Karya: Tasya Zaki Arifatun Nisa
ABSTRACT
Penelitian ini berisi mengenai wawancara
yang dilakukan oleh peneliti kepada beberapa remaja yang berumur 17 sampai 23
tahun. Yang membahas mengenai dampak psikologis dan mental remaja dalam
merenungkan dan mengamalkan Al-qur’an. Dengan menggunakan metode penelitian
kualiatif naratif-deskriptif yang dilakukan menggunakan platform google form.
Hasilnya adalah mereka faham akan dampak dariAl-qur’an dan sering dalam mengamalkan Al-qur’an namun pada
perenungan jarang dilakukan. Sehingga ini berdampak bagi kehidupan sehari-hari
mereka, apalagi mereka pada usia remaja adalah usia yang rentan terkena
masalah, sedangkan dalam Al-qur’an sendiri banyak yang mengatakan mengenai
pasal kesehatan mental dan psikologi manusia seperti contoh dalam surah al-Isra’
ayat 82, (Q.S Al-Insyirah 94 : 6),(Q.S Al-Baqarah: 286) dan masih banyak
ayat lainya yang membahas mengenai ini.
PENDAHULUAN
Remaja
adalah masa dimana seseorang tersebut mengalami masa perubahan, masa yang
kritis dalam perkembangan dan lainya. Remaja merupakan orang yang menginjak
umur 10 sampai 25 tahun ini yang diharapkan
sehat lahiriah dan mental, cerdas, berkualitas dan produktif dalam
meningkatkan dirinya. Salah satu hal yang meningkatkan kesehatan mental adalah
agama, salah satunya adalah dengan merenungkan dan mengamalkan Al-qur’an.
Namun, kenyataanya pada zaman sekarang ini banyak juga remaja yang lalai tidak
merenungkan dan mengamalkan Al-qur’an contohnya adalah jarang membaca Al-qur’an
bahkan ada pula yang tidak pernah sama sekali merenungkan Al-Qur’an,
dikarenakan beberapa alasan. Hal ini tentu sangat berpengaruh bagi mental dan
psikologi mereka, terdapat perbedaan mental dan psikologi mereka antara seorang
remaja yang rajin dan yang tidak dalam merenungkan dan mengamalkan Al-Qur’an.
Sebagai
remaja diperlukan kesehatan baik fisik maupun mental, baik lahiriyah maupun
batiniyah, Karena remaja adalah cikal bakal calon penerus bangsa. Remaja yang
baik adalah mereka yang mengerti dan melakukan segala perbuatan yang baik dan
tidak dari Al-Qur’an dan hadist. Terutama pada kitab Al-qur’an, mereka
hendaknya membiasakan dalam kehidupan sehari hari merenungi dan mengamalkan
Al-Qur’an, seperti membaca Al-qur’an, menghafalnya, mentadabburi maknanya, dan
lainya. Sehingga remaja pada era modern ini tidak lalai terhadap kitab suci
ini yang memiliki banyak manfaat jika
diamalkan terutama baik bagi kesehatan psikologis dan mental mereka.
Dalam
Islam sendiri Al-Qur’an adalah kitab suci bagi muslimin, juga sebagai kitab
rujukan bagi setiap tindakan dalam menyelesaikan seluruh problematika
kehidupan. Dengan merenungkan dan mengamalkan Al-Qur’an ini remaja dapat
menenangkan pikiran dan batin agar tenang dalam menjalani kehidupanya. Dalam
Al-Qur’an sendiri tentu saja Allah banyak menurunkan ayatnya mengenai hal
mental atau psikologi bagi seluruh umat manusia, seperti tentang kesabaran,
bertafakur, zikir dan doa. Sehingga diharapkan pada usia seperti remaja ini
Al-qur’an dapat membantu mengatasi kegelisahan jiwanya dalam menghadapi
kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian saya ini akan menggunakan metode
penelitian kualiatif dikarenakan saya akan memahami dan dan mencari data pada
lingkup sosial menggunakan google form yang dilakukan secara online terhadap
beberapa remaja dan disajikan dalam bentuk naratif deskriptif.
