Peristiwa
Isra' Mi’raj merupakan salah satu di antara mukjizat yang diberikan Allah S.W.T.
kepada Rasul-Nya yaitu Nabi Muhammad SAW. sebagai wujud penghormatan. Isra' yaitu perjalanan Nabi Muhammad SAW. dimulai dari Masjidil Haram sampai ke Masjidil Aqsha. Sedangkan Mi'râj, yaitu perjalanan Nabi Muhammad SAW. naik
dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha (langit tertinggi). Perjalanan ini
menjadi awal diperintahkanya shalat lima waktu dalam sehari semalam. Karena
peristiwa Isra’ bersamaan dengan peristiwa Mi’raj, maka kedua kata tersebut
senantiasa terangkai menjadi Isra’ dan Mi’raj. Peristiwa itu terjadi pada 27 Ra’jab, setahun sebelum Nabi
hijrah ke Madinah.[1]
Peristiwa
Isra' Mi’raj juga menjadi pelipur lara bagai Rasuluallah SAW setelah paman dan istri
beliau meninggal dunia. Peristiwa ini juga sebagai penghibur setelah
beliau mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan
dari penduduk Thâif. Peristiwa Isra' Mi’raj diabadikan dalam Al-Qur’an dan
Hadits. Allah SWT. menyebutkan peristiwa ini di dua tempat dalam Al-Qur`ân,
yaitu QS. Al-Isrâ Ayat 1 dan QS. An-Najm
Ayat 13-18. Sementara detail dari
peristiwa ini juga terdapat dalam dalam banyak hadits.[2]
Dari Anas Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah
S.A.W. bersabda: "Aku
diberi Buraq, yaitu seekor hewan putih yang lebih besar dari himar dan lebih
kecil dari keledai. Aku mengendarainya. Dia membawaku hingga sampai ke
Baitul Maqdis. Lalu aku mengikatnya di tempat para nabi menambatkan. Aku masuk
ke Baitul Maqdis dan shalat dua raka'at. Setelah itu aku keluar. Malaikat
Jibril menghampiriku dengan membawa satu wadah berisi khamr dan satu wadah
berisi susu. Aku memilih susu. Malaikat Jibril Alaihissalam berkata: 'Engkau
telah (memilih) sesuai dengan fithrah,' setelah itu, ia membawaku naik ke
langit." Dan dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Nabi S.A.W. shalat
bersama para nabi sebelum naik ke langit.
Nabi
Muhammad S.A.W. dibawa naik melewati beberapa langit. Pada setiap langit,
Malaikat Jibril minta agar dibukakan pintu langit lalu ia ditanya:
"Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, Muhammad. Penghuni
langit itupun menyambutnya. Di setiap langit Rasuluallah bertemu dengan para
Rasul terdahulu dan mereka semua mengucapkan salam dan memberi penghormatan
kepada beliau. Kemudian Rasulullah S.A.W. melanjutkan perjalanan sampai ke
Shidratul-Muntaha (langit tertinggi). Di sinilah, Allah Azza wa Jalla
mewajibkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. dan umatnya untuk menegakkan shalat 50
kali sehari semalam. Akan tetapi dalam perjalanan kembali dari mi'raj ini,
ketika sampai di tempat Nabi Musa AS. Rasuluallah ditanya: "Apa yang telah diwajibkan Rabbmu atas umatmu?"
Rasulullah S.A.W. menjawab pertanyaan ini, sehingga Musa AS. meminta
kepada Rasuluallah S.A.W. untuk kembali menghadap Allah dan minta keringanan. Dan
Allah S.W.T pun mengabulkanya dengan menguranginya sebanyak 5 shalat. Namun
setaiap kali Rasulallah bertemu Nabi Musa AS. beliau menyarankan untuk meminta
keriganan lagi. Rsuluallah pun bolak-balik menghadap Allah dan setiap kali
menghadap selalu dikurangi 5 shalat. Hingga akhirnya, kewajiban shalat itu
hanya tinggal lima kali sehari semalam. Setelah itu, ketika Nabi Musa As
meminta Nabi Muhammad S.A.W. memohon keringanan lagi, maka Rasulullah S.A.W.
berkata: "Aku sudah memohon kepada Rabbku sehingga aku merasa malu,"
lalu terdengar suara: "Aku telah menetapkan yang Aku fardhukan, dan Aku
telah memberikan keringanan kepada para hamba-Ku".[3]
Mencermatai kisah sigakat dari Isra' Mi’raj di atas kita
dapat memetik beberapa pelajaran. Yang pertama,
begitu pentingnya shalat, sehingga
untuk menyampaikan perintah ini Allah mengundang Rasuluallah secara langsung
tanpa melaluai perantara wahyu. Perjalanan mi'raj yang membawa oleh-oleh lima
shalat fardhu ini, tidak patut untuk ditinggalkan kaum Muslim. Kita seharausnya
bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada Rasuluallah, karena jika saja
saat itu Rasuluallah langsung meneriama perintah itu, dan Allah tidak
memberikan keringanan, , maka ada lima puluh shalat yang harus kita laksanakan
sehari semalam dan hal itu sangat berat bagi umat Islam.
Kedua,
Peristiwa ini menunjukan kemuliaan dan
keistimewaan Rasuluallah di hadapan Allah serta keutamaan beliau dibanding makhluk yang lainya. Rasulullah dapat
melalui sidratul Muntaha yang bahkan Malaikat Jibril pun tidak sanggup
melewatinya. Tidak hanya itu, beliau juga dapat bolak-balik degan bebas untuk
menemui dan meminta keriganan kepada Allah, dan Allah pun selalu merigankanya.
Pengalaman tersebut adalah bukti bahwa pengetahuan Nabi Muhammad S.A.W telah mencapai
pada derajat haqq yaqin. Itu adalah derajat pengetahuan tertinggi yang melalui
pengetahuan yaqin, ilm al-yaqin, 'ayn yaqin. Dengan derajat pengetahuan itu,
Nabi Muhammad S.A.W mampu melihat sesuatu yang dalam jangkuan pengetahuan kita hanya
sebuah fenomena aksidental.[4]
Allahu’alam bil sawwam..
[1] Salwati
Salahuddin, Isra’ Mi’raj Studi Analisis Sejarah dalam Pendidikan Islam,
Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak (JIPA), Vol. II, No. 3,
Desember 2017- Mei 2018, Hlm.157.
[2] Aceng
Zakaria, Studi
Analisis Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Menurut Al-Qur’an dan Hadits, Al Tadabbur: Jurnal Ilmu Alquran Dan Tafsir Vol: 04 No. 1
Mei 2019 Hlm.101.
[3] Ibid, Hlm.103-104.
[4] Miswari
danDzul Fahmi , Historitas dan Rasionalitas
Isra’ Mi’raj, Jurnal At-Tafkir Vol. XII
No. 2 Desember 2019. Hlm.164.







0 comentários:
Posting Komentar