Subscribe Us

6/recent/slider

Entri yang Diunggulkan

Luka Bercerita

Kau tahu apa tentang kesedihan? Kesedihan adalah hujan di saat kemarau; langit menetes ketika bumi tak lagi berharap, dan tak seorang pun me...

Sabtu, 11 Maret 2023

DAKWAH SUNAN KALIJAGA DI TANAH JAWA

 DAKWAH SUNAN KALIJAGA DI TANAH JAWA

Oleh : Nadira Sya’baniyah 

Editor : Aisyah Nurul Aini

Apabila dibandingkan dengan para sunan yang lain, Sunan Kalijaga lah Wali yang paling tersohor di Jawa bahkan hingga kini, karena nama beliau begitu melekat di hati masyarakat Jawa. Hal ini tentu saja karena peran beliau dalam menegakkan agama Islam di Pulau Jawa, khususnya di daerah Jawa bagian tengah. Metode dakwahnya sangat kreatif dan berbeda dengan sunan-sunan yang lain karena mampu memadukan ajaran Islam dengan kultur atau budaya lokal yang ada di Jawa pada saat itu. Sunan Kalijaga berhasil memasukkan ajaran-ajaran Islam kedalam tradisi Jawa, sehingga dengan demikian masyarakat Jawa yang notebennya sangat terpengaruh ajaran Hindu-Buddha bisa dengan mudah menerima Islam.

Beliau sebagai salah satu tokoh sejarah yang sangat berpengaruh dalam dakwah Islam di tanah Jawa sangat menarik untuk dikaji. Maka dari itu, dalam artikel ini penulis akan menjalaskan bagaimana kisah perjalanan Sunan Kalijaga dalam berdakwah di tanah Jawa yang mana artikel ini bersumber dari beberapa literatur, baik buku maupun jurnal.


Biografi Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir di Tuban, Jawa Timur pada tahun 1450 M. Nama asli beliau adalah Raden Said. Sunan Kalijaga juga mempunyai beberapa gelar diantaranya yaitu Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban dan Raden Abdurrahman. Beliau merupakan putra dari Adipati Tuban yakni Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur.

Sebenarnya ada beberapa versi mengenai sosok dari Sunan Kalijaga, baik tentang gelar Kalijaga yang disematkan padanya maupun mengenai asal usulnya. Adapun mengenai gelar atau nama Sunan Kalijaga menurut versi masyarakat Cirebon ialah berasal dari nama Desa Kalijaga didaerah Cirebon. Konon, beliau ini pernah menetap di desa tersebut dan sering berendam di sungai. Dalam istilah Jawa disebut dengan jaga kali. Maka, dengan demikian masyarakatpun memberinya gelar Sunan Kalijaga.

Sedangkan terkait dengan asal usulnya ada dua versi. Versi pertama mengatakan bahwa Sunan Kalijaga berasal dari keturunan Jawa asli. Dan versi kedua menyebutkan bahwa beliau berasal dari keturunan Arab. Namun demikian, tampaknya versi kedualah yang lebih mendekati kebenaran apabila ditinjau dari silsilahnya. Van Den Berg mengatakan bahwa Sunan Kalijaga merupakan keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah saw.

Pendapat pertama menyatakan bahwa Sunan Kalijaga merupakan orang asli Jawa keturunan Adipati Wengker (Ponorogo) yang juga ayah dari Aria Wiraraja, Pendapat ini didasarkan pada catatan historis Babad Tuban dan berdasarkan data dari keluarga besar keturunan Sunan Kalijaga.

Di dalam babad tersebut diceritakan, Aria Teja alias Abdul Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, yaitu Aria Dikara, dan mengawini putrinya. Dari perkawinan tersebut Aria Teja kemudian memiliki putra bernama Aria Wilatikta. Catatan Babad Tuban ini diperkuat juga dengan catatan masyhur dari penulis dan bendahara Portugis yakni Tome Pires (1468 - 1540). Menurut catatan Tome Pires, penguasa Tuban pada tahun 1400 M adalah cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban yakni Aria Wilakita, dan Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said merupakan putra Aria Wilatikta.