Pada
era zaman sekarang ini ada beberapa remaja muslim yang lalai dan ada yang masih
terus mengamalkan dan merenungi kitab sucinya yaitu Al-Qur’an. Pada penelitian
ini bertujuan untuk mendalami bagaimana merenungkan dan mengamalkan ajaran
Al-Qur’an memengaruhi kesejahteraan individu secara psikologis. Melalui
pendekatan kualiatif ini, penelitian ini akan menganalisis pengalaman dan
persepsi individu setiap remaja terhadap praktik spiritualitas dalam Islam,
serta dampaknya terhadap aspek-aspek kesejahteraan emosional, kebahagiaan, dan
kesejahteraan emosional. Penelitian ini juga akan menyelidiki ayat dalam
Al-qur’an apa sajakah yang mengandung makna tentang penelitian ini . Sehingga
diharapkan hasil dari penelitian ini adalah memberikan pemhaman mendalam mengenai
bagaimana Alqur’an dapat memengaruhi kesejahteraan mental individu.
LITERATURE
REVIEW
A. Pengertian Al-qur’an
Menurut
kepercayaan umat muslim Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam yang mana
diturunkan oleh Allah kepada malaikat jibril melalui perantara wahyu yang
disampaikan kepada Nabi Muhammad. Al-Qur’an merupakan pedoman dan petunjuk bagi
setiap insan di dunia ini. Al-Qur’an memiliki beberapa hakikat seperti kalaamullaah, mukjizat, diturunkan
kepada hati nabi, disampaikan secara mutawatir dan membacanya adalah ibadah.[1] Al-Qur’an merupakan
mukjizat yang tidak akan pernah habis hingga akhir zaman. Al-qur’an menjadi
keberkahan bagi setiap orang yang belajar
maupun yang mengajarkanya walaupun hanya satu ayat.
Allah
SWT menyebutkan pada Q.S. Al-Isra ayat 9, bahwa Al-Qur’an al-karim ini
merupakan kitab samawi yang teragung,yang meghimpun semua ilmu, yang diturunkan
paling akhir dari Rabb semesta alam memberi petunjuk kepada jalan yang lurus,
adil dan benar.[2] Al-Qur’an bagai cahaya Tauhid yang menerangi
manusia dari kegelapan menuju terang, dari zaman jahiliyah hingga zaman
berperadaban yang beradab ini. Membaca, menghafal, memahami maknanya, bahkan
mendengarkanya saja sudah mendapat rahmat dan keberkahan dari Allah SWT. Maka
dari itu manusia sangat merugi apabila berpaling dan meninggalkan kalaamullaah
ini.
B. Pengertian
psikologis dan mental dalam dampak Al-Qur’an
Secara
etimologis istilah psikologis berasal dari Yunani yaitu dari kata psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Psikologi
dalam bahasa Inggris disebut psychology,
sedangkan dalam bahasa Arab disebut ilmunnafsi. Jadi secara harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang
mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan.[3] Beberapa ahli
psikologi kurang sepakat jika psikologi
adalah ilmu yang membahas tentang kejiwaan, pada saat ini psikologi lebih
condong membahas pada ilmu tingkah laku manusia.
Didalam
Al-Qur’an dan Hadist ada banyak istilah
yang berkaitan dengan jiwa manusia, misalnya Al-fitrah, al-ruh,
al-nafs, al-qalb, al-aql, al-dhamir, dsb.[4]
Al-qur’an dan hadist menjadi sumber utama dalam psikologi. Dengan demikian
integrasi nilai-nilai Al-Qur’an dan hadist adalah sebuah keniscayaan baik dari
sisi ontologi, epistemologi, dan aksiologinya. Oleh karena itu Al-qur’an
memiliki dampak bagi orang yang membaca maupun mengamalkanya dalam bidang
psikologi.
