Subscribe Us

6/recent/slider

Entri yang Diunggulkan

Luka Bercerita

Kau tahu apa tentang kesedihan? Kesedihan adalah hujan di saat kemarau; langit menetes ketika bumi tak lagi berharap, dan tak seorang pun me...

Kamis, 11 Maret 2021

PERINTAH SHALAT SEBAGAI OLEH-OLEH RASULUALLAH DARI ISRA MI’RAJ

R I L I S.
Author: Kholifah R. | Publisher: Diah Fany A.


Peristiwa Isra' Mi’raj merupakan salah satu di antara mukjizat yang diberikan Allah S.W.T. kepada Rasul-Nya yaitu Nabi Muhammad SAW. sebagai wujud penghormatan. Isra' yaitu perjalanan Nabi Muhammad SAW. dimulai dari Masjidil Haram sampai ke Masjidil Aqsha. Sedangkan Mi'râj, yaitu perjalanan Nabi Muhammad SAW. naik dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha (langit tertinggi). Perjalanan ini menjadi awal diperintahkanya shalat lima waktu dalam sehari semalam. Karena peristiwa Isra’ bersamaan dengan peristiwa Mi’raj, maka kedua kata tersebut senantiasa terangkai menjadi Isra’ dan Mi’raj. Peristiwa itu terjadi pada 27 Ra’jab, setahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah.[1]

Peristiwa Isra' Mi’raj juga menjadi pelipur lara bagai Rasuluallah SAW setelah paman dan istri beliau meninggal dunia. Peristiwa ini juga sebagai penghibur setelah beliau  mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari penduduk Thâif. Peristiwa Isra' Mi’raj diabadikan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Allah SWT. menyebutkan peristiwa ini di dua tempat dalam Al-Qur`ân, yaitu QS. Al-Isrâ  Ayat 1 dan QS. An-Najm Ayat 13-18.  Sementara detail dari peristiwa ini juga terdapat dalam dalam banyak hadits.[2]

Dari Anas Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah S.A.W. bersabda: "Aku diberi Buraq, yaitu seekor hewan putih yang lebih besar dari himar dan lebih kecil dari keledai. Aku mengendarainya. Dia membawaku hingga sampai ke Baitul Maqdis. Lalu aku mengikatnya di tempat para nabi menambatkan. Aku masuk ke Baitul Maqdis dan shalat dua raka'at. Setelah itu aku keluar. Malaikat Jibril menghampiriku dengan membawa satu wadah berisi khamr dan satu wadah berisi susu. Aku memilih susu. Malaikat Jibril Alaihissalam berkata: 'Engkau telah (memilih) sesuai dengan fithrah,' setelah itu, ia membawaku naik ke langit." Dan dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Nabi S.A.W. shalat bersama para nabi sebelum naik ke langit.

Nabi Muhammad S.A.W. dibawa naik melewati beberapa langit. Pada setiap langit, Malaikat Jibril minta agar dibukakan pintu langit lalu ia ditanya: "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, Muhammad. Penghuni langit itupun menyambutnya. Di setiap langit Rasuluallah bertemu dengan para Rasul terdahulu dan mereka semua mengucapkan salam dan memberi penghormatan kepada beliau. Kemudian Rasulullah S.A.W. melanjutkan perjalanan sampai ke Shidratul-Muntaha (langit tertinggi). Di sinilah, Allah Azza wa Jalla mewajibkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. dan umatnya untuk menegakkan shalat 50 kali sehari semalam. Akan tetapi dalam perjalanan kembali dari mi'raj ini, ketika sampai di tempat Nabi Musa AS. Rasuluallah ditanya: "Apa yang telah diwajibkan Rabbmu atas umatmu?" Rasulullah S.A.W. menjawab pertanyaan ini, sehingga Musa AS. meminta kepada Rasuluallah S.A.W. untuk kembali menghadap Allah dan minta keringanan. Dan Allah S.W.T pun mengabulkanya dengan menguranginya sebanyak 5 shalat. Namun setaiap kali Rasulallah bertemu Nabi Musa AS. beliau menyarankan untuk meminta keriganan lagi. Rsuluallah pun bolak-balik menghadap Allah dan setiap kali menghadap selalu dikurangi 5 shalat. Hingga akhirnya, kewajiban shalat itu hanya tinggal lima kali sehari semalam. Setelah itu, ketika Nabi Musa As meminta Nabi Muhammad S.A.W. memohon keringanan lagi, maka Rasulullah S.A.W. berkata: "Aku sudah memohon kepada Rabbku sehingga aku merasa malu," lalu terdengar suara: "Aku telah menetapkan yang Aku fardhukan, dan Aku telah memberikan keringanan kepada para hamba-Ku".[3]

Mencermatai  kisah sigakat dari Isra' Mi’raj di atas kita dapat memetik beberapa pelajaran. Yang pertama, begitu pentingnya shalat, sehingga untuk menyampaikan perintah ini Allah mengundang Rasuluallah secara langsung tanpa melaluai perantara wahyu. Perjalanan mi'raj yang membawa oleh-oleh lima shalat fardhu ini, tidak patut untuk ditinggalkan kaum Muslim. Kita seharausnya bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada Rasuluallah, karena jika saja saat itu Rasuluallah langsung meneriama perintah itu, dan Allah tidak memberikan keringanan, , maka ada lima puluh shalat yang harus kita laksanakan sehari semalam dan hal itu sangat berat bagi umat Islam.

Kedua, Peristiwa ini menunjukan kemuliaan dan keistimewaan Rasuluallah di hadapan Allah serta keutamaan beliau dibanding makhluk yang lainya. Rasulullah dapat melalui sidratul Muntaha yang bahkan Malaikat Jibril pun tidak sanggup melewatinya. Tidak hanya itu, beliau juga dapat bolak-balik degan bebas untuk menemui dan meminta keriganan kepada Allah, dan Allah pun selalu merigankanya. Pengalaman tersebut adalah bukti bahwa pengetahuan Nabi Muhammad S.A.W telah mencapai pada derajat haqq yaqin. Itu adalah derajat pengetahuan tertinggi yang melalui pengetahuan yaqin, ilm al-yaqin, 'ayn yaqin. Dengan derajat pengetahuan itu, Nabi Muhammad S.A.W mampu melihat sesuatu yang dalam jangkuan pengetahuan kita hanya sebuah fenomena aksidental.[4] Allahu’alam bil sawwam..



[1] Salwati Salahuddin, Isra’ Mi’raj Studi Analisis Sejarah dalam Pendidikan Islam, Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak (JIPA), Vol. II, No. 3, Desember 2017- Mei 2018, Hlm.157.

[2] Aceng Zakaria, Studi Analisis Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Menurut Al-Qur’an dan Hadits, Al Tadabbur: Jurnal Ilmu Alquran Dan Tafsir Vol: 04 No. 1 Mei 2019 Hlm.101.

[3] Ibid, Hlm.103-104.

[4] Miswari danDzul Fahmi , Historitas dan Rasionalitas Isra’ Mi’raj, Jurnal At-Tafkir Vol. XII No. 2 Desember 2019. Hlm.164.

0 comentários:

Posting Komentar