Adapun pendapat yang kedua yang menyatakan Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab. Pendapat kedua ini disandarkan pada keterangan penasehat khusus Pemerintah Kolonial Belanda, Van Den Berg (1845 – 1927). Seperti yang sudah disinggung diatas, Van Den Berg menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai ke Rasulullah ﷺ. Sejarawan lain seperti De Graaf juga menilai bahwa Aria Teja I (Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, sepupu Rasulullah ﷺ.

Berikut asal-usul Sunan Kalijaga menurut beberapa versi :

Asal-usul Sunan Kalijaga dari Versi Jawa :

Adipati Ponorogo

Arya Wiraraja atau Banyak Wide.

Arya Adikara atau Arya Ranggalawe.

Arya Teja I (Bupati Tuban).

Arya Teja II.

Arya Teja III.

Raden Sahur atau Tumenggung Wilatikta, (beristeri Dewi Nawang Arum)

Sunan Kalijaga.


Asal-usul Sunan Kalijaga dari Versi Arab :

Sayyidina Abbas (paman Rasulullah Muhammad SAW),

Sayyidina ibnu Abbas

Syekh Abdul Wahid Qornain.

Syekh Wahid Rumi.

Syekh Mudzakir Rumi

Syekh Khoromis

Syekh Abdullah

Syekh Abdur Rahman atau Arya Teja I.

Ronggo Tedjo Laku atau Syekh Zali atau Arya Teja II.

Aryo Tedjo atau Arya Teja III.

Raden Sahur.

Raden Syahid (Said) atau Sunan Kalijaga. 


Asal-usul Sunan Kalijaga Versi China :

Adipati Ponorogo

Arya Wiraraja atau Banyak Wide

Arya Adikara atau Ranggalawe.

Arya Teja I (Bupati Tuban).

Arya Teja II.

Arya Teja III.

Nawang Arum, bersuami Raden Sahur (Tumenggung Wilatikta),

Sunan Kalijaga.


Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq dan dikaruniai tiga putra, yaitu Raden Umar Said alias Sunan Muria, Dewi Ruqayyah, dan Dewi Sofiyah. Sementara itu dalam buku yang berjudul 'Pustaka Darah Agung' disebutkan bahwa Sunan Kalijaga pernah berguru kepada Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) di Cirebon, kemudian Sunan Kalijaga menikah dengan Putri dari Sunan Gunung Jati yaitu Dewi Sarokah dan mempunyai 5 orang anak yaitu:

Kanjeng Ratu Pembayun (Istri Sultan Trenggono).

Nyai Ageng Penenggak, yang nantinya menikah dengan Kyai Ageng Pakar.

Sunan Hadi, yang menjadi Panembahan Kali menggantikan Sunan Kalijaga sebagai Kepala Perdikan Kadilangu. 

Raden Abdurrahman

Nyai Ageng Ngerang

Sejak saat masih muda, Sunan Kalijaga telah menampakkan berbagai kelebihan yang ada dalam dirinya. Beliau merupakan seorang yang cerdas, terampil, pemberani, berjiwa besar, dan memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap sesama manusia. Beliau juga tidak hanya ahli dalam bidang agama, namun juga ahli dalam bidang pemerintahan dan kemiliteran. Khususnya di bidang angkatan laut, karena Sunan Kalijaga mahir dalam pembuatan kapal laut yang dibuat dari kayu jati.