Sedangkan mental
adalah kata yan berhubungan dengan watak
dan batin manusia. Kata mental berasa dari bahasa latin “mens” (mentis) yang
berarti jiwa, nyawa, sukma, roh, dan semangat. Menurut Kamus besar bahasa
Indonesia( KBBI), mentalitas adalah aktivitas jiwa, cara berpikir, dan
berperasaan. Mental saling berhubungan dengan psikologi. Menurut WHO kesehatan
mental Mental health is more than the
absence of mental disorders. Kesehatan mental lebih dari sekedar tidak adanya
gangguan mental melainkan keadaan yang
memungkinkan seseorang mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuanya belajar dan bekerja dengan baik serta
berkontribusi pada lingkungan dan komunitasnya.[5]
Kesehatan mental merupakan keadaan seseorang baik jasmani dan
rohani untuk menjalankan seluruh potensi yang ada pada dirinya dalam
menjalankan kehidupanya akar bahagia
dunia maupun akhirat. Dalam Al-Qur’an yang sebagai kitab pedoman hidup manusia
juga disebutkan ada ayat-ayat mengenai
potensi manusia dalam pembentukan kesehatan mental. Baik ayat yang berhubungan
dengan manusia dan dirinya sendiri, manusia, lingkungan. Sehingga bagi
seseorang yang membaca dan mengamalkan Al-Qur’an memiliki dampak dalam kehidupanya
sehari-hari.
METODE
PENELITIAN
Jenis
penelitian ini menggunakan jenis metode kualiatif karena penelitian ini
memahami perilaku elemen manusia dalam ranah sosial. Dengan menggunakan sample
beberapa remaja dan bersifat individual. Bersifat subjektif atas data
individual yang bersifat induktif. Dengan mengembangkan nilai dan pengambilan
kesimpulan berdasarkan data dan pengalaman yang terlepas dari data-data
numerik.
Penelitian
ini menggunakan metode field research atau bisa disebut penelitian lapangan.
Metode ini mengumpulkan data kualiatif yang bertujuan untuk mengamati,
berinteraksi, dan memahami manusia yaitu lebih tepatnya pada kalangan remaja
yang sebagai tujuan utama penelitian ini. Metode ini juga bertujuan untuk
mengamati dan menganalisis perilaku spesifik subjek dalam kegiatan merenungkan
dan mengamalkan Al-qur’an tersebut. Penelitian field research ini membantu
mengumpulkan data dan menarik kesimpulan tentang beberapa perspektif remaja
yang diwawancarai.
Sumber
data adalah subjek dari mana data tersebut berasal. Sumber data pada penelitian
kualiatif ini berupa kata-kata yang dikumpulkan menggunakan kuisioner melalui
google form. Kuisioner dalam pengumpulan data yang bersumber pada beberapa
responden yaitu beberapa sample remaja. Data penelitian ini bersifat data
primer karena data diperoleh langsung oleh peneliti yang diperoleh dari
responden melalui kuesioner.
Menurut
Notoadmdjo instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk
mendapatkan atau mengumpulkan data. Instrumen penelitian pada penelitian ini
menggunakan jenis kuesioner. Kuesioner berisi beberapa pertanyaan yang dibuat
secara terstruktur untuk mengumpulkan data dari responden. Instrumen penelitian
ini berfungsi untuk mengetahui sumber data yang akan diteliti untuk mengetahui
validitas, rebilitas, tingkat kesukaran daya pembeda antar responden tanpa
harus peneliti ada di tempat.
Teknik
analisis data pada penelitian kualiatif ini mencari dan menyusun data secara
sistematis dari hasil wawancara dengan kuesioner. Diawali dengan peneliti
membuat beberapa pertanyaan sistematis mengenai hal dampak dari merenungkan dan
mengamalkan Al-qur’an. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dibuat dalam google form,
lalau dibagikan pada akun sosial media peneliti untuk beberapa remaja. Setelah
itu data terkumpul dan peneliti mengumpulkan lalu mengamati atas jawaban dari beberapa responden
tersebut. Dan disajikan dalam bentuk naratif deskriptif.
