Pagelaran Wayang Kulit sebagai Media Pendidikan Karakter Bagi Generasi Muslim
Oleh : Nadira Sya’baniyah
Istilah "wayang" berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti menuju kepada roh, Dewa atau Tuhan. Istilah wayang ini juga didefinisikan oleh para ahli, salah satunya menurut R.T. Josowidagdo yang mengartikan wayang sebagai ayang-ayang (bayangan) yang bisa dilihat di sebuah kelir (bentangan kain putih yang disoroti cahaya). Menurut sejarah, pagelaran wayang kulit merupakan bagian dari sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa terdahulu sebelum adanya agama Hindu-Buddha. Maka dari itu, wayang bukan hanya untuk hiburan semata. Lebih daripada itu, wayang sangat erat kaitannya dengan upacara penyembahan roh nenek moyang karena wayang dilambangkan sebagai perwujudan atau bayangan dari roh nenek moyang. Saat setelah masuknya Islam ke tanah Jawa, wayang disesuaikan dengan ajaran Islam sehingga konsep wayang sebagai perwujudan dari roh dihilangkan, karena menurut ajaran Islam hal tersebut termasuk bentuk kesyirikan.
Wayang merupakan kesenian asli bangsa Indonesia yang telah ada sekitar 10 abad yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya prasasti peninggalan Raja Balitung (899-911 M). Prasasti tersebut berisikan kisah pewayangan yaitu cerita Bima Kumara, dan dalam prasasti tersebut juga disebutkan seorang dalang dan upah yang diterimanya pada zaman itu. Kesenian wayang kulit ini memang luar biasa, karena eksistensinya tidak termakan oleh zaman. Banyak orang yang suka dengan kesenian yang menyugahkan rangkaian cerita bayangan dari boneka dengan bentuk pipih yang terbuat dari kulit hewan, kemudian diberi warna serta diberi tangkat untuk menggerakkannya. Pagelaran wayang ini biasanya berisi kisah-kisah yang diambil dari cerita klasik seperti kisah Ramayana dan Mahabharata, atau dari cerita gubahan yang dimainkan oleh seorang dalang dengan diiringi musik gamelan.
Dalam setiap pagelaran wayang akan selalu ada nilai-nilai kebaikan yang dapat diambil dan diteladani, karena pada dasarnya cerita yang terkandung dalam pagelaran wayang merupakan gambaran peliknya kehidupan manusia, sehingga didalamnya juga banyak disampaikan petuah atau nasihat agar manusia dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Tokoh-tokoh dalam pewayangan menggambarkan watak atau karakter manusia secara umum. Ada tokoh yang mempunyai watak baik, namun ada juga tokoh yang mempunyai watak buruk. Setiap akhir dari lakon yang diceritakan dalam pagelaran wayang selalu dimenangkan oleh kebaikan, dan kejahatan dapat dikalahkan. Hal tersebut menjadi pengingat manusia bahwa sehebat apapun kejahatan dilakukan pasti akan kalah juga dengan kebaikan.
Tokoh-tokoh dalam pewayangan sangat banyak dengan membawakan karakter yang beragam pula. Keunikan dari pagelaran wayang ini dibanding dengan pagelaran seni lainnya adalah apabila tokoh-tokoh dalam drama lain biasanya dibedakan menjadi dua yakni tokoh yang sepenuhnya baik (protagonis) dan tokoh yang sepenuhnya jahat (antagonis), maka dalam pewayangan tidak ada tokoh yang dianggap sepenuhnya baik ataupun dianggap sepenuhnya jahat. Hal ini sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan yang pastinya tak luput dari dosa dan kesalahan. Sebagai contoh dalam cerita Mahabharata, tokoh Pandawa yang terdiri dari lima orang ksatria yang dianggap teladan, sejatinya tidaklah sempurna. Yudhistira sebagai tokoh tertua Pandawa pernah berjudi disamping ia selalu memegang kejujuran dan keadilan. Begitu juga tokoh Bima yang digambarkan memiliki kebiasaan kurang baik, yaitu berbicara dengan bahasa ngoko (kasar) dengan siapapun di samping ia adalah seorang ksatria yang gagah berani dalam menegakkan kebenaran.