Sunan Kalijaga awalnya merupakan seorang yang nakal dan berandalan. Namun, ia kemudian bertobat setelah bertemu dengan Sunan Bonang. Mengenai masa remaja Sunan Kalijaga, ada dua versi cerita yaitu:

Versi pertama mengisahkan bahwa Raden Said atau Sunan Kalijaga merupakan seorang yang gemar mencuri dan merampok. Tetapi, hasil curiannya tidak serta-merta ia gunakan sendiri, melainkan ia bagi-bagikan kepada rakyat jelata. Konon, Raden Said ini sudah disuruh mempelajari agama Islam ketika usianya masih kecil. Namun, karena ia melihat kondisi lingkungan di sekitarnya yang kontras dengan ajaran agama, maka jiwanya memberontak. Ia melihat rakyat jelata yang hidupnya sengsara, sementara para bangsawan Tuban hidup dalam kemegahan dan berfoya-foya. Rakyat diperas dan diwajibkan untuk membayar upeti dengan nilai yang tinggi. Oleh karena itu, Raden Said terpanggil hatinya untuk mencuri harta Kadipaten dan kemudian dibagikan kepada rakyat yang miskin.

Dalam versi yang kedua diceritakan bahwa Raden Said atau Sunan Kalijaga adalah benar-benar seorang perampok dan pembunuh yang jahat. Menurut versi ini Raden Said merupakan seorang yang nakal sedari kecil, lalu tumbuh menjadi penjahat yang sadis. Ia suka merampok dan membunuh, dan juga suka berjudi. Selain itu, digambarkan bahwa sosok Raden Said adalah seorang yang sangat sakti mandraguna. Karena kesaktiannya itulah beliau mendapat julukan Lokajaya.

Nah itulah dua versi mengenai masa remaja atau masa muda dari Sunan Kalijaga. Kita tidak bisa mengklaim versi mana yang benar. Mengenai hal ini, yang jelas Sunan Kalijaga memang merupakan mantan perampok. Karena itulah ia tenar dengan nama berandal Lokayaja.

Singkat cerita, akhirnya Sunan Kalijaga bertemu dengan Sunan Bonang. Pada saat itu, Lokajaya alias Sunan Kalijaga hendak merampok Sunan Bonang dengan cara menghadang kemudian mengancam Sunan Bonang agar memilih menyerahkan harta atau nyawanya. Dengan hati tenang dan sabar, Sunan Bonang memanggil Lokajaya dengan sebutan jebeng agar luluh hatinya. Ia berkata kepada Lokajaya :

"Sareh... sareh dhisik, Jebeng. Kowe mbutuhake pendok iki apa? Oo Gampang, gampang! Mengko dak wenchake. Nanging sadurunge, aku arep takon dhisik. Sapa jenengmu Jebeng? Jebeng Syahid, geneyo kowe teko banjur duweni tindak sung nasar kaya mengkene iki? Elinga Jebeng, karo wong tuwamu kang alim lan sugeh ngelmu, berbudi bawa leksana, gelem tetulung marang sapada-padane. Geneya kowe ora gelem nuruni tindake wong tuwamu. Apa sebabe?"

Dari kisah ini kita tahu bahwa Sunan Bonang menyampaikan nasehatnya dengan kalimat yang lemah lembut supaya Lokajaya bersikap halus dan luluh hatinya. Apa yang diinginkan oleh Lokajaya itu mudah saja diberikan oleh Sunan Bonang. Namun sebelumnya, Sunan Bonang ingin bertanya terlebih dahulu mengenai Siapa nama dari Lokajaya. Namanya ialah Syahid. Padahal Syahid itu adalah nama yang bagus, tapi telah terlanjur mempunyai tindak-tanduk yang tidak baik. Sunan Bonang memberikan nasehat supaya Lokajaya selalu ingat bahwa orang tuanya merupakan seorang yang baik, berilmu dan berbudi pekerti yang luhur serta senang menolong kepada sesamanya. Lalu kenapa lokajaya tidak mewarisi perilaku baik dari orang tuanya. Suasana sempat hening sejenak, karena memberikan kesempatan kepada Lokajaya untuk meresapi kata-kata nasihat yang lemah lembut tersebut. Kemudian Sunan Bonang berkata lagi : "Kepriye Jebeng? Kowe isih mbutuhake donya brana? Yen sing kok goleki kuwi, gampang banget Jebeng, gampang. Coba kae jupuken kabeh!" (Bagaimana Syahid, Apakah masih tetap membutuhkan dunia yang fana ini. Jika masih ingin mencarinya, sangatlah mudah. Silakan ambil saja semuanya!).