RESULT
Data
penelitian ini berasal dari Kuesioner yang diisi oleh beberapa remaja mengenai
hal merenungkan dan mengamalkan Al-qur’an. Dengan melewati google form dan
dikirim secara online melalui akun sosial media peneliti, kuesioner diisi oleh
remaja yang minat untuk mengisi. Dengan menggunakan google form saya
mengumpulkan data dan merancang survei secara efisien. Pada tanggal 7 april
2024 penelitian ini selesai dilaksanakan.
Pada pertanyaan yang
pertama yaitu “berapa umur anda?” Jumlah remaja yang mengisi kuesioner ini
berjumlah 19 orang dari umur 17 sampai 23 tahun. Dengan remaja yang berumur 17
tahun 1 orang, 18 tahun 5 orang, 19 tahun 7 orang, 20 tahun 3 orang, 21 tahun 1
orang, dan 23 tahun 2 orang. Perolehan jawaban remaja paling sedikit adalah
umur 17 dan 21 tahun. Dan perolehan jawaban paling banyak adalak umur 19 tahun.
Dalam kehidupan
sehari-hari para remaja tersebut dalam mengamalkan Al-Qur’an mereka melakukan
kegiatan yang bermacam-macam. Bisa
dengan satu kegiatan atau bahkan lebih dalam mengamalkan Al-qur’an. Dengan
perolehan jawaban membaca 14 orang, mendengarkan Al-qur’an 1 orang, memahami
maknanya 3 orang, menghafal 1 orang. Ini menandakan bahwa remaja banyak yang
mengamalkan dengan cara membaca.
Dengan
jumlah intensitas sering dan alasan dalam melakukan kegiatan tersebut juga
bermacam-macam anatar individu. Ada yang menjawab 1-2 kali sehari, ada yang
tiap habis maghrib dan ashar, ada yang satu hari 1 kali, ada yang satu minggu
sekali, ada yang menjawab minimal 1 kali, ada yang menjawab sibuk, ada yang
menjawab setiap selesai sholat fardhu ( 5 kali sehari), ada yang membaca 3
lembar sehari, ada yang 5 kali sehari setelah sholat fardhu, ada yang menjawab
jika sedang sempat saja. Jawaban antar individu bermacam-macam sesuai dengan
alasanya masing -masing.
Lalu
pada pertanyaan selanjutnya tentang “Apakah pernah individu merenungi makna
atau arti dari Al-Qur’an?”. Jawabanya diisi oleh masing-masing individu dengan
perolehan 68,4% atau setara dengan 13 orang menjawab jarang. Dan dengan
perolehan 31,6% atau setara dengan 6 orang yan menjawab sering. Jawaban hanya
ada 2 jenis jawaban yang terjawab yaitu sering dan jarang. Dengan jawaban
paling banyak jarang dan paling sedikit sering.
Lalu
pada jawaban selanjutnya pada pertanyaan terakhir “jika anda pernah merenungi
makna Al-Qur’an apakah berpengaruh pada perilaku dan mental anda dalam
kehidupan sehari-hari?” jawabanya pun sangat beragam. Ada yang menjawab dengan
memahami Al-Qur’an membuatnya semakin bersyukur dengan menyadari segala kuasa
Allah. Ada yang menjawab di dalam hadist Nabi diperintahkan untuk menjadi
individu yang lebih baik dari kemarin yang membuat dirinya termotivasi. Ada
pula yang berpendapat karena Al-qur’an adalah sumber kehidupan jadi dirinya
berusaha memahami.
Lalu
ada yang berpendapat bahwa didalam Al-qur’an terdapat kisah Nabi yang
sebelumnya belum diketahui. Lalu ada yang menjawab dengan membaca Al-qur’an
orang tersebut menjadi sangat mencintai Al-qur’an. Ada yang menjawab Al-qur’an
sangat mempengaruhi terutama yang menjelaskan tentang pentingnya mencari ilmu
sehingga sangat memotivasi dirinya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang
lebih tinggi. Ada yang menjawab dengan
mengamalkan Al-qur’an dapat berpengaruh karena dengan memahami makna Al-qur’an
dapat membimbing ke jalan yang benar.
