Workshop
kali ini mengusung tema “Dari Kalam ke Layar: Menelusuri Jejak Digitalisasi
Al-Qur’an.” Sebuah tema yang menarik sekaligus relevan di era globalisasi saat
ini, di mana teknologi berkembang pesat dan membawa pengaruh besar dalam
berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam praktik keagamaan umat Islam. Salah
satu ibadah yang turut terdampak adalah membaca Al-Qur’an.
Sebagaimana
diketahui, Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam telah melalui perjalanan
panjang sejak diturunkan kepada Rasulullah SAW pada abad ke-7 M. Dari tradisi
hafalan para sahabat, penulisan di masa Khulafaur Rasyidin, hingga kini kita
temui dalam bentuk mushaf cetak, bahkan aplikasi digital di ponsel. Pertanyaan
yang menarik kemudian muncul: bagaimana perjalanan mushaf Al-Qur’an dari
tulisan tangan hingga tampil di layar digital?
Berangkat
dari pertanyaan tersebut, HMPS IAT menghadirkan dua narasumber luar biasa,
yakni Bapak Heriyanto, M.S.I., dosen sekaligus Sekretaris P2B UIN K.H.
Abdurrahman Wahid, serta Ibu Khikmawati, Lc., JF Pentashih Mushaf Al-Qur’an
dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Indonesia.
Kegiatan
dimulai pukul 12.30 WIB dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne UIN,
dilanjutkan sambutan dari Ketua HMPS IAT serta Ketua Panitia. Usai pembukaan, acara
inti dipandu oleh Novia Anisatul Azizah, mahasiswa IAT angkatan 2024, yang
bertugas sebagai moderator.
Pemateri
pertama, Ibu Khikmawati, membawakan materi bertajuk “Rasm dan Dabt Mushaf
Standar Indonesia (MSI)”. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan tiga kategori
MSI, yaitu Rasm Utsmani, MSI Bahriyyah, dan MSI Braille. Beliau juga
menguraikan proses pentashihan Al-Qur’an di LPMQ Indonesia, sejarah penulisan
mushaf sejak masa sahabat, hingga bentuk-bentuk mushaf yang tercatat dalam
sejarah Islam.
Sesi
kedua diisi oleh Bapak Heriyanto, M.S.I., yang membahas tema Digitalisasi
Al-Qur’an. Beliau membuka dengan membedakan istilah digitasi dan digitalisasi
untuk memperluas wawasan peserta.
“Digitalisasi bukan sekadar memindahkan
Al-Qur’an ke layar, tapi memindahkan kesadaran umat ke dimensi baru agar wahyu
tetap hidup di ruang digital,” ungkap Pak Heri.
Beliau
juga menyoroti peluang inovasi yang bisa dikembangkan mahasiswa, seperti
multi-language, tajwid interaktif, audio tilawah, dan search engine Al-Qur’an.
Menurutnya, Indonesia perlu memiliki situs Al-Qur’an resmi yang dapat menjadi
rujukan akademik.
“Coba
bayangkan jika kita punya website Al-Qur’an yang saat kita mencari satu tema,
langsung muncul berbagai tafsir yang relevan,” tambahnya penuh harapan.
Setelah
pemaparan materi, sesi dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Para mahasiswa
tampak antusias, terutama ketika membahas maraknya aplikasi Al-Qur’an digital
yang belum sepenuhnya lolos pentashihan Kemenag atau LPMQ. Hal ini menunjukkan
sikap kritis mahasiswa IAT UIN Gus Dur dalam menyikapi perkembangan
digitalisasi keagamaan.
Di
akhir sesi, Ibu Khikmawati mengajak peserta untuk praktik langsung mentashih
mushaf sebagai bentuk Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari kegiatan ini. Dengan
membandingkan Mushaf Madinah dan Mushaf Kemenag pada surat Al-Baqarah ayat 25,
mahasiswa diajak mencari perbedaan yang tampak di antara keduanya. Latihan ini
berlangsung seru dan interaktif.
Secara
keseluruhan, kegiatan berjalan lancar dan penuh semangat. Diskusi aktif antara
narasumber dan mahasiswa menciptakan suasana keilmuan yang hidup. Harapannya,
workshop ini mampu membuka wawasan mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
terhadap perkembangan zaman, khususnya bagaimana memahami dan menjaga
keotentikan Al-Qur’an di era digital.
Penulis
: Yusuf Akhmal Peno
Editor : Dept.Kominfo






Semoga Ilmunya berkah dan bermanfaat 🤲
BalasHapus