Dalam kisah Mahabharata tidak pernah ketinggalan pula punakawan yang terdiri dari 4 tokoh yaitu Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Walisongo menciptakan tokoh punakawan tersebut sebagai gambaran karakter seorang muslim yang harus teguh dan kuat baik fisik maupun pendiriannya, ramah dan mampu bersosialisasi dengan baik, selalu menerapkan prinsip cinta dan ikhlas dalam kesehariannya, serta takwa kepada Allah tuhan seluruh alam. Dalam kisah Mahabharata juga terdapat banyak lakon, salah satu yang terkenal adalah lakon Dewa Ruci, dimana didalamnya menceritakan kegigihan Bima dalam menuntut ilmu kepada gurunya yaitu Resi Drona. Lakon tersebut mempunyai nilai edukatif yang tinggi khususnya bagi para generasi muda yang sedang berjuang menuntut ilmu. Lakon Dewa Ruci mengajarkan bahwa seorang murid harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, jangan mudah putus asa ketika menemukan kesulitan dalam menjalankannya. Menuntut ilmu juga harus dibarengi dengan ketekunan dan kesabaran, sehingga nantinya apa yang di cita-citakan dapat tercapai.
Adapun tokoh-tokoh dalam pewayangan yang menarik untuk kita kulik lagi, misalnya tokoh Abiyasa. Tokoh Mahabharata yang satu ini melambangkan nilai religius, karena ia rela meninggalkan takhta kerajaannya dan lebih memilih menjadi seorang Resi. Hal tersebut dalam pandangan Islam ada kaitannya dengan tasawuf yaitu sifat zuhud, dimana seorang yang ingin mensucikan jiwanya dan ingin lebih dekat dengan Allah cenderung lebih mementingkan hal-hal yang menyangkut kehidupan akhirat daripada hal-hal yang bersifat keduniawian semata. Lain halnya dengan tokoh Kurawa yang terdiri dari 100 orang bersaudara. Tokoh Kurawa melambangkan keserakahan manusia untuk memenuhi segala keinginannya yang bersifat duniawi. Diceritakan dalam kisah Mahabharata, Kurawa selalu memusuhi Pandawa sepupunya. Mereka bertekad ingin menyingkirkan para Pandawa, dan menguasai kerajaan Astina dengan berbagai cara, walaupun cara yang ditempuhnya penuh dengan kecurangan. Pelajaran yang dapat kita ambil dari tokoh Kurawa ini adalah jangan terlalu berambisi dalam mengejar kehidupan duniawi, karena besar kemungkinan kita akan terjerumus kedalam sifat tamak atau serakah, sehingga nantinya kita bisa saja menempuh cara yang salah untuk memenuhi keinginan kita.
Adanya wayang ini dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan karakter terutama bagi para generasi muda saat ini. Dalam setiap pagelaran wayang kulit, akan selalu ada nilai-nilai teladan yang dapat kita ambil. Nilai teladan yang pertama adalah nilai keislaman. Sudah kita ketahui dari penjelasan sebelumnya, wayang yang dahulu digunakan untuk upacara- upacara pemujaan roh nenek moyang, beralih fungsi menjadi media penyebaran agama Islam di masa Walisongo, terutama oleh Sunan Kalijaga. Beliaulah yang menciptakan lakon Jamus Kalimasada, kata “kalimasada” artinya kalimat syahadat. Setiap kali mendalang, Sunan Kalijaga selalu memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam lakon yang dimainkan. Nilai yang kedua adalah nilai filosofis. Adegan-adegan dalam pagelaran wayang ini berkaitan satu sama lain. Tiap-tiap adegannya itu melambangkan fase-fase kehidupan manusia, dari mulai manusia lahir sampai kembalinya manusia kepada Tuhan yang menciptakannya. Nilai-nilai yang lain seperti nilai etika, nilai sosial, dan nilai nasionalisme dapat kita ambil dari cerita Ramayana, Mahabharata atau cerita-cerita gubahan lainnya.
Melihat dari kehidupan saat ini, di mana nilai-nilai teladan seperti nilai etika, nilai budaya, nilai nasionalisme, nilai kejujuran, dan nilai keadilan sudah mulai luntur. Maraknya kasus korupsi, kasus pencurian dan kasus pelecehan seksual menjadi bukti lunturnya nilai-nilai teladan tersebut. Keadaan semacam ini menunjukkan pentingnya menerapkan pendidikan karakter pada generasi muda. Pendidikan karakter bisa dilakukan melalui media pagelaran wayang kulit karena baik dari lakon, tokoh, maupun bentuk dari tokoh wayang itu sendiri semuanya mempunyai nilai-nilai yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pendidikan karakter bagi generasi muda tidak hanya bisa diambil dari pendidikan formal di sekolah saja, melainkan bisa juga melalui media seni pagelaran wayang kulit.
Daftar Pustaka
Koentjaraningrat. (1992). Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.
Purwanto, Sigit. (2018). Pendidikan Nilai dalam Pagelaran Wayang Kulit dalam Ta’allum: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 6 No.1 (Hlm.1-30). Salatiga: IAIN Salatiga.






0 comentários:
Posting Komentar