Lalu
ada yang menjawab dengan memahami Al-qur’an hidupnya tertata karena dibatasi
oleh aturan-aturan yang ada di dalamnya. Lalu ada yang menjadi teringat dengan
kematian, karena kematian terasa dekat. Lalu ada yang menjawab sejauh ini belum
tersentuh hatinya dalam mengamalkan Al- qur’an. Lalu ada yang menjawab jika
sedang ada masalah dan agar lebih berhati-hati agar tidak melaksanakan
kesalahan tersebut.
Lalu ada yang berpendapat
terkadang ada kejadian yang dia temui dalam kehidupan sehari-hari yang pernah
dibahas di Al-qur’an sehingga menjadikanya teringat kembali. Selanjutnya ada
yang menjawab dengan memahami Al-qur’an seringkali ada ayat-ayat yang memberikan
motivasi dalam perjalanan kehidupan. Ada yang menjawab biasa saja dalam
hidupnya. Jawaban responden pada pertanyaan
yang terakhir ini dengan 17 jawaban orang yang merasa termotivasi dengan
memahami makna Al-qur’an dan 2 orang yang belum merasa termotivasi.
DISCUSSIONS
Pada
hasil penelitian yang telah saya analisis hasilnya dapat di simpulkan bahwa
remaja dengan rentang umur 17 sampai 23 tahun ini dalam mengamalkan Al-qur’an
di berbagai kegiatan mereka lebih sering membacanya dengan intensitas waktu
yang berbeda-beda sesuai dengan kesibukkan masing-masing. Dalam kegiatan
merenungkan serta memahami makna dan arti Al-qur’an jawaban paling banyak
adalah jarang. Dan untuk jawaban apakah dengan memahami dan merenungkan dari
Al-qur’an dapat mempengaruhi kondisi psikologi dan mentalnya jawabanya paling
banyak rata-rata adalah berpengaruh baik
bagi hidupnya. Dalam penelitian ini kelebihan yang diperoleh peneliti adalah
dapat mudahnya mengakses jawaban wawancara responden dengan hanya melalui
google form, namun kekuranganya adalah pada beberapa jawaban ada yang kurang
jelas dan akurat.
Pada penelitian ini
menunjukan hasil bahwa banyak remaja yang mengetahui keutamaan-keutamaan atau
dampak baik bagi yang membaca maupun mengamalkan Al-qur’an namun pada
kenyataanya mereka jarang direnungi makna Al-qur’an itu sendiri karena berbagai
kesibukanya. Dengan mengetahui keutamaan-keutamaan dan dampak baik dari
Al-qur’an mereka mungkin akan termotivasi untuk sering merenungi dan
mengamalkan Al-qur’an ini. Salah satu keutamaanya adalah Al-quran itu syifa
atau Alqur’an sebagai obat, ini terdapat pada surah al-Isra’ ayat 82 yang
bunyinya sebagai berikut :
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ
وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا
Yang artinya “Dan kami turunkan dari
Al-qur’an suatu yang menjadi penawar dan
rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-qur’an itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang zalim selain kerugian.”
Ini menandakan bahwa Al-qur’an dapat
menjadi suatu penawar atau obat dalam segala penyakit dan kesehatan mental.
Beberapa penelitian telah menjelaskan bahwa membaca Al-qur’an cenderung efektif
untuk mengobati penyakit mental.[6] Dan masih banyak lagi ayat yang membahas
tentang keutamaan dari Al-qur’an.
