak pernah mencela seseorang, Karna pada hakikatnya tidak dibenarkan mencela seorang pun dari makhluk Allah. Pelaku kesesatan, pelaku maksiat maupun orang kafir. Selama mereka masih hidup pada hakikatnya masih mempunyai peluang yang sama peluang untuk berubah.

Wama arsalnaaka illa rohmatan lil aalamin,

Nabi Muhammad SAW diutus untuk mengayomi seluruh umat manusia semuanya, dan tak peduli etnis, suku dan apa agamanya. Bukan orang atau pelaku yang salah paham atau pelaku kesesatan kesalahpahaman tapi kesesatan yang harus di luruskan. Bukan pelaku maksiat (orangnya) tapi perbuatan maksiat yang harus di cela . Celalah kekafiran namun jangan mencela orang kafir. Pesan beliau (Gus muh) jadilah orang yang bermanfaat, khoirunnas anfauhum linnas, dapat mengayomi masyarakat tanpa terkecuali.

Amalan mujahadah Nihadzul Mustaghfirin yang ada di Pondok Pesantren Al-Hasyimi  dilakukan setiap malam jum’at. Tapi semisal mau dilakukan setiap malam juga lebih baik karena kalau alumni Pondok Pesantren Tegalrejo sendiri melakukannya setiap malam. Mujahadah sendiri bersifat kondisional tidak harus baiat, kalau ada orang yang belum pernah mengikuti mujahadah lalu mengikutinya untuk pertama kali itu sudah termasuk diijazahi atau baiat.

Selanjutnya Kiai Nur Chamim Udrus mengajak santri-santrinya untuk bermujahadah di mushola Al-Istiqomah di desa Salakbrojo, untuk menarik masyarakat sekitar supaya mengikuti mujahadah tersebut. Dan kegiatan mujahadah di mushola Al-Istiqomah dilaksanakan satu bulan sekali setiap malam jum’at kliwon.

Tujuan diadakannya amalan tersebut ialah:

Menumbuhkan spiritualitas masyarakat sekitar

Mendirikan rutinitas keagamaan setiap bulannya

Menciptakan kehidupan bermasyarakat yang damai, tenang, teratur serta terarah.

 "Kehidupan tak lepas dari masalah. Namun ketika masalah datang, biasanya hati jadi tak tenang. Dengan dzikir kepada Allah akan menenangkan hati". Hal ini agar tercipta ketentraman diri yang tentunya akan berpengaruh pada ketentraman lingkungan.


Referensi

Fahrudin (2016). Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta’lim. 65-69.

Riswanto Cahyo,  M. (2020). Pendidikan Akhlak Tasawuf (Studi kasus di Pondok Pesantren Suryabuana Dusun Balak, Desa Losari Kabupaten Magelang 2019). 61-12.

Al-Hasyimi, Santri (2023, 10 Juni). Amalan Mujahadah [Wawancara].



 SANG PANGERAN

Karya : Elnahdi


Debu berpesta diudara

Diiringi derap kaki kuda

Dibarengi pekik takbir pasukannya

Tuk menyambut dua janji Allah

Syahid dan menghuni surgaNya

Atau kemenangan tuk tanah air di pertempuran


Lelaki mulia itu memandang tajam musuh Allah

Sebilah pedang terayun ditangannya

Tuk memenggal kepala nan penuh angkara

Guna memerangi kedholiman nan sarat kekejaman


Tubuhnya meliuk diatas kuda

Tangannya gesit diantara denting pedang

Mulutnya bersenandung Kalamullah

Wahai gagah sekali dia


Kala gelap merayap

Melangit harap kepadaNya

Kiranya hentikan saja semua ini

Sakit kala melihat rakyat sekarat

Perih ditengah anak-anak yang merintih

Sebab dicengkeram Borjuis bak iblis


Dirinya rapuh kala bersimpuh

Mencoba kuat kala bergulat

Menerjang Walanda yang berlagak dewa

Ya Dialah Sang Pangeran itu

Sang Pangeran penggemar taktik gerilya

Sang Pangeran pecinta kezuhudan

Dialah Diponegoro Sang Pangeran Tanah Jowo