Seperti itulah metode dakwah yang dilakukan Sunan Bonang kepada sang Berandal Lokajaya yang akhirnya menjadi muridnya.

Setelah Sunan Kalijaga bertaubat dari perbuatannya yang dulu. Kemudian berguru juga kepada Sunan Ampel. Ia juga pernah diperintahkan supaya menuju ke wilayah Cirebon untuk berguru kepada Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Kemudian ia diperintahkan agar berkhalwat atau bertapa di tepi sungai. Setelah itu beliau kembali ke Demak, dan oleh dewan Walisongo diberi gelar Kalijaga. Tempat beliau bertapa saat itu masih membekas dalam bentuk petilasan yang masih ada sampai saat ini dan berada di sebuah desa bernama Desa Kalijaga.

Sunan Kalijaga telah tercelup ke dalam ilmu pengetahuan Islam dari para gurunya, sehingga menjadikan beliau seorang yang terhormat dan berwibawa. Setelah berguru kepada Sunan Bonang, Sunan Ampel, dan Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga banyak menguasai beragam ilmu pengetahuan seperti tauhid, ilmu syari'at, ilmu kanuragan, ilmu kesehatan, ilmu kesenian, dan ilmu-ilmu lainnya. Oleh sebab itu, beliau terkenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang tauhid, mahir dalam bidang syari'at dan menguasai ilmu mengenai dakwah Islam. Bahkan, Sunan Kalijaga juga ahli dalam bidang sastra, sehingga beliau terkenal sebagai pujangga yang banyak melahirkan syair-syair indah dalam bahasa Jawa.

Dikalangan masyarakat Jawa, Sunan Kalijaga merupakan salah satu dewan dari Wali Songo yang paling tersohor dan paling dekat dengan rakyat. Beliau merupakan ulama' besar dan seorang wali yang mempunyai Kharisma tersendiri diantara para wali lainnya, dan beliaulah yang paling terkenal diantara masyarakat, baik masyarakat atas maupun bawah. Keistimewaan Sunan Kalijaga di hati masyarakat Jawa ialah karena Sunan Kalijaga berkeliling dalam mendakwahkan Islam, dari satu tempat ke tempat yang lain. Sehingga ia dikenal sebagai Syekh Malaya, yakni mubaligh yang mendakwahkan agama Islam sembari mengembara.

Sunan Kalijaga menjalani hidup dalam masa yang panjang hingga melintasi tiga kekuasaan, yakni sejak awal Kerajaan Majapahit, Kerajaan Demak, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, sampai pada masa Kerajaan Pajang. Hampir seluruh hidupnya beliau kerahkan untuk mendakwahkan Islam di bumi Jawa.

Sunan Kalijaga diperkirakan wafat pada tahun 1580 M. Maka dari itu, hidup beliau diperkirakan lebih dari 100 tahun yakni dari awal pertengahan abad ke-15 hingga akhir abad ke-16 M. Sunan Kalijaga kemudian dimakamkan di Kadilangu, daerah yang masih merupakan bagian dari daerah pusat Kerajaan Demak. Lokasinya sekitar 1,5 km sebelah tenggara Masjid Agung Demak.

Metode dan Media Dakwah Sunan Kalijaga

Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga tidak mengubah apa yang sudah melekat dan menjadi tradisi di Jawa, melainkan melanjutkan tradisi berdakwah dari sang guru yang sangat toleran. Sehingga Sunan Kalijaga dikenal sebagai penyebar agama Islam yang menggunakan media seni dalam berdakwah. Namun, Sunan kalijaga tetap tidak meninggalkan nilai-nilai keperayaan lama masyarakat Jawa, terlebih yang sudah menjadi tradisi atau kebiasaan hidup sehari-hari. Melainkan beliau menyisipkan nilai-nilai baru kedalam agama, kepercayaan, tata cara, dan tradisi yang sudah ada sebelumnya yang disesuaikan dengan ajaran Islam. 