Dalam
suatu penelitian juga pernah membuktikan bahwa air yang dibacakan ayat-ayat
Al-qur’an terdapat perubahan molekul-molekul bentuk air menjadi indah jika
dilihat dengan mikroskop. Ini adalah suatu bentuk nyata bahwa ayat-ayat
Alqur’an memiliki pengaruh bagi sekitarnya. Pada usia remaja adalah masa ini
banyak perubahan pada dirinya baik fisik maupun secara psikologis, masa ini
dimana rentan mendapat masalah-masalah kehidupan . Dalam menyelesaikan segala masalah hendaknya
para remaja selalu merujuk pada Al-qur’an dan hadist. Pada beberapa ayat dalam
Al-qur’an ada yang memiliki artinya “sesungguhnya bersama kesulitan ada
kemudahan”(Q.S Al-Insyirah 94 : 6) dan “Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupanya.”(Q.S Al-Baqarah: 286). Pada
ayat-ayat yang telah dicontohkan tersebut memiliki arti dan makna yang dapat
menjadi motivasi remaja dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan. Pada
penelitian yang dilakukan oleh Ahmad al-qodhi mengenai pengaruh ayat-ayat
Al-qur’an terhadap kondisi psikologis dan fisiologis manusia. Ia membuktikan
Alqur’an mampu menciptakan ketenangan batin (psikologis) dan mereduksi
ketegangan-ketegangan saraf (fisiologis), sehingga dengan semakin sering
membaca Al-qur’an maka mental kita akan terdidik kearah yang lebih positif.[7]
Ada
suatu hadist mengatakan, “ Barangsiapa membaca Al-qur’an dan mengamalkan
isinya, Allah memakaikan pada kedua orang tuanya di hari kiamat suatu mahkota
yang sinarnya lebih bagus dari pada sinar matahari di rumah-rumah di dunia.
(riwayat Abu dawud). hadist ini menjelaskan bahwa keutamaan orang yang membaca
dan mengamalkan isi Al-qur’an mendapat sisi yang sangat bagus. Ada juga hadist
yang mengatakan “Sesungguhnya orang yang
tidak terdapat dalam rongga badanya sesuatu dari Al-qur’an adalah seperti rumah
yang roboh.” (riwayat Tirmidzi).[8] Rumah yang roboh disini
dapat diartikan bahwa jiwa manusia baik mental maupun psikologi yang hidup
tanpa berdampingan dengan Al-qur’an bagaikan badan dengan fondasi yang lemah.
Menurut
riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018 oleh kementrian kesehatan,
gangguan mental emosional dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan sebesar
9,8% untuk usia 15 tahun keatas dan terbanyak terdapat di Sulawesi tengah,
Gorontalo, NTT dan Maluku(Riskesdas,2018). [9] Ini menandakan peran
remaja juga memainkan peranya dalam kesehatan mental tersebut, diantara
permasalahan remaja saat ini yang banyak adalah tentang depresi terutama
mengenai masa depanya, masalah penampilan, masalah akademis, bullying dan masih
banyak lainya. Hal ini tentunya dapat diatasi dengan selalu merujuk dan berpegang teguh pada Al-qur’an. Oleh
sebab itu dianjurkan jika sedang mengalami gangguan kesehatan mental jadikanlah
Al-qur’an sebagai terapi jiwa, bisa dengan melalui takwa, ibadah, sabar, zikir
dan taubat. Itulah nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-qur’an.
Mungkin
pada beberapa remaja seperti pada hasil penelitian, banyak yang mengerti
manfaat dan dampak Al-qur’an bagi kesehatan mental. Namun jarang diterapkan
pada kegiatan sehari-hari. Akan berbeda pada remaja yang sering mengamalkan Hendaknya para remaja dan seluruh para muslim
tidak mengabaikan Alquran baik mengamalkan maupun dari sisi pengkajian,
pemaknaan, dan pemahaman supaya Al-qur’an terasa sangat dekat dan bersahabat
dengan kita. Sempatkanlah untuk selalu mengamalkan dan merenungi Al-qur’an
sesibuk apapun kegiatan kita. Jadikanlah Al-qur’an sebagai pedoman hidup karena
kitab ini memberi petunjuk, rahmat, dan syafaat bagi para pembacanya.
CONSLUSION
Remaja
yang mengisi dalam penelitian ini berumur dengan rentang umur 17-23 tahun.
Dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa
mereka rata-rata sering mengamalkan Al-qur’an namun pada perenungan
jarang dilakukan. Dengan perolehan jawaban 68,4% yang menjawab jarang dengan
berbagai alasan yang melatar belakanginya. Mereka rata-rata pada jawaban telah
mengetahui berbagai keutamaan dari mengamalkan dan merenungi Al-qur’an. Mereka
yang jarang merenungkan Alqur’an kurang motivasi dalam diri sehingga diperlukan
mengetahui keutamaan-keutamaan Al-qur’an.
Salah satu keutamaan dari
Al-qur’an itu terdapat dalam surah Al-Isra ayat 82 yang membahas tentang
asy-syifa. Dalam sebuah penelitian juga Al-qur’an menciptakan ketenangan batin
(psikologis) dan mereduksi ketegangan-ketegangan saraf (fisiologis), sehingga
dengan semakin sering membaca Al-qur’an maka mental kita akan terdidik kearah
yang lebih positif. Jadi. Dalam menyelesaikan segala masalah hendaknya para
remaja selalu merujuk pada Al-qur’an dan hadist.
Dalam penelitian ini
memiliki kekurangan dalam hal teknik
pengumpulan data. Teknik yang digunakan
dengan metode kualitatif menggunakan google form, sehingga dalam keakuratan data kurang jelas karena tidak adanya pertemuan
langsung antara narasumber dan pewawancara. Lalu selanjutnya tidak adanya
dokumentasi baik audio, foto, maupun vidio.
Jawaban si narasumber terkadang ada yang kurang menjelaskan dalam
menjawab soal-soal dalam kuesioner tersebut.
REFERENCES
Safliana eka, 2020, “Al-qur’an sebagai pedoman
hidup manusia”, jihafas jurnal islam hamzah
fansuri, vol.3 no 2
Al-Dausary Mahmud, 2020, “keutamaan
Al-Qur’an”, www.Alaukah.Net
Afandi Muslim, 2018, “Al-qur’an dan
psikologi”, Medina Te: Jurnal
studi Islam,Vol.18 no.1
Mujib Abdul dan Mudzakir Jusuf, 2021, “Nuansa-nuansa
psikologi Islam”, PT Raja Grafindo
persada, Jakarta
Nufus nurun, 2023, “konsep kesehatan
mental dalam Al-qur’an”, mushaf journal,
Vol.3
no.3
Aini syarifah, 2022, “efek membaca Al-quran pada pendidikan
mental”, jurnal pendidikan dan
konseling, vol.4 no.6
Nawawi, “keutamaan membaca dan mengkaji
Al-qur’an”, konsis media
Radiani A widiya, “kesehatan mental
masa kini dan penanganan gangguanya secara alami”,
Jurnal of islamic and law studies,
vol.3 no.1
[1] Eka safliana, “Al-qur’an sebagai pedoman hidup manusia”, vol. 3 N0
2(2020),jihafas jurnal islam hamzah fansuri, 2020, hal.1
[2] Mahmud Al-Dausary, “keutamaan Al-qur’an”, www.Alaukah.Net
(2020), hal.15
[3] Muslim Afandi, Al-Qur’an dan psikologi, vol.18 no.1 (2018),
Medina Te:Jurnal studi Islam 2018 hal.72
[4] Abdul mujib dan Jusuf mudzakir, Nuansa-nuansa psikologi Islam
(Jakarta: PT Raja grafindo persada,2001), hlm.482.
[5] Nurun nufus, konsep kesehatan mental dalam Al-Qur’an, vol.3
No.3 (2023), MUSHAF JOURNAl: jurnal ilmu Al-Qur’an dan Hadist hal.445
[6] Syaripah aini,efek membaca Al-qur’an pada pendidikan mental, vol.4
no.6 (2022), jurnal pendidikan dan konseling 2022 hal. 3
[7] Ibid…hal.6
[8] Nawawi, keutamaan membaca dan mengkaji Al-qur’an, (konsis
media), hal.20
[9] Widiya A radiani, kesehatan mental masa kini dan penanganan
gangguanya secara alami, vol.3 no.1, jurnal of islamic and law
studies,2019,hal.90








