TIDAK ADA KATA IKHLAS MELAINKAN BERDAMAI DENGAN WAKTU
Erlangga Sulistyo
Ikhlas merupakan salah satu keutamaan yang harus dimiliki oleh setiap muslim, ikhlas juga merupakan salah satu puncak ketakwaan bagi seorang hamba, karena ia hanya mengharapkan kebaikan Allah saja. Tentu saja sikap ikhlas tidak bisa terbentuk secara tiba-tiba, melainkan memerlukan proses pembentukan diri. Manusia merupakan makhluk yang penuh kompleksitas, karena tidak hanya terdiri dari unsur jasmani, tetapi juga memiliki unsur ruhani. Dari kedua unsur tersebut, terlihat bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi yang beragam. Jika dilihat dari aspek jenis kelaminnya, manusia mencakup berbagai sisi, seperti fisiologi, psikologi, seksual, karir, dan masa depannya.
Kata ikhlas berasal dari bahasa Arab yang sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab, ikhlas berarti bersih, murni, dan jernih. Adapun makna ikhlas dari segi syariat, para pemuka agama atau ulama memberikan ekspresi bahasa yang cukup variatif. Ikhlas berarti mendedikasikan dan mengorientasikan seluruh ucapan dan perbuatan, hidup dan mati, diam, gerak, dan bicara, hingga pada keadaan kesendirian dan keramaian, serta tingkah laku di dunia ini hanya semata untuk meraih keridhaan Allah.
Berdamai dengan situasi bisa menjadi sulit, terutama setelah fase buruk terjadi. Sebab kita terlalu sibuk berduka atas luka dan harapan terlalu tinggi, bahkan terhadap diri kita sendiri. Karena justru malah menambah beban, apalagi jika jauh dari kemampuan dan kesanggupan kita untuk mencapainya. Salah satu pemicunya adalah membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan tidak bisa memaafkan diri sendiri. Terkadang fokus pada kehidupan orang lain membuat kitab lemah dan lupa mensyukuri apa yang sudah kita capai. Jika keadaan ini terus berlanjut maka akan mempengaruhi penerimaan diri dari lingkungan serta menjadi penghambat kebahagiaan di masa depan.
Setiap orang mempunyai definisi tentang makna ikhlas, entah itu dari pengalaman pribadinya maupun pengalaman yang terjadi di keluarganya. Beberapa waktu lalu, saya sempat bertukar pikir dengan sahabat saya mengenai makna ikhlas sesungguhnya. Dia berbicara kejadian apa saja yang menimpa di dirinya dan cara menghadapi cobaan bahkan ujian. Salah satunya, dia mengatakan bahwa dirinya telah menyadari sebagai orang awam sebenarnya berbicara tentang ikhlas itu bukan sepenuhnya kita berada di titik ikhlas, melainkan belajar ikhlas. Kita tidak akan pernah bisa mencapai puncak ikhlas, karena ikhlas itu tentang perasaan. Ikhlas itu muncul apabila kita tidak mengingat sebuah masalah yang anggap kita sangat berkesan sepanjang hidup di dunia ini. Dan ikhlas bisa hilang karena kita mengingat sebuah masalah tersebut. Sebenarnya dengan adanya kita mengingat mempunyai masalah-masalah besar di hari yang sudah kita lewati itu sangat penting sekali. Agar kita dapat belajar dari sebelumnya bahwa apa yang kita lakukan itu tidak semata untuk kepentingan diri, mungkin saja Tuhan menganggapnya nafsu kita terhadap sesuatu. Tuhan lebih mengerti apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.
Berhubung kita adalah orang awam, bukan nabi maupun ulama, kita hanya bisa belajar dan terus belajar ikhlas. Walaupun di waktu yang akan datang kita mengalami hal-hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi, entah itu membuat kita kurang bersyukur, atau tidak menerima dengan takdir, setidaknya kita belajar menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Sejatinya di agama islam pun pada saat hari hisab, amal dan perbuatan kita akan ditampilkan atau di perlihatkan baik buruknya. Begitu pula dengan kita yang mempunyai masalah di dunia ini, pasti ada kalanya kita teringat masalah tersebut ada kalanya juga kita lupa. Jadi tidak bisa sepenuhnya ikhlas. Begitulah pernyataan dari sahabat saya mengenai makna ikhlas.
Terlalu banyak versi jika kita memaknai tentang ikhlas dan tidak bisa di definisikan secara rasional. Ada salah satu pengalaman yang membuat saya tertuju bahwa makna ikhlas sesungguhnya terletak pada seorang ibu yang ditinggal selama-lamanya oleh suaminya. Beliau pernah mengatakan bahwa dirinya mempunyai kesepakatan sebelum dua bulan suaminya meninggal. Isi dari kesepakatan itu adalah bersepakat dengan suaminya akan menyekolahkan anak terakhirnya hingga wisuda. Dua bulan dari kesepakatan tersebut, suaminya meninggal dunia. Beliau hanya terdiam tidak bisa menangis pada waktu suaminya meninggal. Mungkin sangat hancur hatinya sampai tidak bisa mengeluarkan air mata.
Dari kisah pengalaman tersebut, beliau tidak menyangka sekali bahwa akan di tinggal pergi oleh suaminya. Beliau hampir tidak menerima takdir, tetapi hebatnya ibu itu menyadari seluruh ketetapan Tuhan itu pasti ada. Ketika beliau ingin menyerah, selalu mengatakan bahwa kunci dari ikhlas itu harus bersabar, walaupun sangat sulit sekali untuk menjalankan kenyataan itu semua. Dari pengalaman beliau dapat kita ambil pelajarannya, perjalanannya menghadapi sebuah cobaan atau ujian yang pasti ada di dalam hidup kita semua.
Sebagaimana orang awam perlu kita sadari bahwa makna ikhlas adalah menerima keadaan atau situasi tanpa adanya perlawanan atau penolakan entah itu senang, sedih, susah maupun bahagia. Kita boleh istirahat tetapi kita tidak boleh menyerah untuk tetap melanjutkan hidup dengan semestinya dengan kondisi apapun. Walaupun semua orang belum tentu bisa mencapai pada titik ikhlas, dan hakikatnya ikhlas itu terbentuk dari step by step hingga berdamai dengan waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Ramayani, Intan, Konsep Ikhlas dalam Implementasi Daqu Method di Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an Bandung, Jurnal Riset Agama, Vol, 2, No .2022.
Yasin, Ahmad Hadi, Meraih Dahsyatnya Ikhlas, QultumMedia, Cetakan ke-1. Jakarta, (2010).
Arumjati, Shanju, Panduan Berdamai dengan Keadaan, Laksana, Cetakan ke-1. Banguntapan Yogyakarta, 2023.






0 comentários:
Posting Komentar