Nilai-nilai lama dibungkus selapis demi selapis,dan digeser sedikit demi sedikit dengan cara yang halus. Sehingga, dengan dakwah yang demikian, maka Nusantara, khususnya Pulau Jawa dapat diislamkan dengan mudah. Media tradisional (yang sekaligus merupakan hasil karyanya) yang digunakan Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam yaitu wayang kulit, tembang, gerebeg, upacara sekaten dan tradisi suronan.

Pertunjukan Wayang Kulit

Media yang sesuai digunakan untuk mendakwahkan Islam adalah wayang, karena wayang merupakan salah satu jenis kesenian tradisional yang saat itu sangat digemari masyarakat Jawa. Wayang sebelum disisipkan ajaran-ajaran Islam masih serba mistik dan penuh dengan kemusyrikan, sehingga perlu dirubah agar sesuai dengan ajaran Islam. Supaya nantinya ajaran-ajaran Islam dapat tersiar dan tertanam didalam hati masyarakat.

 Sunan Kalijaga terkenal sebagai pelopor seni wayang yang juga menjadi media dakwah. Beliau merupakan seorang dalang yang ahli memainkan wayang kulit. Oleh sebab itulah, Sunan Kalijaga dikenal sebagai Wali Sanga penyebar agama Islam yang mengislamkan masyarakat Jawa dengan media pertunjukan wayang. Siapapun yang ingin menonton pertunjukan wayang kulit yang didalangi Sunan Kalijaga, maka harus membayarnya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan cara ini, berbondong-bondonglah masyarakat Jawa memeluk agama Islam.

Wayang kulit selain menjadi media dakwah juga menjadi media pendidikan, karena menampilkan tokoh-tokoh pewayangan yang mempunyai filosofinya masing-masing dan setiap tokoh atau lakonnya menggambarkan watak manusia yang beragam. Dalam kisah atau ceritanya pasti disisipi nilai-nilai tentang tasawuf dan akhlakul karimah. Karena Sunan Kalijaga sangat paham, audiens yang dihadapi merupakan para pemeluk agama Hindu atau Buddha yang keseluruhan ajarannya terpusat pada ajaran kebatinan.

Tembang 

Selain menggunakan media Wayang, Sunan Kalijaga dalam dakwahnya juga menggunakan media tembang. Dimana tembang ini dipakai untuk menggambarkan atau memuji Allah menggantikan puji-pujian yang biasa dilantunkan pemeluk agama Hindu-Buddha untuk memuji Dewa mereka. Selain itu, tembang juga digunakan sebagai media perlindungan. Seperti halnya Kidung Kawedar yang memiliki beberapa nama lain, yaitu Kidung Sarira Ayu (nama ini diambil dari bait ketiga), atau Kidung Rumekso Ing Wengi (sesuai dengan bunyi bait di awal kidung sebagaimana kita yang lazim menyebut surah al-Ikhlash dengan surah Qulhu, atau surah al-Insyirah dengan sebutan surah Alam Nasyrah). Kidung ini dianggap memiliki kesaktian dan bisa menjadi perlindungan bagi yang menyanyikannya. Namun, sebenarnya keampuhan atau kesaktian itu akan terwujud jika yang menyanyikan kidung itu menjalani laku atau tirakat tertentu, seperti berpuasa “mutih” (makan nasi putih tanpa garam), berpuasa selama 40 hari, dan kidung itu di senandungkan pada malam hari tatkala sunyi sepi, dan mengurangi tidur. Tembang lainnya yaitu tembang lir-ilir dan suluk singgah-singgah yang mempunyai filosofi dan makna luar biasa yang terkandung didalamnya.

