Subscribe Us

6/recent/slider

Entri yang Diunggulkan

Luka Bercerita

Kau tahu apa tentang kesedihan? Kesedihan adalah hujan di saat kemarau; langit menetes ketika bumi tak lagi berharap, dan tak seorang pun me...

Rabu, 23 Juli 2025

Mahasiswa IAT UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan Melakukan KKL di LPTQ Surabaya : Menyerap Semangat Dakwah Qur'ani dari Lembaga Nasional

Surabaya, 17 Juni 2025 – kurang lebih sebanyak 68 mahasiswa dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan, melakukan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) yang berada di Kota Surabaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari serangkaian KKL Surabaya-Bali yang diadakan pada tanggal 16 hingga 21 Juni 2025.

Mahasiswa bersama dosen pembimbing berangkat dari kampus pada malam hari, Senin 16 Juni 2025, sekitar pukul 21. 00 WIB. Kegiatan di LPTQ Surabaya diadakan pada Selasa, 17 Juni 2025, pukul 08.00-12.00 WITA yang menjadi lokasi pertama dalam jadwal KKL tahun ini. Kegiatan ini diharapkan dapat menambah pemahaman mahasiswa mengenai peran penting lembaga Qur’ani dalam pengembangan tilawah, tahfidz, tafsir, dan pembinaan MTQ di Indonesia.

Kegiatan KKL dimulai dengan kata sambutan dari Ketua LPTQ Surabaya, M. Ihsan yang dengan antusias menyambut kedatangan para mahasiswa dan menjelaskan betapa pentingnya proses regenerasi dalam dunia akademis yang berlandaskan nilai-nilai Qur’ani. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa LPTQ lebih dari sekadar fasilitas pelatihan, melainkan juga sebagai tempat untuk membangun karakter dan meneruskan ajaran Qur’ani dengan berbasis pada prestasi dan nilai-nilai yang positif.

“Kami merasa terhormat dikunjungi oleh mahasiswa dari UIN Gus Dur Pekalongan. LPTQ selalu terbuka untuk berkolaborasi dalam menanamkan nilai-nilai Qur’ani kepada para generasi muda yang dilengkapi dengan kemampuan dan integritas,” kata bapak Ihsan

Selama proses kegiatan, para mahasiswa terlibat dalam berbagai sesi, termasuk mengamati program pelatihan tilawah dan tahfidz, berdiskusi mengenai pengelolaan lomba MTQ, serta mendapatkan pengenalan tentang kurikulum pelatihan di LPTQ. Selain itu, mahasiswa juga berkesempatan untuk berdialog dengan para pembina tingkat nasional yang telah membawa qari dan qariah meraih prestasi di tingkat nasional hingga internasional.

Pada sesi diskusi para mahasiswa dengan antusias mengajukan berbagai pertanyaan kritis seputar peran dan aktivitas LPTQ, khususnya dalam ranah pembinaan dan pelatihan tilawatil Qur’an. Salah satu pertanyaannya adalah mengenai keterlibatan LPTQ dalam pelaksanaan lomba-lomba tilawah yang diselenggarakan oleh pihak di luar lembaga tersebut. Menanggapi hal ini, Bapak M. Ihsan selaku narasumber utama dari LPTQ Surabaya menjelaskan secara tegas, “Secara struktural, LPTQ tidak terafiliasi langsung dengan lomba-lomba di luar yang diselenggarakan oleh lembaga resmi seperti LPTQ Provinsi atau Nasional. Namun demikian, kami tetap mendorong para peserta untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan tilawah, termasuk melalui dukungan pelatihan dan pembinaan mandiri.” Pernyataan ini membuka wawasan mahasiswa bahwa LPTQ berperan sebagai fasilitator utama dalam proses pelatihan, bukan sebagai pihak penyelenggara seluruh lomba keagamaan yang ada di masyarakat.

Pertanyaan lainnya menyoroti bagaimana upaya LPTQ menarik minat generasi muda agar tertarik menjadikan lembaga ini sebagai wadah pelatihan Qur’ani. Bapak M. Ihsan menjawab dengan menekankan pada realitas bahwa sebagian besar pembinaan intensif justru dilakukan secara kultural di lingkungan masing-masing, terutama di pondok pesantren. “LPTQ pada prinsipnya menerima peserta yang sudah siap. Pembinaan secara teknis dan mental kebanyakan dilakukan di pesantren atau lembaga pendidikan asal mereka. Di sini kami lebih banyak melakukan penyempurnaan, pelatihan lanjutan, dan pembekalan menjelang kompetisi,” tutur beliau.

Lebih lanjut, Bapak M. Ihsan memaparkan bahwa terdapat sejumlah faktor penting yang berkontribusi dalam mencetak generasi unggul di arena Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Faktor-faktor tersebut mencakup dukungan dari keluarga, keberadaan lembaga pendidikan yang membina potensi anak sejak dini, lingkungan sosial dan budaya yang mendorong kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta adanya pembina yang konsisten mendampingi proses belajar peserta. Keempat elemen ini, menurutnya, merupakan pondasi awal yang krusial sebelum peserta akhirnya dibina dan diarahkan lebih lanjut oleh LPTQ. “Tanpa adanya fondasi kuat dari keluarga dan lembaga, LPTQ tidak bisa bekerja sendirian. Maka, sinergi antar elemen inilah yang justru paling berpengaruh dalam mencetak qari dan qariah yang berprestasi,” imbuh Pak Ihsan.

Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama dan pemberian cenderamata sebagai bentuk apresiasi atas sambutan hangat dari pihak LPTQ. Kunjungan ini menjadi salah satu pengalaman bermakna dalam perjalanan KKL mahasiswa IAT UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan, yang tidak hanya memperkaya pengetahuan akademik tetapi juga memperluas perspektif tentang dinamika kelembagaan Qur’ani di tingkat nasional.


Penulis : Shofa Siti Rohmah, Ela Sukmasari

Editor : Dep.Kominfo HMPS IAT

0 comentários:

Posting Komentar