Gerebeg

Garebeg adalah sebuah acara keagamaan yang diadakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Upacara keagamaan ini awalnya merupakan perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu yang mengadakan upacara keagamaan untuk memperingati Dewa Brahma. Kemudian oleh Kanjeng Sunan Kalijga, hal ini diganti dengan nilai dakwah menjadi peringatan atas kelahiran Nabi Muhammmad saw. Adapun mantra-mantra yang ada diganti juga dengan pembacaan doa, dan diiringi dengan dua kalimat syahadat.

Upacara Sekaten

kata sekaten berasal dari bahasa Arab syahadatain yaitu dua kalimat syahadat, suatu kalimat yang menjadi syarat seseorang untuk masuk Islam. Upacara Sekaten yang diadakan setiap tahun, memiliki tujuan untuk  mengajak masyarakat Jawa agar memeluk agama Islam. Di dalam bahasa Jawa kata sekaten berasal dari kata sekati yang artinya seimbang dalam menimbang hal baik atau buruk. Adapun menurut bahasa arab dapat diartikan sebagai berikut Sakatain (menghilangkan dua perkara, yaitu sifat lacut dan menyeleweng), atau Sakhotain (menanamkan dua perkara, yaitu ngurungkubi budi suci dan menghambakan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa). Syahadatain (menyakini keberadaan dua perkara, yaitu syahadat tauhid (yakin akan keesaan Allah) dan syahadat rasul (yakin Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah).

Tradisi Suronan

Kata suronan berasal dari bahasa Arab asy-Syura, yang berarti hari ke-10 bulan Muharram. Dimana hari pertama bulan Muharram merupakan perayaan memperingati tahun baru Islam. Perhitungan ini dimulai ketika Nabi Muhammad dan para sahabat hijrah dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M. Peristiwa ini menjadi awal penetapan dalam perhitungan tahun Islam dan dianggap sebagai kebangkitan sejarah Islam. Tradisi Suronan merupakan upacara untuk menyambut tahun baru Jawa yang dilaksanakan menjelang tanggal 1 suro. Dalam tradisi Jawa, tradisi suronan dianggap sangat penting karena merupakan saat yang paling tepat untuk mengadakan intropeksi diri terhadap apa yang telah dilakukan selama setahun penuh. Intropeksi diri dilakukan dengan menjalankan tirakat seperti tidak tidur semalam, puasa ataupun, tidak bicara (tapa bisu).


Adapun cara atau metode yang dipakai oleh Sunan Kalijaga dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat di tanah Jawa adalah sebagai berikut:

Pertama, Sunan Kalijaga memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat dengan cara menyampaikan sedikit demi sedikit, supaya masyarakat yang waktu itu masih berpegang teguh pada keyakinan Hindu-Buddha tidak kaget atau tidak menolak. Selain itu, dalam berdakwah Sunan Kalijaga juga menghindari cara-cara yang bisa menyinggung perasaan masyarakat.

Kedua, Sunan Kalijaga memadukan ajaran-ajaran agama Islam dengan kepercayaan agama Hindu-Buddha. Sehingga, masyarakatpun tidak merasa  bahwa dirinya telah mengubah kepercayaan lamanya. Ketiga, cara atau metode lain yang dipakai Sunan Kalijaga dalam upaya mengislamkan masyarakat Jawa adalah dengan merubah secara halus beragam adat-istiadat atau kebudayaan Hindu-Buddha dan kepercayaan nenek moyang dengan tetap melaksanakan upacara-upacara tradisional, namun didalam upacara tersebut disisipi ajaran Islam.

Metode dakwah yang digunakan Sunan Kalijaga diatas sangat efektif. Hal ini dibuktikan dengan menggunakan metode kesenian dan akulturasi budaya, Sunan Kalijaga berhasil mengislamkan sebagian besar Adipati di Jawa, diantaranya yaitu Adipati Pandanaran, Adipati Kartasura, Adipati Kebumen, Adipati Banyumas, dan Adipati Pajang. Bahkan, raja pertama Kerajaan Pajang, yaitu Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, tak lain merupakan murid kesayangan Sunan Kalijaga.

Peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga

Kanjeng Sunan Kalijaga mewarisi banyak peninggalan, diantaranya yaitu :

Masjid Sunan Kalijaga

Masjid Sunan Kalijaga merupakan salah satu peninggalan Sunan Kalijaga yang masih ada hingga saat ini. Masjid Sunan Kalijaga terletak di Cirebon, tepatnya di desa Kalijaga. Lokasinya bersebelahan dengan petilasan pertapaan Sunan Kalijaga. Masjid ini, khususnya oleh masyarakat Cirebon, dikenal dengan nama Masjid Sunan Kalijaga.

Masjid Kadilangu

Masjid Kadilangu merupakan masjid berikutnya yang menjadi peninggalan Sunan Kalijaga. Disebutkan disebuah prasasti yang ada di pintu masjid sebelah dalam yang bertuliskan "menika tiki mongso ngadekipun asjid ngadilangu hing dino ahad wage tanggal 16 sasi dzulhijjah tahun tarikh jawi 1456", (ini waktu berdirinya masjid Kadilangu pada hari Ahad wage tanggal 16 bulan Dzulhijjah tahun tarikh Jawa 1456). Tulisan aslinya bertuliskan menggunakan huruf Arab.

Rompi Ontokusumo

Berdasarkan banyak riwayat, dapat diketahui bahwa rompi ontokusumo ini merupakan hadiah yang diberikan langsung oleh Rasulullah Saw. Diceritakan dalam sebuah kisah, Rompi Ontokusum didapatkan oleh Sunan Kalijaga setelah beliau selesai mengkhatamkan al-Qur'an. Pada saat itu, bertepatan dengan malam Jum'at Legi, Sunan Kalijaga bersama delapan sunan lainnya yang sedang berkumpul di Masjid Agung Demak, kemudian, secara tiba-tiba datanglah sepucuk surat yang berisikan pesan bahwa Sunan Kalijaga akan mendapatkan hadiah berupa kulit kambing. Kulit kambing tersebut nantinya harus dibuat menjadi rompi. Maka, diberilah nama rompi itu dengan nama Rompi Ontokusumo.

Keris Kyai Carubuk

Selain rompi ontokusumo, peninggalan Sunan Kalijaga yang berupa pusaka lainnya yaitu keris kyai carubuk. Keris ini dibuat oleh Empu Supa. Menurut kisah, ketika diminta membuat keris ini, Empu Supa terkejut karena Sunan Kalijaga hanya memberikan besi yang hanya sebesar sebuah biji asam. Tetapi dengan ukuran segitu, besi tersebut ternyata ketika sudah mejadi sebuah keris memiliki berat yang luar biasa. Sehingga, Empu Supa pun terheran-heran karena berat besi dengan berat jadinya tidak sepadan.



Api Alam

Peninggalan pusaka Sunan Kalijaga selanjutnya disebut api alam. Api ini merupakan api abadi yang sampai saat ini masih terus menyala. Api ini terletak di daerah Mrapen, Jawa Tengah. Api alam ditemukan pertama kali oleh Sunan Kalijaga. Ketika Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya ke tanah saat perjalanan dakwahnya, secara tiba-tiba berhembus gas yang kemudian menjadi api dengan ukuran diameter 1,5 meter. Api ini dimanfaatkan oleh Empu Supa untuk membuat keris sebelum akhirnya ditimbun dengan menggunakan batu kapur supaya tidak membahayakan orang lain.

Sendang atau Sumur

Sendang atau sumur ini juga terletak di daerah Mrapen, Jawa Tengah. Air dari sumur peninggalan Sunan Kalijaga ini pada awalnya sangat jernih. Namun, saat ini telah berubah warna menjadi keruh. Air sumur ini mendidih setelah Empu Supa menyepuhkan keris yang dibuatnya (keris kyai carubuk) ke dalam sumur tersebut.

Batu Bobot

Peninggalan pusaka dari Sunan Kalijaga  lainnya yaitu batu bobot. Batu bobot merupakan batu berat yang sengaja ditinggalkan Sunan Kalijaga dalam perjalanan dakwahnya di Mrapen. Letaknya di dekat Api Alam.


Teladan Sunan Kalijaga Bagi Generasi Muda 

Metode dakwah yang dilakukan Kanjeng Sunan Kalijaga sangat menarik, wayang dan gamelan menjadi sarana untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa. Melalui tembang atau kidung berbahasa Jawa, Sunan Kalijaga merangkul masyarakat untuk lebih mendalami dan menghayati ajaran agama Islam, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Contohnya tembang ilir-ilir, kidung rumekso ing wengi sangat popular dikalangan masyarakat Jawa, bahkan hingga saat ini.

Sunan Kalijaga dikenal dekat dengan para bangsawan keraton. Namun tak hanya itu, juga dekat dengan masyarakat umum lebih-lebih lagi masyarakat kelas bawah. Para pangeran dan raja dari berbagai kerajaan, mulai dari Kerajaan Demak, Jipang Panolan, Pajang dan Mataram Islam mengenal Sunan Kalijaga sebagai seorang yang bijak.

Sunan Kalijaga gemar sekali membantu masyarakat dalam menghadapi segala problematika kehidupan. Beliau selalu memberikan solusi atas berbagai persoalan. Maka dari itu, kemudian Sunan Kalijaga dikenal sebagai gurunya orang Jawa.

Sunan Kalijaga sangat peduli dengan tradisi. Berbagai  macam tradisi yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Islam, kemudian dirubah sedikit demi sedikit dengan cara menyisipkan nilai-nilai Islami kedalam tradisi tersebut. Sebagai comtoh, media wayang, yang semula menampilkan gambar manusia secara utuh, diubah menjadi sekadar gambar mati atau dari samping sehingga tidak lagi menyerupai manusia.

Melalui wayang inilah, Sunan Kalijaga menanamkan nilai ketauhidan, ajaran syari’at, serta nilai akhlak yang berlandaskan ajaran Islam. Dari ajaran Sunan Kalijaga ini, Islam Nusantara dan moderat tumbuh di Jawa.

Banyak sekali teladan yang bisa kita ambil dari sosok Kanjeng Sunan Kalijaga ini. Kita sebagai generasi muda, terlebih lagi orang Jawa, haruslah bangga dan lebih mencintai serta menghargai adat, tradisi, dan kebudayaan kita yang luhur dan penuh dengan filosofi yang mendalam. Dari Sunan Kalijaga, kita juga bisa mengambil teladan bahwa dalam mengemban misi dakwah kita harus santun, damai dan tetap menjunjung tinggi toleransi, karena sejatinya Islam merupakan rahmatan lil ‘alamiin. Sehingga tak cocok dan salah apabila Islam didakwahkan dengan cara kekerasan. Maka apabila sikap Sunan Kalijaga diterapkan di era sekarang, akan tercipta moderasi dalam beragama di Indonesia.


Daftar Pustaka

Abdullah, Rachmad. 2015. Walisongo ‘Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa (1404-1482 M). Solo: Al-Wafi.

Abu Amar, Imron. 1992. Sunan Kalijaga Kadilangu Demak. Kudus: Menara Kudus.

Aizid, Rizem. 2016. Sejarah Islam Nusantara.Yogyakarta: DIVA Press.

https://jateng.inews.id/berita/sunan-kalijaga.

https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Sunan_Kalijaga.

M. Syuhada, Maulana. 2013. Maryam Menggat: Menguak Propaganda Save Maryam. Yogyakarta: Bunyan.

Novitasari, Melinda. 2018. Skripsi: “Metode Dakwah Dengan Pendekatan Kultural Sunan Kalijaga”. Lampung: UIN Raden IntanLampung.

Saksono Sandi Berlian, Widji. 1995. Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo. Bandung: Mizan.

.

0 comentários:

Posting Komentar